Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 17: Kepulangan Adiva


__ADS_3

Waktu pun berlalu begitu saja. Gelapnya malam menyelimuti hari, membawa sunyi serta sepi yang senantiasa menemani. Rintik hujan pun masih jelas terdengar, semilir dinginnya angin serasa menusuk tulang.


Dibawah selimut tebal tubuh dua insan saling berpelukan. Merasakan kehangatan layaknya pasangan halal, mengobati setiap rindu yang semakin menumpuk.


"Eugh..." leguh Adiva.


Daniel yang merasakan pergerakan Adiva membuka matanya. Seulas senyum menghiasi wajah tampan seorang Daniel, ketika si istri mempererat pelukannya.


"Apakah kamu kedinginan?" tanya Daniel.


Tanpa sadar dan membuka mata Adiva menganggukan kepalanya. Daniel pun menarik selimut sampai leher Adiva dan juga mempererat pelukannya agar tubuh si istri tak merasa kedinginan.


Jam dinding menunjukkan waktu dini hari. Adiva terbangun karena merasakan haus. Ia meraih gelas di atas nakas yang berisikan air. Dengan sekali teguk air dalam gelas itu pun tandas di minumnya.


"Kamu terbangun?" tanya Daniel.


"Ya, barusan aku haus," jawab singkat Adiva.


Gelas yang sudah kosong ia letakan kembali diatas nakas.


"Adiva,,," panggil Daniel,"maukah kamu kembali pulang denganku."


Seakan tahu yang dipikirkan istrinya Daniel kembali berkata,"jangan khawatirkan Anindira, sudah aku katakan itu akan menjadi urusanku. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus menerimamu. Bagaimanapun kamu juga istri sahku."


"Kapan rencananya mas akan pulang?" tanya Adiva dengan pandangan tertunduk.


"Besok," jawab singkat Daniel,"dan besok pula aku akan membawamu pulang kembali bersamaku."


"Tapi... "

__ADS_1


"Tidak ada penolakan," sela Daniel.


"Kenapa tadi ia harus bertanya jika aku tidak boleh menolak?" gerutu Adiva.


"Apa barusan kamu bilang?" tanya Daniel.


Dengan senyum kecut Adiva menjawab,"tidak, aku tidak berkata apa pun."


Daniel meraih tubuh mungil Adiva dan memeluknya."Tidurlah kembali, besok pagi kita harus segera berangkat ke bandara."


Kedua insan itu pun kembali memejamkan mata, meyelami alam bawah sadar mereka, berharap esok pagi menjadi awal bahagia dari hubungan mereka berdua.


🦋🦋🦋


Cahaya sang surya menembus sela-sela kaca jendela, memberi kehangatan dan secercah harapan. Di dalam sebuah kamar dengan hati yang diselimuti gelisah, Adiva mengemasi bajunya. Ia tahu kalau Anindira akan marah besar jika mengetahui dirinya kembali bersama Daniel.


Tak di sangka kedua lengan melingkar di perutnya,"apa yang kamu pikirkan?"


"Hah!!" Adiva terlonjak kaget,"sedang apa kamu Mas?"


"Tentu saja sedang memeluk istri tercintaku ini," jawab Daniel,"kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan?"


Adiva memutar malas matanya,"apa Mas tidak lihat? tentu saja aku sedang mengemasi pakaianku."


Daniel membalikkan tubuh Adiva."Tinggalkan saja pakaian lamamu. Aku akan memberikanmu pakai baru begitu sampai di apartemen."


"Tapi.... "


"Ehm..."

__ADS_1


Suara deheman Daniel membuat kepala Adiva menunduk. Ia tahu kalau perkataan Daniel tidak ingin di bantah.


"Ayo! kita harus bergegas pergi menuju Bandara," ajak Daniel.


"Iya," jawab singkat Adiva.


Langkah kaki kecilnya Adiva mengikuti Daniel.


"Mana kuncinya?" tanya Daniel.


Dengan wajah merengut Adiva memberikan kunci tersebut.


Cekrek... Cekrek...


Pintu akhirnya terkunci. Kedua insan itu pun berjalan beriringan menghampiri mobil di pelataran depan rumah, bergegas pergi menuju Bandara Juanda.


Perjalanan dari Surabaya-Jakarta membutuhkannya waktu sekitar satu jam tiga puluh menit, dengan jarak tempuh enam ratus tujuh puluh tujuh kilometer.


Sepanjang perjalanan, pautan tangan keduanya tak pernah lepas. Seakan enggan untuk berpisah.


Sang asisten Kevin sudah sedari tadi menunggu tuannya di depan pintu keluar Bandara Soekarno-Hatta,untuk diantar ke apartemen.


"Selamat siang, Tuan," sapa Kevin,


"Siang," jawab Kevin,"nanti malam datanglah, ada sesuatu yang harus aku bicarakan."


"Baik, Tuan."


Kevin membukakan pintu mobil dan menutupnya kembali setelah atasan dan juga istrinya masuk kedalam mobil tersebut. Ia pun duduk di kursi pengemudi, menjadi pengendali dari kuda besi yang dibawanya. Membelah jalanan ibu kota Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2