Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 29: Bertemu Ibu Fatma


__ADS_3

Malam semakin larut, hujan pun turun kian deras. Sunyi sepi yang selalu menyapa ditengah kegelapan, setia menemani. Semilir angin malam menambah rasa dingin yang menusuk. Sebuah pelukan erat, memberi rasa hangat pada sosok bayi yang dibawanya.


Dalam hati sang ibu berdo'a, agar bayinya selalu sehat dan berharap seseorang datang menolongnya. Wajah cantik nan ayu mulai pucat pasi. Bagaimana tidak, sedari tadi sore ia terus berjalan tanpa arah tujuan. Tanpa beristirahat, makan maupun minum, sedangkan dirinya seorang wanita yang baru saja melahirkan tiga hari lalu.


Beruntung bayi yang senantiasa digendongnya, tak membuatnya kesusahan. Ia malah larut dalam mimpi indah alam bawah sadar, seakan mengerti akan kesusahan ibunya.


Sebuah mobil yang melintas tiba-tiba berhenti di depan Adiva.


"Astaghfirullah, Nak. Apa yang kamu lakukan ditengah malam seperti ini? Dimana rumahmu? Ibu akan mengantarmu pulang, pasti keluargamu cemas," ucap si ibu yang menghampiri Adiva.


Ia baru saja pulang dari sebuah acara. Di dalam mobil dirinya melihat Adiva yang duduk sendiri ditengah deras hujan sambil memeluk bayi.


"Saya, sudah tidak mempunyai keluarga," sahut Adiva.


"Suamimu kemana?" tanya ibu tersebut.


Adiva diam seribu bahasa.


"Ya sudah, kamu ikut Ibu saja pulang. Kasian bayimu kedinginan. Perkenalkan nama Ibu Fatma. Siapa namamu?"


"Adiva."


Setelah saling memperkenalkan diri, akhirnya Adiva menerima ajakan ibu Fatma untuk ikut bersamanya pulang. Panti Asuhan Kasih Bunda, itu yang Adiva baca dari papan tulisan di halaman depan rumah ibu Fatma.


"Ayo, Nak!" ajak bu Fatma.


Mereka berdua berjalan menuju rumah tersebut.


"Ini panti milik Ibu?" tanya Adiva.


"Iya, Nak. Untuk semua sementara waktu kamu bisa tinggal disini."

__ADS_1


"Bolehkah saya bersama anak saya tinggal menetap di sini?"


Ibu Fatma tersenyum. "Bagaimana dengan suamimu jika kamu tinggal disini, Nak?"


"Saya tidak mempunyai suami," ucap tegas Adiva. Ia sengaja berbohong agar bu Fatma tidak terus menanyakan perihal suami, walaupun hatinya sakit dan berat mengatakan hal tersebut.


Bu Fatma mengerti masalah yang yang sedang dihadapi Adiva sangat pelik, maka dari itu beliau tidak ingin memaksa Adiva untuk bercerita dan mengiyakan permintaannya, untuk tinggal menetap di panti asuhan miliknya.


"Sebentar, Ibu akan mengambilkan beberapa baju bayi dan baju ganti untuk kamu," ucap bu Fatma.


Beliau pun keluar meninggalkan Adiva dan bayinya. Tak lama kemudian bu Fatma kembali dengan membawakan beberapa baju untuk Adiva dan juga anaknya, serta makan malam. Karena Bu Fatma tahu kalau Adiva lapar, tanpa ia mengatakannya.


"Setelah berganti baju dan makan, segeralah istirahat."


"Iya Bu, terimakasih."


"Tidak perlu sungkan."


Pagi pun menjelang, dengan malu-malu sang surya menampakan dirinya. Rasa hangat dari sinar yang dibawanya membawa harapan serta semangat baru. Embun yang mulai menguap diujung dedaunan serta suara merdu dari kicau burung menambah kesan indahnya pagi hari.


"Bu, maaf saya bangun kesiangan," ujar Adiva.


Bu Fatma menoleh dan tersenyum. "Tidak apa. Ayok kita sarapan bersama!"


"Ya, Bu."


"Anak-anak ayok sarapan dulu!" teriak bu Fatma.


YEH...


Semua anak panti langsung memasuki ruang makan dan duduk di kursinya masing-masing.

__ADS_1


"Sebelum makan, Ibu ingin memperkenalkan kakak baru kalian, namanya Kak Adiva."


"Halo adik-adik," sapa Adiva.


"Halo Kak," sahut anak panti bersamaan.


"Setelah makan kalian bisa berkenalan dengan Kak Adiva," sela Bu Fatma.


Di atas meja yang sama Adiva ikut makan bersama penghuni panti. Sungguh ini adalah momen yang sangat ia rindu. Tanpa disadari bulir bening mengalir, dengan cepat Adiva menghapusnya agar tak di ketahui bu Fatma. Ketika sedang membersihkan piring kotor, terdengar suara Akmal menangis.


"Adiva, anakmu menangis. Mungkin ia lapar, biar ini Ibu yang menyelesaikannya."


"Baik, Bu."


Segera Adiva masuk kedalam kamar dan menyusui Akmal.


"Duh anak Mamah lapar ya," ucap Adiva, " bau acem nih anak Ibu. Sebentar lagi kita mandi ya."


"Adiva," panggil bu Fatma.


Si empu pun menoleh. " Ya Bu."


"Ibu sudah menyiapkan air hangat untuk anakmu mandi. Selesai memberi ASI segera mandikan dia."


"Maaf jadi merepotkan, Ibu."


"Ibu merasa tidak direpotkan. Kamu dan anakmu sudah Ibu anggap keluarga juga, sama seperti anak yang lainnya," jelas Bu Fatma, " oh ya. Siapa nama anakmu ini?"


"Akmal Atharrayan."


"Nama yang bagus, semoga kelak kamu menjadi anak yang shaleh," do'a bu Fatma dan di aamii-kan Adiva.

__ADS_1


__ADS_2