Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 21: Dua Garis Biru


__ADS_3

Sang fajar mulai menampakan dirinya, memberi kehangatan bagi semua mahluk penghuni bumi. Tak lupa dengan embu yang menguap, memberi kesegaran serta semangat memulai hari. 


Di dalam ruangan yang pengap dan gelap, seorang Daniel berhadapan dengan lelaki yang sudah babar belur dan juga lusuh. Pandangannya tertunduk begitu tahu siapa yang ada di depannya. 


"Ini, Tuan. Salah satu anak buah dari orang suruhan nyonya Anindira," ucap Kevin. 


Daniel memandang lelaki tersebut dari dari ujung rambut sampai kaki. 


"Katakan!"


Namun, lelaki itu tidak bergeming. Tubuhnya gemetar. Ia takut akibat dari apa yang ia katakan nanti. 


"Kevin!"


Pria itu pun langsung bersujud dan memelas. Memegang  kaki kiri Daniel. 


"Tuan, saya mohon jangan buang saya ke tempat terpencil ataupun memberi suntikan virus. Kasihanilah saya, ada keluarga yang menunggu kepulangan saya," tutur lelaki tersebut,"saya akan mengatakan apa yang ingin anda ketahui. Tapi saya mohon kepada Tuan, untuk melepaskan saya setelah saya memberitahukan semuanya."


"Baiklah, cepat katakan!" ujar Daniel penuh penekanan. 


"Saya hanya anak buah dari bos Agus. Bos Agus di bayar oleh nyonya Anindira untuk terus memantau gerak-gerik dari wanita yang bernama Adiva. Hingga saat mengetahui wanita tersebut kabur dari rumah sakit dan anda kesulitan menemukan nya, nyonya Anindira merencakan kecelakaan dan kematian palsu wanita itu. Denga seenn mensabotase taksi yang dipesan nyonya dan menyewa wanita panggilan yang postur tubuhnya hampir sama dengan Adiva," jelas pria itu panjang lebar. 


Ia masih bersimpuh di kaki Daniel. 


Sejenak mata Daniel terpejam, seakan tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. 


"Lalu, bagaimana dengan kartu Identitasnya?" tanya pelan Daniel. 


"Kartu Identitas itu palsu, Tuan. Semata-mata hanya untuk meyakinkan anda saja."


Daniel terdiam, bisa-bisanya ia di tipu oleh istrinya sendiri. Ia berbalik dengan langkah cepat. 


"Tuan, tolong lepaskan saya!" teriak lelaki tadi. 


"Kevin, lepaskan pria itu. Dan ingat! Pantau selalu dia. Aku ingin tahu orang yang bernama Agus itu. Pasti setelah pergi dari sini, ia akan menemui bosnya."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


🦋🦋🦋


Sementara di sebuah rumah, Anindira sedang bersantai di taman belakang. Ia duduk sambil menyesap teh herbal kesukaannya sambil berselancar di sosial media. 


Sebuah notifikasi dari aplikasi whatsapp muncul. 


'Nyonya, wanita itu telah kembali ke apartemen. Tapi saya kesulitan untuk mengintai setiap gerak geriknya, karena ia dijaga oleh dua orang bodyguard.'


Anindira meremas kuat handphone-nya, setelah membaca pesan tersebut. Amarahnya kembali bergejolak. 


"Aku harus memikirkan rencana lain untuk menyingkirkan wanita sial itu. Bagaimanapun caranya," gumam Anindira. 


Tak berselang lama, terikan Daniel menggema ke seluruh ruangan. 


"ANINDIRA… ANINDIRA…."


"Daniel…" ucap pelan Anindira. 


Ia pun bergegas menghampiri asal suara tersebut. 


"Ikut aku." Daniel mencengkram tangan si istri dan menariknya menuju kamar mereka. 


Brakk… 


Dengan keras Daniel menutup pintu, hingga Anindira pun terperanjat di buatnya. Tangan istri yang tadi dicengkram, dihempaskannya. 


"Katakan padaku!! Apa yang kamu lakukan dibelakangku?" tanya Daniel,"JAWAB!!"


"A-aku… aku…."


"JAWAB DENGAN BENAR!!" bentak Daniel. 


Bukannya menjawab, Anindira malah semakin menundukkan kepala, membuat Daniel memijat pelipisnya. 

