
Adiva tak menyangka, dalam semalam statusnya berubah, dari seorang gadis biasa menjadi istri dari pria tak dikenalnya. Jangankan mengetahui asal usulnya,namanya saja dia tidak tahu. Keadaan yang menimpanya sekarang membuat nya bingung.
Matanya mencoba melirik pria disampingnya mencoba mencari jawaban dari apa yang barusan terjadi. Tapi si pria tak bergeming sedikitpun. Matanya terpejam seakan menahan rasa sakit yang dideritanya.
"Jangan menatapku seperti itu!!" ucap si pria dengan mata masih terpejam.
"Kenapa anda tahu kalau saya menatap anda? Sedangkan mata Anda saja terpejam."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Mengapa Anda dengan entengnya menikahi saya? Sedangkan apa yang dituduhkan oleh para warga pada kita tidaklah benar."
"Aku tidak ingin mereka terus memojokanmu dan dengan terpaksa pula aku memutuskan menikahimu."
Hening… bukan jawab seperti itu yang Adiva inginkan. Apa pria itu tidak tahu apa yang dia pikirkan. Cukup lama mereka saling diam hingga akhirnya Daniel membuka mulut."Siapa namamu tadi? Aku lupa lagi."
"Ceekk,,, Adiva Maharani," jawab Adiva sambil mencebik.
"Aku Daniel Narendra. Apakah kamu tinggal sendiri disini?" tanya Daniel. Matanya melihat sekeliling rumah Adiva.
"Ya, orang tuaku meninggal sepuluh tahun lalu," jawab Adiva.
"Apa kamu mempunyai saudara?" tanya kembali Daniel.
"Tidak. Aku hidup sendiri disini tanpa ada sanak saudara."
"Baiklah kalau begitu, aku tidak perlu ijin untuk membawamu pergi ke apartemenku dan tinggal di sana."
"Apa!? Aku tidak mungkin meninggal rumah peninggalan kedua orang tuaku. Apa anda sudah tidak waras!?"
Daniel menyeringai mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Adiva.
"Siapa disini yang tidak waras? Apa kamu lupa statusmu sekarang? Dan apa ini? Apa kamu bekerja sebagai office girl? Aku bisa dengan mudahnya membuatmu dipecat dari sana."
Adiva seketika membeku. Kedua tangannya mengepal dengan kuat menahan emosi. Ingin rasanya ia memukul pria yang ada di dihadapanya. Pria arrogant dan begitu dingin. Dalam hati ia bertanya pria seperti apa Daniel ini.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan dari arah pintu depan kembali terdengar, membuyarkan lamunan Adiva.
"Buka pintunya!" perintah Daniel,"mungkin itu sekertarisku yang datang,"
__ADS_1
Adiva segera beranjak dan membukakan pintu.
"Maaf nona, saya kesini ingin menjemput tuan."
"Masuklah, Kevin!"
Kevin masuk kedalam rumah melewati Adiva begitu saja. Daniel tadi mengirim pesan kepadanya untuk menjemputnya di rumah Adiva.
"Apa Anindira menghubungimu?" tanya Daniel.
"Ya, beberapa kali nyonya menghubungi saya dan menanyakan tuan," jawab Kevin.
Mendengar Daniel menyebut nama wanita lain Adiva pun bertanya,"siapa Anindira?"
"Dia istriku," jawab tegas Daniel.
Deg…
Adiva terkejut mendengar pernyataan Daniel yang ternyata sudah mempunyai istri. Jantungnya berdegup memompa cepat seakan apa yang dikatakan Daniel sebuah bom waktu yang siap meledak.
Tubuh Adiva gemetar bagaimana kalau istrinya tahu Daniel menikah kembali, dan pernikahan ini dilakukannya hanya karena tuduhan warga yang tidak benar. Yaitu melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan.
"A-anda sudah memiliki istri?" tanya Adiva gagap.
"Kenapa anda tidak bilang pada warga kalau anda sudah mempunyai istri? Dengan begitu semua ini tidak akan terjadi."
"Apa mereka akan percaya?" tanya Daniel.
Adiva hanya mematung tanpa tahu harus menjawab apa.
