Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 7:Kemarahan Anindira


__ADS_3

Dirumah mewah bernuansa cat putih dengan ornamen gold, Anindira melihat beberapa foto yang di bawa oleh orang suruhannya. Hatinya bergejolak penuh amarah. ia tidak menyangka seorang Daniel mampu mengkhianati dan membohonginya.


"Apa mereka masih di pantai?" tanya Anindira.


"Ya nyonya, bahkan saya mengecek kalau mereka akan menginap, tapi tidak satu kamar."


Anindira mengerutkan dahinya,"kenapa?"


"Untuk itu saya kurang tahu nyonya,"


"Cari tahu kembali!!"


"Baik nyonya."


Orang suruhan Anindira pun akhirnya pergi. Sedangkan tubuh Anindira luruh, bahunya bergetak dengan dibarengi isak tangis. Cinta yang ia jaga selama bertahun-tahun, ternyata harus rusak oleh kehadiran orang ketiga.


"Kenapa Daniel? Kenapa kamu lakukan semua ini padaku? Apa hanya karena aku tidak bisa memberimu anak? Maka dengan teganya kamu berbohong padaku, dan berselingkuh dengan wanita lain. TEGA KAMU DANIEL!! TEGA!!"


Anindira kembali terisak, air matanya sudah menganak sungai tanpa ingin berhenti. Ia pun menghapus kasar bulir bening yang membasahi pipinya.


"Tak akan aku biarkan wanita yang sudah merebut suamiku hidup dengan tenang! Aku akan buat perhitungan dengannya! Daniel hanyalah milikku sampai kapanpun!"


Anindira berdiri tegap, menghapus jejak bulir bening yang sejak tadi mengalir deras. Anindira yang sekarang sudah gelap mata, hatinya di penuhi oleh amarah. Sekarang ia menunggu kepulangan Daniel, dan meminta penjelasan dari semua foto yang ia dapatkan dari orang tadi.


🦋🦋🦋


Setelah menyatakan perasaannya kepada Daniel, keesokan paginya Adiva meminta untuk segera pulang. Dan suaminya mengiyakan permintaan Adiva tanpa ingin bertanya.


Begitu sampai di dalam apartemen Daniel berkata,"maaf Adiva, aku tidak bisa membalas cintamu."


Adiva hanya tersenyum dan ia pun berkata,"tidak apa mas, aku sadar posisiku. Tapi biarlah cinta ini terus tumbuh untuk mu walau kenyatannya sakit. Aku tidak akan tega merusak pernikahan kalian, biarlah rasa ini aku rasakan sendiri dan aku menunggumu mengucapkan kata talak, sebelum Anindira mengetahui pernikahan kita ini."

__ADS_1


Daniel merasa sakit mendengar Adiva yang menunggunya mengucapkan kata talak. Apa ia mulai ada perasaan untuk Adiva walau hanya sebutir pasir?. Daniel pun tidak tahu itu, tanpa berpamitan ia segera pergi dari apartemen yang di tempati Adiva.


Senyum kecut mengiringi kepergian Daniel. Adiva menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menangis pilu dengan sesegukan. Kembali ia teringat akan keluarga kecilnya, ayah, ibu serta nenek Ayu yang senantiasa menghibur Adiva ketika sedih. Kini ia tak punya sandaran lagi untuk berbagi kesedihan.


Daniel yang ia harapkan bisa menerima cintanya, ternyata malah menolak. Ia telah salah mengartikan sikap Daniel yang hangat, membuat dirinya kini harus menelan rasa pahit.


Mobil mewah yang dikendarai Daniel kini menuju rumah utama, dimana Anindira sedang menunggunya. Segera Daniel memarkirkan mobilnya dan mencari keberadaan Anindira.


Daniel melangkah menuju taman bunga belakang rumah, dimana Anindira selalu menghabiskan waktunya.


"Honey!!" panggil Daniel.


Anindira menoleh, lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya pada bunga yang ada di depannya. Daniel memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang sambil memcium setiap inci leher jenjang Anindira.


"Sayang aku kangen," ucap pelan Daniel.


Anindira hanya tersenyum masam mendengar perkataan Daniel. Ia pun membalikkan tubuhnya."Mas ada yang mau kamu jelaska?!"


Anindira mengambil amplop berwarna coklat yang berada di atas meja di sampingnya, ia menyerahkan amplop itu kepada Daniel.


"Apa ini honey?" tanya Daniel.


"Buka saja mas," jawab Anindira.


Daniel membuka amplop tersebut dan... matanya terbelalak.


"Darimana kamu dapatkan semua foto ini?" tanya Daniel.


"Kamu tidak perlu tahu mas, dari mana aku mendapatkan foto-foto itu, yang aku butuhkan sekarang adalah penjelasan darimu!! Siapa wanita itu?"


"Dia istriku sama sepertimu," jawab Daniel tanpa beban.

__ADS_1


"APA KAMU BILANG?! ISTRI?! Sejak kapan kamu menikahi wanita itu?" tanya Anindira bertubi-tubi.


Ia sudah tak bisa mengontrol emosinya. Amarah yang sejak kemarin ia tahan, kini bisa diluapkannya kepada Daniel.


"Tiga bulan yang lalu," jawab Daniel.


"Dan selama itu pula kamu membohongi aku mas!! Pantas saja kamu sering pulang telat, bahkan tidak pulang sama sekali. Ternyata ini alasan sebenarnya. Dan kemarin kamu bilang padaku kalau ada pertemuan dengan salah satu kolegamu, tapi kamu bohong!! Kamu justru berlibur dengan wanita itu. IYAKAN MAS."


Daniel yang melihat Anindira marah besar kepadanya tidak menjawab.


"JAWAB MAS!!" ucap Anindira penuh penekanan.


"Ya."


Detik itu pun juga air mata Anindira kembali mengalir. Dengan terus menangis Anindira membanting semua barang yang ada didekatnya hingga hancur berkeping-keping. Daniel tak kuasa melihat istrinya terluka, ia pun memeluk erat Anindira.


"Sudah Anindira! Cukup!" ucap Daniel dengan nada tinggi.


"Kenapa mas kamu tega menduakan aku? Apa karena aku ini mandul mas? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Anindira sambil terus terisak.


Tangannya terus memukul dada bidang Daniel, meluapkan semua amarahnya.


"Tidak honey! Aku masih dan sangat mencintaimu, jangan pernah kamu berfikir seperti itu. Cintaku hanya untukmu tidak untuk wanita lain."


"Lalu mengapa kamu menikahinya jika kamu tidak mencintainya?"


"Aku menikahinya hanya karena sebuah kesalah pahaman, dan lagi pula tiga bulan lagi aku akan menceraikannya."


"Salah paham?" tanya heran Anindira.


Sejenak ia mulai tenang mendengar Daniel akan menceraikan wanita itu, dan menikahinya karena terpaksa bukan karena rasa cinta yang ditakutkan Anindira.

__ADS_1


__ADS_2