Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 11:Benih Cinta


__ADS_3

"Kevin, tolong kamu minta Adiva untuk membuatkan kopi, dan suruh dia antar kemari!" perintah Daniel.


"Maaf Tuan, Adiva hari ini izin tidak masuk," sahut Kevin.


Daniel mendongkak, menaikan sebelah alisnya."Kenapa dia tidak masuk?"


"Adiva sakit, itu dari laporan yang saya terima," jawab Kevin.


Brak...


"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" tanya marah Daniel.


"Sejak tadi saya mau memberitahu Tuan, tapi Tuan selalu menjeda pembicaraan saya," sahut Kevin.


Daniel mengambil benda pipih yang berada disamping meja kerjanya, dan mendial nomer handphone Adiva. Satu kali... dua kali.... sampai tiga kali ia mencoba menghubungi nomer Adiva. Namun, Adiva tak kunjung mengangkatnya.


"Kevin, tolong handle semua pekerjaanku hari ini," pinta Daniel.


"Baik Tuan."


Kaki panjang Daniel melangkah meninggalkan ruangan kerjanya. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Adiva tidak memberitahunya kalau ia sakit.


Daniel memacu kendaraan mewah dengan merek Aston Martin tersebut dengan cukup kencang. Hatinya bergemuruh mendengar Adiva yang sakit. Namun, ia tak menyadari kalau benih cinta mulai tumbuh.


Dalam waktu Tiga puluh menit, Daniel sampai di parkiran apartemennya. Dengan langkah lebar yang setengah berlari, ia menuju tempat dimana Adiva berada.


"Adiva!" panggil Daniel begitu tangannya membuk pintu.

__ADS_1


Wanita yang dipanggil namanya menoleh, ia sedang menuangkan air hangat untuk diminum.


t


"Apa kamu sakit?" tanya Daniel.


Adiva meneguk sedikit air yang tadi tuangkan kedalam gelas."Hanya demam, besok juga pasti sembuh."


Daniel meletakkan telapak tangannya di kening Adiva."Demammu sepertinya cukup tinggi."


"Aku sudah meminum obat untuk meredakan demam." Tangan Adiva menepis tangan Daniel yang menempel di dahinya.


Melihat perlakuan istrinya yang dingin, serta seperti yang tak mau dirinya disentuh Daniel. Membuat hati sang suami sedikit sakit. Ia terus mengikuti langkah Adiva."Apa kamu sudah makan?"


"Sudah. Kenapa kamu kemari mas bukannya kamu banyak pekerjaan?" tanya Adiva.


"Aku datang untuk menjengukmu begitu tahu kamu sakit," sahut Daniel.


Daniel mengambil selimut dan menutupi tubuh Adiva. Tangannya kembali menyentuh kening Adiva."Masih panas."


Ia pun melangkah menuju dapur mengambil baskom serta handuk kecil untuk mengompres Adiva. Sejenak langkahnya terhenti, Daniel mendekati meja makan dan membuka tudung saji.


'Apa dia yang memaksa semua ini? Maafkan aku Adiva yang sudah membuatmu menunggu,' batin Daniel.


Ia pun segera kembali ke kamar Adiva, duduk di sampingnya dan meletakkan kain di keningnya untuk meredakan demam Adiva.


Matanya menatap dalam wajah pucat yang sedang terlelap di depannya. Mengelus lembut pipi sang istri.

__ADS_1


"Cepatlah sembuh," gumam Daniel.


"Aku tidak tahu kenapa aku selalu khawatir jika melihatmu seperti ini. Mungkinkah perasaan ini mulai terbagi? Menumbuhkan benih cinta yang tak seharusnya terjadi. Jika pun aku mulai mencintaimu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadapmu juga Anindira."


Daniel bangkit dari duduknya, ia kini berdiri tegak menatap langit biru berhiaskan awan putih. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana.


"Anindira maafkan aku yang tak bisa menepati janji. Ternyata Adiva mampu menaburkan benih cinta di hatiku. Dan aku pun tidak bisa memilih salah satu dari kalian. Maafkan aku yang egois, " ucap pelan Daniel


Langit yang awalnya cerah mulai tertutupi awan hitam. Rintik air hujan turun, seakan tahu isi hati Daniel yang sedang bersedih dan dalam dilema.


Daniel kembali menuju dapur, mengambil lauk serta nasi yang sudah tersedia diatas meja. Ngisi perutnya dengan menu yang sudah dibuat Adiva.


Menjelang sore tubuh Adiva menggigil dengan suhu badan yang cukup panas. Daniel yang panik pun segera membopong tubuh Adiva dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


"****!! Aku lupa pasti jam segini jalanan pasti macet," ucap Daniel.


Beberapa kali ia membunyikan klakson, dan beberapa kali pula mobil mewahnya menyalip mobil lain dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Begitu sampai di area rumah sakit, ia membopong kembali Adiva.


"DOKTER... DOKTER..." teriak Daniel.


Dokter Arga yang tidak sengaja lewat dan mendengar teriakan Daniel menghampirinya.


"Kenapa Tuan?" tanya dokter Arga.


"dokter tolong segera tangani istri saya, tiba-tiba badannya menggigil," ucap Daniel.

__ADS_1


"Tenang Tuan, mari bawa istri anda keruangan pasien," sahut dokter Arga.


Daniel pun mengikuti dokter Arga. Diletakkannya tubuh Adiva di atas bangkar dan membiarkan dokter Arga untuk memeriksanya.


__ADS_2