
Daniel menatap aneh semua bahan yang ada di meja makan. Pikirannya berkutat, apa yang harus dilakukannya dengan bahan-bahan masakan tersebut.
"Kenapa? Mas gak mau masakin aku buat makan siang?" tanya Adiva. Raut wajahnya mulai sendu.
"Bukannya aku tidak mau, sayang. Hanya saja aku benar-benar tidak bisa memasak," sahut Daniel.
"Tinggal buka youtube, Mas. Cari tutorialnya," ujar Adiva.
"Emangnya kamu mau aku memasak apa?" tanya Daniel.
"Sup ayam," jawab singkat si istri.
Daniel mengernyitkan dahinya dan bergumam, "sup ayam."
Adiva mengangguk.
"Bagaimana kalau rasanya tidak enak?"
"Ya sudah. Gak usah masak," ketus Adiva.
Melihat mood istrinya berubah, membuat Daniel heran dan membatin, 'apa mood wanita hamil bisa cepat berubah?'
Ia harus menanyakan hal ini pada Sarah, supaya kedepannya Daniel tahu apa yang harus dilakukannya agar mood si istri tetap baik.
Daniel pun segera memulai aksinya untuk memasak sup ayam yang di inginkan Adiva. Soal rasa enak tidaknya yang penting ia susah menunaikan keinginan si istri.
Ia pun mulai mencuci beberapa potong ayam beserta sayurannya, sambil ditemani video tutorial dari youtube cara memasak sup ayam yang enak. Mulai dari cara memotong sayuran hingga memilah bumbu apa saja yang harus dimasukannya kedalam sup ayam tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Adiva berlalu ke kamar untuk beristirahat, sambil menunggu masakan yang dibuat Daniel masak.
Disela kesibukannya memasak, handphone Daniel berdering. Dilihatnya layar tertera nama sang asisten Kevin. Nyala kompor ia matikan segera, dan menggeser ikon hijau.
"Ada apa, Kevin?" tanya Daniel.
"Tuan, Agus beserta anak buahnya sudah tertangkap," terang Kevin.
"Segera kamu singkirkan mereka."
"Baik, Tuan."
Tak banyak percakapan antara bos dan asistennya itu. Daniel memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia pun kembali melanjutkan kegiatannya membuat sup ayam yang sempat tertunda sebentar.
Sedangkan di seberang sana, Kevin hanya bisa menghela nafas, ia paham dengan ucapan bos besarnya. Untuk segera membawa Agus dan anak buahnya ke pulau terpencil, sebagai hukuman atas kejahatan yang mereka lakukan. Karena, Daniel tidak percaya dengan hukum negara yang berlaku. Hukum yang dimana masih bisa dibeli dengan uang untuk bisa bebas atau sekedar meringankan hukumannya.
Satu jam lebih sudah berlalu. Sup ayam sudah masak dan siap dihidangkan. Daniel mengambil mangkuk dan menuangkan sup tersebut. Ia tersenyum melihat hasil masakan pertamanya, dalam hati berharap semoga Adiva menyukai sup ayam buatannya.
Dapat dibayangkan bagaimana berantakannya ruang dapur yang dikuasai oleh Daniel. Orang yang pertama kali memasak hanya demi memenuhi apa yang diinginkan istrinya dan calon anaknya.
Ambyar… Pastinya.
"Sudah masak? Aku lapar banget," rengek si istri.
"Sudah," sahut Daniel sambil menyodorkan semangkuk sup yang dibuatnya tadi.
Adiva langsung duduk dan ingin mencicipinya.
__ADS_1
"Hati-hati sayang, masih panas ," ucap Daniel.
Namun, peringatan Daniel tak dihiraukannya. Sehingga Adiva meringgis kepanasan ketika sup tersebut masuk ke mulut.
"Sudah aku bilang hati-hati! Sup nya masih panas. Kenapa kamu tidak mendengarkan peringatanku?" sentak Daniel.
Mendengar ucapan Daniel yang sedikit keras, Adiva menunduk dan berkata,"maaf…."
Adiva kembali sendu, membuat Daniel menghela napas, sebenarnya ia tak bermaksud berkata seperti itu.
Kemudian ia berinisiatif menawarkan diri,"mau aku suapi?"
"Apa boleh?"
Daniel tersenyum,"tentu saja boleh. Tapi tunggu dulu sebentar, menunggu sup nya tidak terlalu panas."
"Iya."
Sambil menunggu sup sedikit dingin, pasangan suami istri itu pun saling mengobrol, bercanda gurau hingga suara tawa ceria mereka menggema dalam satu ruangan tersebut.
Dirasa sudah bisa di makan dan uap panas sup sudah tidak mengepul. Daniel dengan telaten menyuapi Adiva layaknya seorang anak kecil.
"Enak?" tanya Daniel.
"Lumayan," jawab si istri.
"Kalau belum kenyang, di panci masih ada," imbuh Daniel, dan dijawab dengan anggukan oleh Adiva.
__ADS_1
Dalam hati Daniel sangat bahagia. Ini pertama kalinya ia memasak, dan rasanya tidaklah begitu buruk. Dengan lahapnya Adiva makan, membuat Daniel tak menyangka kalau istrinya begitu kelaparan. Dan mulai sekarang ia akan menjadi suami siaga untuk anak dan istrinya. Memenuhi setiap keinginan calon ibu dan calon bayinya.