
"Humps, bosan banget ternyata seharian diam di dalam apartemen ini. Pekerjaan rumah pun sudah aku selesaikan, biasanya akhir pekan aku selalu menghabiskan waktuku di pasar dengan berjualan kue, bercanda gurau dengan pedagang lain. Dan sekarang… aku terjebak di tempat ini sendirian. Mana mas Daniel tidak pulang ke sini lagi. Mas,,, aku kangen."
Ya, Adiva merindukan suaminya. Sudah seminggu ia tak bertemu dengan Daniel. Sempat ia ingin mengirim pesan, sekedar menanyakan keadaannya. Namun ia urungkan kembali mengingat statusnya yang hanya istri muda dan itu pun hanya secara agama belum sah dimata negara.
Ia takut, jika mengirim pesan yang membacanya ternyata Anindira. Tak ingin rumah tangga yang dibangun suaminya selama bertahun-tahun, hancur seketika hanya karena ulahnya yang hanya ingin mengetahui kabar dari sang suami.
"Mas,,, apakah kamu juga kangen sama kayak aku?" gumam Adiva kembali.
Ia pun beranjak menuju balkon, menatap hiruk pikuk kendaraan dibawah sana. Lamunannya kembali melayang pada Daniel, pria tampan yang mampu menjerat hatinya.
"Adiva!" panggil Daniel.
Ia pun terlonjak kaget mendengar Daniel yang tiba-tiba saja memanggilnya dari belakang. Hampir saja ia terjatuh jika saja Daniel tidak segera menangkap tubuh Adiva.
Netra mereka kembali bertemu, untuk sesaat Daniel dan Adiva terdiam dalam posisi yang cukup intim. Adiva begitu terpesona dengan penampilan Daniel hari ini dengan kaca mata minus yang selalu bertengger dihidungnya yang mancung.
"Ehmm,,," dehem Daniel.
"Eh maaf," ucap Adiva malu.
Ia pun menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti udang rebus.
"Mas sejak kapan pulang?" tanya Adiva ragu.
Tatapannya turun kebawah, tak ada keberanian untuk kembali menatap Daniel.
Daniel menyentuh dagu Adiva, membuat si empu mendongkak."Jika bicara itu lihat orangnya. Mengerti!"
Adiva mengangguk tanda mengerti apa yang diucapkan Daniel. Dielusnya puncak kepala Adiva dengan lembut, membuat ia pun tersenyum.
"Ganti bajumu! Kita akan pergi ke pantai," ucap Daniel.
"Hah! Beneran mas kita akan pergi ke pantai?" tanya Adiva memastikan.
"Ya."
__ADS_1
"Tapi aku belum memasak untuk bekal kita disana."
"Kita akan makan dan juga menginap disana."
"Kenapa harus menginap?"
"Aku tidak ingin pulang pergi dalam sehari. Itu membuatku lelah," ucap Daniel berbohong.
Ia ingin membuat Adiva merasa bahagia di akhir pekan ini. Karena itu Daniel sengaja mengajaknya pergi ke pantai.
Adiva bergegas menuju kamarnya, mengganti baju serta mengemasi beberapa potong pakai untuk dibawanya.
"Ayo mas, aku sudah siap," ucap Adiva.
Daniel beranjak dari duduknya, menggandeng sebelah tangan Adiva. Berjalan keluar menuju loby apartemen. Melihat sikap Daniel yang hangat, membuat sebuah senyuman terbit di wajah Adiva.
Mereka berdua kini sudah di dalam mobil mewah Daniel. Mobil dengan merek Aston Martin, sebuah hypercar yang ditandatangani oleh mantan CEO Andy Palmer ini dirancang oleh mantan mitra teknis Formula 1 Adrian Newey dari Red Bull Racing. Mobil mewah termahal ini didukung oleh Cosworth V12 yang disedot secara alami. Valkyrie juga memiliki semua bahan untuk menjadi mesin yang monumental.
Kini mobil itu pun membelah jalanan,melaju kencang tanpa hambatan di jalan tol. Dering handphone berbunyi, mengalihkan sejenak perhatian Daniel.
"Hallo honey," ucap Daniel.
"Ok, see you. "
Daniel mematikan teleponnya. Kembali ia pun fokus pada jalanan.
"Anindira??" tanya Adiva memastikan. Meskipun ia tahu tanpa harus bertanya. Hatinya sedikit tercubit melihat sang suami berbicara dengan wanita lain walau itu istri pertamanya sendiri.
"Ya," jawab singkat Daniel.
Adiva tidak kembali bertanya. Dari kaca mobil, ia hanya menatap jalanan dengan deretan beberapa pohon dan juga bangunan rumah yang dilaluinya.
"Apa kamu lapar?" tanya Daniel,"kalau kamu lapar kita bisa singgah terlebih dahulu di restoran atau kafe."
"Tidak, terimakasih."
__ADS_1
Daniel merasa heran dengan perubahan sikap Adiva. Ia pun kembali bertanya,"apa kamu baik-baik saja?"
"Ya," jawab Adiva lesu.
Waktu yang ditempuh untuk sampai pantai hanya satu jam. Sebelum pergi ke pantai, Daniel dan Adiva melakukan Cek-in terlebih dahulu disalah satu hotel disana. Daniel memesan dua kamar.
"Ini kunci kamarmu," ucap Daniel.
Adiva mengernyitkan dahinya,"apa kita tidak satu kamar."
"Aku tidak ingin mengganggu privasimu, makanya aku pesan dua kamar."
Dengan berat hati Adiva menerima kunci kamarnya. Ia berharap bisa satu kamar dengan Daniel, tetapi si suami tidak peka terhadap keinginannya.
🦋🦋🦋
Hari sudah menjelang sore. Adiva berjalan menyusuri bibir pantai beralaskan pasir putih. Sesekali pasangnya air laut menyentuh kaki jenjang Adiva.
Ingin rasanya ia berteriak dan berkata,"aku cinta kamu mas Daniel."
Namun semua itu terasa mustahil baginya. Ia menyadari bahwa rasa cintanya terhadap Daniel, hanyalah rasa sebelah pihak.
Daniel yang hendak keluar hotel, melihat Adiva yang duduk sendirian di atas hamparan pasir putih. Hembusan angin laut, membuat rambut panjang Adiva melambai-lambai serta warna jingga yang mengenainya, bagaikan sebuah siluet lukisan hidup.
Sejenak Daniel terpesona akan kecantikan Adiva, namun ia menampik semua itu. Ia hanya akan mencintai Anindira, istri pertamanya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Daniel.
"Aku hanya ingin menata perasaanku. Disini cukup tenang." jawab Adiva tanpa melihat Daniel.
"Perasaan apa yang ingin kamu tata?"
"Perasaan cintaku terhadapmu!" ucap Adiva dengan gamblang.
__ADS_1
Hening… itu yang kini sedang terjadi. Daniel terdiam, mendengar pernyataan cinta dari istri mudanya. Namun beberapa saat ia pun menjawab,"maaf Adiva, rasa cintaku hanya untuk Anindira seorang. Maaf sekali lagi, aku tidak mungkin membalas cintamu."
Mendengar jawaban dari Daniel membuat Adiva tersenyum kecut, ia menyadari kesalahannya yang sudah menyimpan rasa terhadap suami orang. Walau kenyataannya,ia pun berhak mencintai suaminya.