
"Katakan!"
"Maaf Tuan, ternyata nyonya Anindira tadi datang ke apartemen menemui Adiva," ucap Kevin.
"Apa!? Cepat kirim copy-annya kepadaku sekarang!" perintah Daniel.
"Baik Tuan," sahut Kevin.
Kevin pun segera mengirim copy-an CCTV yang diminta Daniel. Dan...
Ting...
Notifikasi handphone Daniel berbunyi, ia segera mengecek dan melihat notifikasi tersebut. Mata Daniel melotot melihat Anindira yang datang ke apartemen dan langsung menampar Adiva. Perkataan serta tuduhan Anindira terhadap Adiva dapat ia dengar pula.
Daniel tidak menyangka Anindira akan sekejam itu. Dan bagaimana bisa istrinya tahu keberadaan Adiva. Ia pun memutar kembali video CCTV tersebut.
Dilihatnya Adiva yang membanting semua barang yang ada di
sekelilingnya. Tangis serta terikan yang begitu pilu, seakan menggambarkan hatinya yang hacur.
Hati Daniel merasa sakit melihat kejadian tersebut. Ia pun memejamkan matanya."Maaf, karena aku kamu jadi seperti ini."
Melihat apartemennya yang berantakan, Daniel menghubungi pihak Manajer untuk mengirimkan segera cleaning services ke tempat nya.
Tak lama bel pintu berbunyi. Daniel Segera berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Maaf Tuan, saya yang bertugas untuk membersihkan tempat anda," ucap clineang service tersebut.
"Cepat bereskan! Saya ingin semuanya kembali bersih!" perintah Daniel.
"Baik Tuan."
Setelah memberikan perintah, ia kembali menuju kamar Adiva. Merebahkan tubuhnya disamping Adiva yang terlelap. Tangan Daniel mengusap pipi mulus sang istri."Sesakit itu kah hatimu sekarang? Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu."
Perlahan rasa kantuk menyerang, Daniel pun tertidur di samping Adiva. Tangan kekarnya memeluk tubuh mungil si istri, mencari kenyamanan untuk ia pergi ke alam bawah sadar.
Tepat jam lima pagi alarm jam handphone Adiva berbunyi. Ia pun mengerjapkan matanya, menetralkan dengan cahaya lampu. Merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, Adiva melirik kesamping, melihat Daniel yang sedang tertidur pulas.
"Mas Daniel tidur disini," gumam Adiva.
__ADS_1
Ditatapnya wajah sang suami, wajah tampan blasteran dengan hidung yang mancung serta rahang yang tegas, membuatnya semakin tenggelam dalam pesona Daniel.
Tangan Adiva perlahan menyentuh wajah Daniel."Kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu mas? Sedangkan aku tahu kamu memiliki istri.Tak seharus rasa ini ada untukmu, mungkin ini terakhir kalinya aku melihat kamu, aku akan mengakhiri pernikahan ini, tak ingin wanita yang kamu cintai terluka karena keberadaanku."
Adiva mengecup pelan kening Daniel."Selamat tinggal mas."
Tangan kekar yang melingkar di perutnya perlahan ia singkirkan, tak ingin si empu terbangun dari tidurnya.
Segera ia mengemasi barang-barangnya, mengganti pakaian dan beranjak keluar kamar. Sejenak dirinya terpaku melihat keadaan apartemen tersebut yang sudah bersih kembali seperti sebelumnya.
'Pasti mas Daniel memanggil cleaning service kesini untuk membersihkan semuanya,' batin Adiva.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya. Ketika tangan Adiva membuka pintu, tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya.
Brak...
"Ahhkk," jerit Adiva.
Kini tubuhnya terkunci oleh kedua lengan Daniel.
"Mau kemana kamu?" tanya Daniel dengan suara magnetisnya.
Adiva hanya terdiam,bibirnya seakan kelu untuk menjawab pertanyaan Daniel. Pandangannya hanya tertunduk, tanpa mampu melihat netra suaminya.
Amarahnya kian memuncak, tatkala melihat si istri tak kunjung juga bicara.
"Apa kamu sudah mulai bisu?" bentak kembali Daniel.
Tak Terima dirinya disebut bisu. Adiva mendongkakan kepalanya, memberanikan diri menatap netra Daniel. Dengan berani ia berkata,"untuk apa kamu tahu aku akan pergi kemana, Mas?"