__ADS_1


"Anindira yang aku kenal tak akan pernah menyakiti orang lain, apalagi sampai menghilangkan nyawa. Dan… Aku seperti tidak mengenal sosok Anindira yang kini ada dihadapanku. Aku benar-benar kehilangan sosok wanita yang aku cinta," tutur tegas Daniel. 


Anindira pun mengangkat kepala. Ia menatap nyalang, seakan kemarahan mulai menghampiri dan menguasai dirinya. Dengan berani ia berkata,"semua ini gara-gara wanita sial itu dan juga kamu Daniel!! Kalian berdua yang membuat diriku menjadi seperti ini! Aku sangat takut kehilangan cintamu, dan ketakutan itu menjadi nyata. Kamu mulai mencintai wanita j*****g itu."


"ANINDIRA!!"


"Kenapa, hah?! Jangan pernah berani menyangkalnya, Daniel! Demi untuk mendapatkan cintamu kembali, aku bahkan dengan tega mengorbankan dan melenyapkan nyawa orang lain, hanya untuk sebuah rencana kematian palsu. Tapi, semua yang kulakukan tak ada gunanya, itu hanya membuat dirimu semakin mencintainya."


"CUKUP!! Suka tidak suka kamu harus menerima Adiva sebagai istriku, dan aku juga akan bersikap adil terhadap kamu juga Adiva. Namun, untuk sekarang entah bagaimana aku harus bersikap padamu, setelah mengetahui perbuatanmu," tegas Daniel. 


"Lalu mana janjimu, hah?! Yang tidak akan mencintai dan juga menceraikannya. Mana janjimu yang akan selalu setia mencintaiku? Nyatanya semua itu hanyalah kebohongan saja."


"ANINDIRA CUKUP!! Jangan menguji kesabaranku!"


Daniel membuka pintu dan pergi. 


"Ahhhkkk…."


Tubuh Anindira luruh, bahunya bergetar dengan suara isak tangis. Rasanya begitu sakit, mengetahui orang yang dicintai, kini telah berpaling.


🦋🦋🦋


Dua bulan berlalu tanpa terasa. Setiap minggu Daniel membagi waktu untuk kedua istrinya, ia menuruti permintaan Adiva untuk tidak menceraikan Anindira. Istri muda pria kaya itu, tidak ingin rumah tangga yang si suami bersama istri pertamanya hancur begitu saja, hanya karena kehadiran dirinya. Walaupun memang benar adanya kalau Adiva penyebab retaknya hubungan Daniel dan Anindira yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. 


Pagi ini Adiva sudah beberapa kali muntah. Perutnya terasa mual, seperti di aduk-aduk. Tubuhnya lemas dan juga terasa pusing. Adiva mengambil minyak kayu putih, lalu dioleskan di pelipis dan juga perutnya. 


Tiga puluh menit kemudian keadaannya mulai membaik. Adiva membuka handphone,mencari artikel tentang keadaan yang di alaminya barusan. 


Seketika matanya melotot membaca artikel tersebut, dimana yang tertulis disana apa yang dialami Adiva adalah tanda-tanda kehamilan. Bergegas Ia melihat kalender, kapan terakhir kali tamu bulanannya datang. 


"Apa?! Sudah bulan aku telat," gumam Adiva,"aku harus segera ke apotek untuk memastikan hal tersebut."


Dengan terburu-buru Adiva segera pergi ke apotek di seberang jalan apartemennya. Ia membeli tiga buah alat tes kehamilan yang paling akurat. Sesampainya di dalam apartement, ia membaca petunjuk dari penggunaan alat tes kehamilan tersebut. 


"Ok, besok pagi aku harus memastikannya. Tenang Adiva… tenang… hufft," ucap Adiva mencoba menenangkan dirinya. 

__ADS_1


Pagi pun menjelang. Adiva bangun dan segera masuk ke kamar mandi dengan membawa tespek yang dibelinya kemarin. Ia mengikuti sesuai petunjuk yang tertulis. Dengan harap-harap cemas Adiva menunggu hasil dari alat yang ada di depannya. 


Lima menit berlalu, dengan tangan bergetar dan keringat dingin. Adiva mengambil ketiga alat tes kehamilan tersebut dengan mata terpejam. Perlahan ia membuka matanya, dan ternyata ketiga alat tersebut menunjukkan dua garis biru. 


__ADS_2