Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
10 : Kepercayaan Yang Dirusak


__ADS_3

Hallo yuh ikuti ceritanya...


"Ra? Kamu nggak apa-apa ketemu sama Adi dan keluarganya?" tanya Lia khawatir.


"Iya Ra? Aku nggak mau lihat kamu nangis lagi" kini Nissa pun ikut khawatir. Karena Nissa juga tahu bagaimana kisah Ara dan Adi.


"Santai guys, aku udah lupain Adi kok" kata Ara dengan semangat. "Padahal belum😭😭😭" Gumamnya dalam hati.


"Teh, nanti pulang dari rumah Aa Adi bawain martabak yah, Anya pengen" kata Anya mengalihkan pembicaraan.


"Hahahha iya iya adekku tersayang" jawab Ara tersenyum.


"Aku pergi dulu yah, assalamu'alaikum" kata Ara dan keluar dari kamar dan menghampiri Farhan dan Arya yang sudah menunggu di ruang tamu ditemani oleh tante Mira dan om Agung.


Anaknya Tante Mira sedang kuliah di Korea jadi pulangnya 3 tahun sekali. Jadi rumahnya tante Mira selalu sepi.


"Mas Arya ikut kan?" tanya Ara pada Arya.


"Kamu sama Farhan aja yah nggak apa-apa kan?. Farhan sudah mas kasih alamatnya rumah Adi." kata Arya dengan santai.


"Loh kok gitu, kan perjanjiannya juga Ara dirumah tante Mira aja, tapi karena ada titipan makanan dari Mamah untuk keluarganya Adi, jadinya Ara ikut. Tapi tetap ditemani sama mas Arya. Kok sekarang berubah gini sih?" kata Ara mulai kesal. Bahkan wajahnya sudah merah.


"Sabar Ra, sudah jangan banyak protes. Sekarang kamu sama Farhan OTW rumahnya Adi. Nanti pulangnya bawa Martabak yah" kata Arya dengan tersenyum dan mengelus pundak Ara. Karena Arya tahu, Ara kesal karena dia akan bertemu Adi bukan kesal karena Arya tidak jadi ikut.


"Ayo mas berangkat, cepet!" kata Ara kesal dan pergi menuju mobil. Ara menggunakan Gamis polos berwarna hitam, dengan hijab segi 4 syar'i berwarna hitam juga dengan handsock berwarna coklat, serta ciput berwarna coklat. Slingbag berwarna coklat dengan sepatu Vans putih.


Sedangkan Farhan menggunakan kemeja batik berwarna coklat dengan corak batik awan, dengan celana bahan berwarna hitam. Secara tidak langsung Ara dan Farhan menggunakan pakaian yang senada.


Sepanjang perjalanan Ara hanya diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian sampailah mereka dikediaman keluarga Rahman. Bapaknya Adi sudah lama meninggal sejak bercerai dengan ibunya Adi. Adi mempunyai 2 orang kakak perempuan setahu Ara. Karena Adi orangnya malas membahas tentang keluarganya.


Karena bapaknya Adi sudah meninggal hal ini lah yang membuat Adi harus pindah ke Bandung ke rumah bapaknya dulu.


"Ra kamu nggak mau masuk?" tanya Farhan pada Ara.


"Iya udah Ara ikut masuk" jawabnya ketus.


Ketika memasuki rumahnya Adi, terlihat rumah sedang ada keramaian. Dan benar, sedang ada acara kekeluargaan.


-Ara pov-


Akhirnya aku tahu Di, kamu sulit aku raih. Waktunya aku mundur Di, kamu sudah selangkah lebih maju dimiliki oleh seorang wanita yang pastinya bukan aku. Di malam ini, di Bandung aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Bahwa Adi saling bertukar cincin dengan seorang perempuan yang aku sendiri mengenal perempuan itu. Perempuan itu adalah, Melia.  Dia rekan ku di kampus, dan pantas saja mas Farhan kekeh ingin bertemu Adi dan keluarganya. Karena Melia adalah sepupunya mas Farhan.


