Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 5:Rasa Yang Tak Biasa


__ADS_3

Setelah mengetahui Daniel adalah direktur utama perusahaan tempat ia bekerja. Adiva mulai khawatir. Ia tak ingin pernikahannya dengan Daniel diketahui para karyawan kantor juga Anindira, selaku istri pertama Daniel. 


"Bagaimana kalau istri pertama tuan Daniel mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi? Sungguh aku tak sanggup untuk menghadapi kemarahan istrinya yang pasti akan menuduhku telah merebut suaminya."


"Dan apakah dia akan percaya dengan penjelasan yang akan kami berikan?"


"Ahhkk!! Aku harus bagaimana? Aku sudah mengajukan permintaan cerai kepada tuan Daniel, tapi ia malah menyuruhku untuk menunggu enam bulan atau satu tahun. Apa dia sudah gila!? Dan ingin menjeratku dalam pernikahan terpaksa ini."


"Lebih baik aku bicarakan kembali hal ini kepada dia. Semoga saja tuan Daniel pulang kesini."


Adiva merasa seperti orang gila. Bagaimana bisa ia harus menghadapi situasi rumit ini. Berbagai argumen terus ia ucapkan. Sampai ia pun melihat jam dinding ternyata sudah larut malam. Adiva kembali bergumam,"apakah tuan Daniel tidak akan pulang kesini?"


"Humpt… Sepertinya aku harus menunggu besok untuk bicara dengannya."


Kaki Adiva melangkah menuju kamar. Baru saja tangannya akan menyentuh pegangan pintu. Daniel datang dari arah pintu masuk apartemen. Adiva pun mengembangkan senyumnya, tak disangka orang yang ia harapkan pulang, ternyata datang. 


"Tuan kenapa baru pulang?" tanya Adiva. 


Daniel menaikan sebelah alisnya,"kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Adiva yang menyadari pertanyaannya barusan kepada Daniel, mengerutuki dirinya sendiri yang dengan bodoh mempertanyakan hal tersebut. 


"Ah tidak,,, lupakan saja pertanyaanku barusan."


Daniel hanya melirik sekilas Adiva, lalu ia pun beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. 


"Tuan bisakah kita bicara sebentar?" tanya Adiva ragu. 


"Besok pagi saja kita bicara, aku lelah," ucap Daniel,"oh ya, jangan pernah lagi memanggilku tuan karena aku bukan majikanmu. Aku ini suamimu, mengerti!!"


"Jadi aku harus memanggil apa?"


"Terserah, asal jangan panggil aku tuan, ok."

__ADS_1


"Mas,,, kalau di panggil mas tidak apakan?"


 Seulas senyum terbit di bibir Daniel. Ia tidak tahu kenapa hatinya menghangat ketika panggilan itu terlontar dari mulut Adiva. 


Tanpa ingin menjawab atau berbalik, Daniel melangkah menuju kamarnya. Sedangkan Adiva yang masih disana menggeruki Daniel,"emang ya  dia itu pria yang sangat dingin, tinggal jawab ya  apa susahnya."


                      🦋🦋🦋


Seiring dengan berjalannya waktu, Adiva da Daniel mulai terbiasa dengan kehadiran masing-masing. Adiva memaklumi Daniel yang hanya nymn sesekali. Karena ia tahu diri siapa lah dia dibandingkan dengan istri pertamanya, Anindira. 


Ketika Daniel menghubunginya akan berkunjung, seketika itu pula Adiva menjadi sumringah. Ia segera pulang dari pekerjaannya sebagai office girl.  Pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan untuk dimasaknya. 


Setelah dirasa cukup, ia pun segera membayarnya dan bergegas pulang. Sesampai di apartemen Adiva meletakkan barang belanjaannya. Tangan mungilnya dengan lihai mengolah bahan-bahan tadi, dari mulai mengupas, mencuci, mengiris, sampai bahan itupun menjadi masakan yang dapat menggugah selera makan. 


"Selesai sudah," ucap Adiva. 


"Sekarang aku tinggal mandi, dan berpakaian rapih."


Didepan pantulan cermin yang cukup besar Adiva merapihkan baju serta make up nya walaupun hanya dengan sedikit polesan yang ia berikan pada wajahnya yang cantik. 


Terdengar suara Daniel memanggil dari luar kamarnya,"Adiva… Adiva…"


"Ya mas, sudah pulang. Sini aku simpan dulu jas sama tasnya," ucap Adiva sambil mengambil alih jas dan tas Daniel. 


"Apa ini kamu yang masak Adiva?" tanya Daniel. 


"Ya, mas mau mencobanya?" tanya balik Adiva. 


"Tentu. Lagi pula aku belum makan dari tadi siang."


Dengan cekatan Adiva mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk yang ada di atas meja. 


"Silakan mas, dicoba." 

__ADS_1


Tanpa menunggu lama,  Daniel menyuapkan nasi beserta lauk kedalam mulutnya. Dan… 


Ia merasa takjub dengan masakan Adiva. 


"Ternyata kamu pandai memasak," puji Daniel. 


"Terimakasih mas, kalau begitu mas makan yang banyak."


Daniel begitu lahap memakan masakan Adiva, hingga ia pun menghabiskan dua porsi makan. 


Selesai makan Adiva membereskan dan membersihkan meja bekas mereka makan. 


"Apakah mas akan menginap disini?" tanya Adiva. 


"Ya,"


Bibir Adiva melengkung membentuk senyuman, begitu mendengar jawaban singkat dari Daniel. 


"Duduklah disini dan temani aku!" ucap Daniel. 


Adiva mendekat, lalu duduk disampingnya. Daniel mendekat merapatkan tubuhnya sambil memeluk Adiva dari samping. 


Mendapat perlakuan yang tidak biasa membuat jantung Adiva berdegup kencang. Ini pertama kalinya seseorang memeluk tubuhnya. Detak jantungnya semakin kencang tak beraturan. 


Ada perasaan aneh mulai menghampirinya. Perasaan hangat dan merasa terlindungi. Sungguh perasaan tersebut adalah perasaan yang tak biasa ia rasakan. 


'Perasaan apa ini? Baru pertama kali aku merasakan perasaan ini. Pelukan mas Daniel begitu hangat dan tentram. Tapi apakah boleh aku yang hanya istri muda mas Daniel menyukainya? Aku takut perasaan ini bisa menyakitiku, dan lagi pula mas Daniel belum tentu menyukaiku sebagai seorang istri sesungguhnya.' batin Adiva. 


Wajah Adiva mendongak melihat lebih jelas suami disampingnya. Pria tampan dengan sejuta pesona yang mampu memikat para wanita termasuk dirinya yang sudah terperangkap kedalam rasa cinta yang mulai menghampirinya. 


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Daniel. 


Seketika Adiva menundukan kepalanya dengan wajah yang sudah merah seperti tomat. Ia merasa malu karena ketahuan telah menatap Daniel dengan tatapan yang tak biasa. 

__ADS_1


__ADS_2