"Kamu bilang untuk apa?" Daniel berbalik bertanya,"jelas aku harus tahu kemana pun kamu pergi, karena kamu itu adalah istriku."
Adiva tersenyum kecut mendengar penuturan Daniel yang menyebut dirinya istriku.
"Aku hanya istri sirimu mas, dan lagi pula sebentar lagi kita akan bercerai. Jadi! Untuk apa aku terus tinggal disini, tak ada satu alasan untuk aku tetap disini, biarkan aku pergi," tutur Adiva.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini satu langkah pun." Tangan Daniel mencengkram kuat bahu Adiva.
"Jangan gila kamu mas!! Aku ini bukanlah tawananmu." Tangan Adiva menepis tangan sang suami.
__ADS_1
"Apa kamu tahu?! Hatiku sakit ketika istrimu datang dengan tiba-tiba. Dia menyebutku wanita j****g, memandang rendah diriku seakan aku ini hanya mengincar hartamu saja. Walau dia sudah tahu penjelasannya darimu, ia tetap tidak percaya dengan alasan yang kamu berikan," jelas Adiva.
Air matanya mulai mengalir deras bagai anak sungai, mengingat kejadian kemarin membuat ia kembali terluka. Dengan reflek Daniel memeluk erat Adiva.
"Maafkan aku yang telah membiarkanmu terluka, hingga sedalam ini. Menyeretmu kedalam rumah tangga kami. Tapi sungguh rasa yang aku rasakan sekarang terhadapmu benar-benar rasa cinta, aku tidak tahu sejak kapan rasa ini ada, yang jelas aku sakit melihatmu seperti ini." ucap Daniel.
Tubuh Adiva membeku, seakan tidak percaya dengan ungkapan cinta Daniel.
'A-apakah dia sungguh mulai mencintaiku? Secepat inikah?'batin Adiva.
Melihat tidak ada respon dari Adiva, Daniel mulai melonggarkan pelukannya, menunduk dan mulai mendekati wajah Adiva. Ia mengecup sekilas bibir mungil sang istri.
Adiva melotot ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Daniel. Tidak percaya dengan kejadian barusan. Tangannya mendorong tubuh atletis Daniel."Apa yang kamu lakukan?"
Daniel tidak menjawab pertanyaan Adiva, ia malah menundukkan kembali wajahnya.
"STOP!!"
Satu kata tersebut mampu menghentikan aksi Daniel. Ia pun menatap iris mata Adiva yang terlihat kebingungan.
"Kenapa kamu terlihat seperti orang yang bingung? Ini akan sering terjadi, dan lagi pula kita sudah menikah," ucap Daniel.
"A-aku...."
Adiva seperti orang linglung, matanya bergerak kesana kemari. Daniel yang menyadari hal tersebut kembali memeluk Adiva."Kamu harus terbiasa dengan perlakuanku sekarang. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sisiku. Percayalah!! Aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu."
"Tapi bagaimana dengan mbak Anindira?" tanya khawatir Adiva,"aku tidak ingin kamu menceraikannya dan aku juga tidak ingin kembali menghancurkan hatinya."
"Biarkan itu menjadi urusanku. Yang terpenting sekarang kamu jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini dan meninggalkan aku," ucap Daniel,"tapi kamu tidak keberatan kan menjadi istri keduaku?"
"Kalau aku tidak ingin menjadi istri mudamu, sudah dari kemarin aku pergi."
Seulas senyum tersemat di wajah Adiva. Ia membalas pelukan Daniel, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Nyaman,,, itu yang dirasakannya sekarang.
"Sekarang bereskan kembali barang-barangmu ke kamar! Aku akan memesan sarapan secara online," ucap Daniel.
"Kenapa harus memesan online? Aku bisa membuat sarapan untuk kita berdua," sahut Adiva.
"Tidak usah, ayo cepat simpan kembali barang ke kamar!" perintah Daniel.
__ADS_1
Adiva menurut, membawa serta membereskan kembali barang dalam tasnya. Daniel merogoh saku sebelah kanannya, mengambil benda pipih persegi panjang, dan memesan menu sarapan secara online.
'Maafkan aku Adiva. Terpaksa aku berbohong dengan pernyataan cinta palsuku untukmu. Aku tidak ingin kamu kembali hidup sendiri di sana. Aku akan selalu menjagamu, walau tanpa cinta sekali pun di hatiku, karena seluruh cinta yang kupunya hanya untuk Anindira,' batin Daniel.