
Daniel mengemudikan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, menyalip setiap kendaraan didepannya. Jantungnya bergemuruh dan berdetak begitu kencang, seakan tak percaya apa yang ia dengar.
Ia pun memarkirkan mobilnya. Langkah lebarnya belari kencang. Didepan ruang jenazah beberapa aparat polisi berdiri tegap bersama Kevin yang sudah tiba sejak tadi.
"A-apa saya boleh melihat korban kecelakaan tadi siang?" tanya Daniel.
Aparat polisi disana pun melirik Daniel."Apa benar anda Tuan Daniel?"
Daniel menganggukkan kepalanya. Mendadak ia membisu, seakan kata-kata tak mampu ia ucapkan.
"Tubuh korban terbakar api diakibatkan ledakan mobil yang ditumpanginya. Sehingga mungkin anda akan kesulitan untuk memastikan jenazah, apakah benar istri anda atau bukan?" ucap salah satu aparat polisi.
Langkah demi langkah Daniel memasuki kamar jenazah. Perlahan ia mendekati tubuh yang tebujur kaku, tetutup kain putih di depannya. Dengan tangan yang gemetar, Daniel mencoba membuka kain penutup jenazah tersebut.
Bulir bening yang sudah menganak sejak tadi, akhirnya jatuh membasahi pipi Daniel. Ia memalingkan wajahnya, hati dan pikirannya berlawanan. Mencoba melawan takdir yang menyerang.
"Tuan..." panggil Kevin.
"Katakan padaku Kevin kalau tubuh yang ada dihadapanku ini
bukanlah Adiva," lirih Daniel.
"Maaf Tuan," ucap pelan Kevin,"ini kartu Identitas nyonya Adiva yang sempat terbakar sebagian".
__ADS_1
"Aku tidak butuh ini Kevin!! Yang aku inginkan Adivaku kembali!! Apa kamu tidak dengar, hah?!" bentak Daniel.
Hati Daniel menagis pilu, ingatan bersama sang istri mulai bermunculan bagai klise film yang tiada akhir. Ia menyesal telah membohongi perasaannya sendiri, menyesal telah berbohong dan menyakiti Adiva, menyesal karena tidak menemukan istrinya terlebih dahulu, dan kini ia malah bertemu tubuh sang istri yang sudah terbujur kaku.
Langit biru dengan awan hitam mengiringi pemakamam seorang wanita bernama Adiva Maharani. Semua tampak khidmat mendo'akan almarhum. Daniel yang berdiri di depan pusaran sang istri masih tak percaya dengan apa yang dihadapinya sekarang.
Dibalik kaca mata hitam air matanya mengalir, hingga suara lembut dari Anindira membuatnya tak bergeming sedikit pun.
"Honey, ayo kita pulang. Sepertinya hujan akan segera turun," ajak Anindira.
Ia pun menghela napas, ketika sang suami tak menyahut ajakannya.
"Honey, Adiva akan sedih melihat kamu terus seperti ini, ikhlaskan dia," ucap kembali Anindira.
Hingga dengan perasaan kesal dan segala umpatan dalam hati, Anindira meninggalkan Daniel yang masih setia memandang gundukan tanah didepannya.
Tak berselang lama hujan pun turun, membasahi semua yang berada di bawahnya, termasuk Daniel yang sudah basah kuyup oleh derasnya air hujan. Seakan ia meminta pada air yang membasahi tubuhnya untuk menyembuhkan luka dan sakit yang kini telah dirasakan.
🦋🦋🦋🦋
Disebuah kafe Daniel tampak duduk dan berbincang serius dengan seseorang, yang tak lain orang itu adalah klien bisnisnya yang terlibat dalam kerjasama sebuah proyek.
"Kalau begitu, semoga kerjasama yang kita jalin berjalan dengan lancar," ucap Pak Bambang klien Daniel,"maaf Tuan Daniel, saya harus segera pergi karena masih ada meeting yang harus saya hadiri".
__ADS_1
Daniel ikut berdiri ketika Pak Bambang berdiri. Tangannya terulur menyambut uluran orang didepannya."Terimakasih karena Pak Bambang bersedia menemui saya untuk membericarakan proyek kita ini."
"Seharusnya saya yang berterima kasih, karena Tuan Daniel rela meluangkan waktunya dan jauh-jauh datang ke kota Surabaya ini," sahut Pak Bambang.
Orang itu pun pergi, meninggalkan Daniel bersama Kevin.
"Kevin, kamu pergi duluan saja ke hotel! Nanti saya menyusul," titah Daniel.
"Baik Tuan".
Di balik dinding kaca besar Daniel melihat keluar sambil menikmati kopi yang sudah dipesannya. Tak sengaja sebuah siluet wanita melintas. Mata Daniel membola, jantungnya kembali berdegup kencang tak percaya dengan apa yang dilihat.
Dengan terburu-buru ia pun merogoh dompet dan mengambil uang pecahan seratus ribu rupiah. Langkah lebar dari kaki panjang Daniel segera mengikuti siluet wanita tersebut yang memasuki sebuah perkampungan.
'Apakah dia benar-benar masih hidup dan tinggal disini?' batin Daniel.
Ia berjalan menyusuri perkampungan tersebut dan menanyakan nama Adiva pada orang yang setiap ia temui di sepanjang jalan. Namun, sayang tidak ada satu pun yang mengenal nama Adiva serta ciri-ciri yang disebutkan Daniel.
"Ahhh **** ... andai saja aku punya poto Adiva, mungkin tidak akan sesulit ini mencarinya," gerutu Daniel,"Sebaiknya aku kembali ke hotel dan mencarinya kembali besok".
Daniel membalikkan badan, berjalan kembali menuju kafe yang disinggahinya tadi. Dalam perjalanannya menuju hotel banyak pertanyaan bermunculan, dan ia yakin kalau yang dilihatnya tadi adalah bayangan dari istrinya mudanya, Adiva Maharani.
"Aku harus memastikan kembali apa yang aku lihat tadi tidak salah," ucap Daniel yang begitu senang bisa melihat kembali istri mudanya, Adiva.
__ADS_1