"Tidak! Mereka hanya percaya apa yang mereka lihat tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya tadi kamu lihat sendirikan. Bagaimana mereka terus memojokanmu. Maka terimalah sekarang apa yang sudah terjadi, MENJADI ISTRI MUDAKU."
Daniel menekankan kata tersebut agar Adiva menerima pernikahan ini terpaksa ini.
"Dan walaupun kamu sudah menjadi istri mudaku, aku tidak akan menuntut hak padamu."
"Menuntut hak?" tanya Adiva heran.
"Ya, seperti melayaniku termasuk urusan hubungan intim suami istri."
Deg…
__ADS_1
Kembali jantung Adiva berdegup kencang. Tidak mungkin ia harus melayani Daniel apalagi berhubungan intim. Mereka menikah terpaksa bukan karena cinta. Walaupun ia tahu kalau Daniel berhak akan itu semua.
"Sekarang cepat bereskan semua pakaianmu! Mulai malam ini kamu akan tinggal di apartememku!"
"Aku sudah bilangkan, aku tidak mau meninggalkan rumahku ini. Hanya ini harta satu-satunya orang tuaku." ucap marah Adiva.
Dengan langkah pelan Daniel mendekati Adiva, membuatnya melangkah mundur sampai membentur tembok. Tangan Daniel mengunci pergerakan Adiva. Wajahnya mendekat, berbisik ditelinganya."Aku akan menuntut hakku disini jika kamu tidak menuruti perintahku."
Hembusan napas Daniel yang menyentuh kulit Adiva membuatnya tidak bisa berkutik. Menatap wajah yang hanya berjarak lima centi dengan tatapan bingung. Daniel yang melihat ekspresi Adiva tersenyum menyeringai. Ketika tangan Daniel akan menyentuh kancing bagian atasnya, seketika itu pula Adiva menahannya."Apa yang akan anda lakukan?"
"Apa kamu tidak dengar apa yang aku kata tadi?"
Adiva menepis tangan Daniel. Ia berjalan menujukan kamarnya dengan terus menggerutu memaki Daniel.
"Katakan pada Anindira kalau aku ada urusan mendadak keluar kota."
"Baik tuan."
"Dan satu hal lagi cari tahu asal usul wanita itu."
🦋🦋🦋
Satu jam waktu yang dihabidkan Adiva untuk mengemasi semua pakaiannya.
"Ayo!" ajak Daniel ketika melihat Adiva menyeret kopernya.
"Tunggu! Apa aku boleh sesekali aku berkunjung untuk membersihkan rumah dan menginap disini?"
"Kita bicarakan hal ini nanti. Lebih baik kita segera pergi, tubuhku sudah lelah."
Adiva mengikuti langkah Daniel tanpa berbicara kembali. Dilihatnya bangunan sederhana itu dengan sedih, semua kenangan bersama kedua orang tua serta nenek Ayu tersimpan rapat disini. Ia pun menghembuskan pelan napasnya, berbalik menuju mobil yang sudah siap mengantarkannya menuju apartemen Daniel.
Mobil pun melaju membelah keheningan malam berselimut gelap yang masih pekat. Daniel menyandarkan kepalanya berusaha untuk istirahat sejenak, sedang Adiva melihat setiap jalan yang dilaluinya dari kaca mobil.
Apartemen yang akan ditempatinya adalah apartemen mewah yang lumayan jauh jaraknya dari tempat tinggal Adiva sebelumnya. Langkahnya kembali mengikuti Daniel sampai depan pintu apartemen.
"Masuklah!" titah Daniel.
"Kamarmu disebelah sana dan ini kunci akses masuk. Jadi kita sama-sama memegang satu kunci."
Begitu lelah hari ini yang di lalui Daniel, sehingga ia tak sabar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Adiva menuju kamar yang di tunjuk Daniel, menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Huuff,,, sungguh ini seperti mimpi bagiku. Bagaimana bisa aku menjadi istri muda dari seorang pria tak dikenal? Dan bagaimana pula aku menjelaskan kepada istrinya jika suatu saat dia tahu?"
Berbagai pertanyaan muncul di otak Adiva, sampai ia pun tertidur karena terlalu lelah.