
"ANINDIRA… ANINDIRA…" teriak Daniel memanggil.
"Akhirnya kamu pulang, Honey" ucap riang Anindira.
BUGH…
"AAHHKK…."
Anindira mengaduh, punggungnya membentur tembok saat Daniel mendorong dan mencengram lehernya.
"KATAKAN DENGAN JUJUR!! Apa yang katakan pada Adiva? Hingga dia pergi lagi bersama anakku! Jika kau tidak katakan, maka hari ini hari terakhir untuk kau hidup!" ancam Daniel.
Daniel pun melepas cengkramannya pada leher Anindira.
"Uhuk… Uhuk…."
"Cepat katakan!"
Dengan masih terbatuk-batuk, Anindira memegang lehernya yang terasa sakit. Tatapan matanya pada Daniel begitu nyalang. Sebesar itukah cinta Daniel kepada Adiva, hingga mampu menggeser posisinya dihati Daniel.
__ADS_1
"Apa kau sudah tuli, hah? Cepat katakan!" bentak Daniel.
"Bhahaha… Sebegitu tidak sabarnya kamu ingin mendengar jawaban dariku. Aku menyuruhnya untuk pergi sejauh mungkin bersama bayinya. Kau tahu kenapa aku melakukan hal tersebut? Hmm… Kurasa tidak kuberi tahu juga kau pastinya sudah tahu. Dan sekarang kamu hanya milikku, tidak ada lagi penghalang ataupun pengganggu."
Anindira yang mengalungkan kedua tangannya pada leher Daniel, langsung ditepisnya.
"Bersiap untuk menerima surat cerai dariku," ucap Daniel. Ia pun langsung berbalik pergi meninggalkan Anindira.
"B******k kau, Daniel! Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai denganmu. Ingat itu! Ahhk…."
Daniel yang sedang perjalanan pulang ke apartemen segera menghubungi Kevin, asisten kepercayaannya.
Daniel langsung menutup kembali sambungan teleponnya, membuat Kevin yang berada diseberang sana mengumpat kesal. Dirinya tak menyangka Adiva akan kembali meninggalkannya. Ia sangat khawatir, terlebih istrinya itu baru saja melahirkan dan membawa anaknya yang masih bayi.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Kevin baru datang ke apartemen Daniel.
"Selamat malam, Tuan" sapa Kevin, "Maaf saya baru datang."
"Duduk!"
__ADS_1
Kevin yang semula berdiri di belakang Daniel kemudian duduk di depannya.
"Aku ingin kamu kembali mencari Adiva. Ia pergi lagi, terlebih ia baru saja melahirkan dan membawa anak kami. Aku ingin kamu dan juga anak buahmu segera menemukannya, jangan sampai kita kecolongan lagi. Dan aku minta suruh salah satu anak buahmu, untuk selalu mengawasi gerak gerik dari Anindira. Jika ada sesuatu yang mencurigai, segera hubungi aku" tutur Daniel.
"Baik, Tuan."
Setelah selesai memberi tugas pada si asisten. Kevin pun meninggalkan kediaman Daniel, dan segera mengerahkan semua bawahannya untuk mencari istri tuannya.Setelah tidak menemukan tanda-tanda adanya keberadaan Adiva di rumah sakit.
Ruang kosong yang hanya ditemani cahaya yang temaram, membuat isi disekitarnya terasa hampa. Daniel duduk sambil menangkupkan kedua tangannya, pun merenungi kejadian yang menimpa Adiva. Dan hanya kata andai yang bisa mewakili perasaannya malam ini.
Rencana yang ia susun rapi untuk membuat Adiva bahagia, kini harus tertunda. Dan apakah keputusan untuk menceraikan Anindira adalah keputusan yang benar. Sungguh istri pertamanya itu sudah membuat dirinya sangat kecewa. Ia berharap semoga Anindira bisa berubah.
Pagi pun menjelang, cahaya hangat mentari pagi menembus, dinding kaca kamar Adiva, membuat si empu yang baru saja terlelap meleguh. Ia pun bangun dan duduk bersandar.
"Sudah pagi ternyata," gumam Daniel.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita muda sedang bermain dan menjemur anaknya di bawah hangatnya sang surya. Sesekali si bayi menggeliat.
"Adiva," panggil bu Fatma.
__ADS_1
Ia pun menoleh dan tersenyum.