
Dinginnya malam menyatu dengan hembusan angin, menerpa wajah tampan nan rupawan seorang Daniel. Berdiri tegap dengan sebatang rokok di sela jari tangan kanannya. Tak lama nada telepon berdering.
"Masuklah," ucap Daniel setelah mendial ikon warna hijau.
Suara derap langkah seseorang menghampiri Daniel dan kemudian berhenti.
"Tuan," panggil Kevin.
Namun, si empu tak bergeming ia masih tenang menyesap rokoknya. Tapi, Kevin tahu kalau atasannya tersebut dalam keadaan tidak baik, dan ia pun tak berani angkat bicara kembali.
"Kevin," panggil Daniel,"cari dalang dibalik rencana kematian palsu Adiva. Aku ingin tahu orang yang sudah berani mempermainkan aku."
"Baik, Tuan."
"Aku tunggu laporanmu secepatnya, kerahkan semua anak buahmu."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit Kevin.
Daniel masih tidak bergeming, ia masih berfikir adakah sesuatu yang terlewatkan olehnya.
"Mas... " panggil Adiva.
Seketika si empu pun menoleh.
"Kenapa belum tidur?" tanya Adiva.
Daniel menghampiri si istri, kemudian memeluknya.
"Apakah tadi ada orang yang datang?" Adiva kembali bertanya.
__ADS_1
"Tidak. Kenapa kamu bangun? Apakah kamu mimpi buruk?"
Adiva meninju kecil dada Daniel.
"Aww,,, sakit sayang," Daniel mengaduh.
"Sakit apanya, dasar! Aku terbangun karena harus bukan mimpi buruk, Mas" tutur Adiva.
"Mau Mas ambilkan?" Daniel menawarkan diri.
"Tidak usah, biar aku ambil sendiri," tolak Adiva.
Ia pun pergi ke dapur untuk mengambil air, sedangkan Daniel pergi ke kamar. Begitu selesai minum Adiva kembali ke kamarnya. Dahinya mengernyit, melihat Daniel yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Mas, gak pulang?" tanya Adiva.
Adiva memutar malas bola matanya,"ya pulang kerumahmu, Mas. Bersama Anindira."
"Apa kamu mengusirku?" tanya balik Daniel.
"Tidak. Apa hakku mengusirmu, Mas? Aku hanya khawatir saja dengan dengan mbak Anindira, pasti dia sangat menantikan kepulanganmu."
Daniel menepuk kasur disampingnya."Kemarilah!"
Si istri yang awalnya hanya berdiri, kemudian menghampiri Daniel dan ikut berbaring disampingnya.
"Jangan jauh-jauh," ucap Daniel sambil tangannya mendekap erat Adiva.
Selang beberapa menit, kedua insan itu pun mulai terlelap.Menyelami alam bawah sadar tanpa batas. Saling memeluk memberikan kehangatan layaknya pasangan suami istri.
__ADS_1
Sedangkan di sebuah rumah mewah bernuasa cat putih, seorang wanita kehilangan kendali akan emosinya. Napasnya terengah-engah, dengan teriakan mengumpat suaminya.
"Keterlaluan kamu Daniel!! Ternyata diam-diam kamu menemui perempuan j****g! Aahhkk…!" teriak histeris Anindira.
Suana dalam rumah sudah hancur berantakan. Hampir semua barang perabotan di dalamnya menjadi pelampiasan amarah Anindira. Ia pun kembali menghubungi orang suruhannya.
"Cepat kamu singkirkan wanita sial itu! Aku tak ingin mendengar kalau dia masih bernapas di muka bumi ini!" perintah Anindira.
Dengan cepat ia mendial ikon warna merah sebelah pihak, tanpa menunggu jawaban di seberang sana.
"Akan ku pastikan sendiri kalau wanita si***n sudah lenyap! Tak akan ku biarkan dia masuk dan merebut hati Daniel!" gumam Anindira.
Kemudian suara tawa histeris pun terdengar menggema di rumah tersebut, membuat merinding bagi siapapun yang mendengarnya.
🦋🦋🦋
Sudah tiga hari berlalu dari semenjak Daniel memberi perintah pada Kevin untuk mencari tahu kebenaran sebenarnya. Pagi-pagi sekali Kevin sudah berdiri di hadapan Daniel.
"Katakan!"
Suara magnetis Daniel yang tegas dan terkesan dingin, membuat ciut Kevin.
"Dari hasil penyelidikan anak buah saya. Wanita yang penampilannya mirip nyonya Adiva adalah seorang malam. Ada seseorang yang meminta wanita itu untuk menaiki taksi yang rem mobilnya sudah dirusak terlebih dahulu. Sehingga mengakibatkan kecelakaan dan membuat mobil tersebut meledak," tutur Kevin,"dan seperti orang tersebut selalu mengamati gerak-gerik nyonya Adiva, juga kartu identitas yang ditemukan polisi sepertinya palsu."
"Segera cari tahu orang tersebut!" titah Daniel.
"Baik tuan."
Kevin segera undur diri dari hadapan Daniel. Ia meminta pada anak buahnya untuk segera menemukan dalang dibalik kecelakaan palsu tersebut.
__ADS_1