
Kevin bersama anak buahnya sudah menyusuri setiap jalanan di sekitar rumah sakit, juga memeriksa setiap CCTV yang berada disana. Namun, keberadaan Adiva tak kunjung mereka temukan
Adiva seperti hilang ditelan bumi. Pergi dan tak terlihat kembali di tengah-tengah kerumunan, seakan ia tak ingin di temukan. Hanya tangis dan sakit yang teramat pedih yang ia bawa. Menyisakan kenangan pahit untuk dirinya dan juga Daniel.
Pagi pun menjelang, pria yang sudah lelah mencari istrinya duduk dibangku panjang taman depan rumah sakit. Menundukkan kepala dengan kedua telapak tangan menutupi wajah tampannya.
Cukup lama ia duduk disana, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan hati dan pikiran tertuju pada Adiva, mempertanyakan keberadaannya.
"Honey, kenapa kamu baru pulang?" tanya Anindira begitu melihat Daniel yang baru sampai depan pintu rumah.
Namun, Daniel malah melewati Anindira begitu saja tanpa ingin menjawab pertanyaannya. Hal tersebut membuat Anindira geram.
Di dalam kamar mandi, Daniel membiarkan seluruh tubuhnya basah oleh guyuran air. Merenungi sikapnya kepada Adiva membiarkan Adiva tersakiti oleh perasaan cinta palsunya. Namun, kebohongan yang diciptakan oleh Daniel berbalik menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Ahhk!" teriak Daniel.
Seketika kepalan tangan Daniel meninju cermin didepannnya. Darah pun mengalir dari jari-jari tangan, mengotori lantai kamar mandi bercampur dengan air.
__ADS_1
Cukup lama Daniel berada di dalam mandi. Air mata serta darah yang mengalir dari jarinya mengalir besamaan dengan air yang mengguyur tubuh kekarnya.
"Kenapa kamu mandi lama sekali?" tanya Anindira,"ayo kita sarapan bersama."
"Kamu sarapan saja duluan. Aku ingin istirahat," ucap Daniel.
"Ada apa denganmu honey? Apa terjadi sesuatu pada Adiva?" tanya kembali Anindira.
Daniel menghentikan langkahnya."Adiva pergi, dan aku tidak tahu sekarang ia berada dimana."
"Kamu tahu betul Anindira kalau Adiva itu wanita sebatang kara. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau aku jangan memikirkannya,sedangkan dia juga istriku," ucap Daniel.
"Cukup, Daniel!!" bentak Anindira,"istrimu hanya aku,,, hanya aku!! Tidak boleh ada yang merebut dan menggantikan posisiku sebagai istrimu! Apa kamu sudah lupa dengan janjiku, hah?"
"Maafkan aku Anindira," lirih Daniel.
"Stop!! Aku tidak ingin mendengar lagi ucapanmu".
__ADS_1
Anindira pun berbalik keluar dan menutup pintu dengan keras.
Brak...
Daniel hanya berdiam diri, ia tahu istri pertama dan istri mudanya terluka oleh dirinya. Dan kini ia pun dalam dilema, tak tahu bagaimana harus bersikap dan tak sanggup jika harus memilih salah satu dari istrinya. Yang pasti, untuk saat ini ia harus menemukan keberadaan Adiva.
Dengan langkah cepat Anindira menuju taman belakang. Segera ia mendial nomor orang yang akan dihubunginya.
"Aku ingin kamu melakukan rekayasa kecelakaan Adiva. Dan aku ingin itu dilakukan dengan mulus, hingga tak seorang bahkan polisi yang mencurigai kejadian tersebut. Lakukan secepat mungkin!" perintah Anindira.
Ia pun mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak.
"Tak akan aku biarkan kamu kembali Adiva, akan kupastikan Daniel melupakanmu," ucap Anindira,"akan kubuat kamu menghilang dari dunia ini bagaimanapun caranya".
Tangannya mengepal kuat dengan handphone yang dipegang. Amarah yang bergejolak menguasai hati dan meracuni pikiran Anindira, ia tidak rela jika Daniel sampai mencintai Adiva.
Obsesinya terhadap Daniel begitu besar, hingga ia rela menghalalkan segala cara.
__ADS_1