"Ayo Ra kita masuk, kamu sudah di tunggu oleh  ibu" kata mas Farhan dengan tersenyum dan dia menggandeng tanganku. Apa dia berusaha menguatkanku?.. Bodoh, itu tidak berguna. Aku sudah runtuh, aku ingin hilang sekarang juga.


"Assalamu'alaikum bu, ini Aan bawa Ara bu, teman SMKnya Adi" kata mas Farhan menyalami ibunya Adi. Kenapa mereka begitu sangat dekat?. Kenapa?.


"Waalaikumsalam anak ibu yang paling ganteng, wah alhamdulillah akhirnya Ara kita bertemu juga" kata ibunya Adi, dan apa? Mas Farhan anaknya?. Maksudnya apa?.


"Sepertinya Ara bingung bu, Aan bawa Ara ke lantai 2 dulu ya bu. Oh iya tolong mang Asep pindahkan oleh-oleh ada di mobil Aan." kata mas Farhan dengan tersenyum. Dan aku hanya bingung dengan semua pertanyaan dibenakku. Mas Farhan membawaku ke lantai 2 rumah ini. Di ruang keluarga aku menatap mas Farhan dengan aneh.


"Jelaskan tolong" kataku dengan tegas.

__ADS_1


-Ara pov end-


"Ra? Bapak dan ibu punya 4 anak 2 perempuan dan 2 Laki-laki. Saya anak pertama, kemudian ada Rissa, dan Tina kemudian ada Adi. Karena perceraian ibu dan bapak, saya ikut bersama bapak di bandung. Untuk melanjutkan kuliah saya dan profesi apoteker saya. Kemudian pada tahun 2018 bapak meninggal. Dan menyuruh ibu dan adik-adik saya untuk menempati rumah ini. Jadi intinya saya adalah kakak laki-laki Adi. Apa kamu tidak tau, jika nama saya adalah Farhan Effendy Rahman? Dah kini Melia yang merupakan sepupu kami di haruskan menikah dengan Adi karena wasiat bapak. Padahal saya, Rissa dan Tina belum menikah." kata Farhan menjelaskan semuanya.


"Oh jadi gitu?" tanya Ara dengan sedih, bahkan air matanya sudah mengalir.


"Yang selama ini selalu mengirimkan paket hadiah itu adalah saya menggunakan nama Adi. Saya ingin kamu dan Adi bisa bersatu namun Adi adik saya itu meninggalkan berlian yang sangat berharga, karena alasannya adalah wasiat. Saya bisa menghapus wasiat itu, namun mau bagaimana. Adi lebih memilih jodoh yang dipersiapkan oleh mendiang bapak." kata Farhan dengan sangat jelas.


"Apa-apaan ini Kak? kenapa bawa Ara ke sini?" tanya Adi yang datang tiba-tiba dan keheranan serta kesal melihat kehadiran Ara.


"Kalian perlu bertemu dan bicara!" ucap Farhan penuh penekanan.


"Gue udah tunangan, mending loe pergi aja!" ucap Adi datar.


"Di? aku cuma pengen tahu apakah masih ada perasaan kamu untuk aku!" ucap Ara dengan menangis.


"Cukup!" ucapnya teriak.


"Cukup Ra! kamu selalu merasa bahwa kamu yang menjadi korban dan tersakiti. Asal kamu tahu, aku di sini juga tersakiti Ra! Kamu lupa? saat kita menjalin hubungan. Kamu masih aja hidup dalam bayang-bayang Tio. Ingat Ra, aku ini Adi bukan Tio! Apa kamu sadar?" ucap Adi penuh penekanan.


Bahkan pertengkaran mereka sudah di dengar oleh para tamu undangan. Membuat keluarga Adi bingung harus bagaimana.


"Tapi Di _" ucapan Ara langsung dipotong.


"Dengerin aku! Apa kamu mikirin perasaan aku? Apa kamu mikirin gimana perjuangan aku? ini karma kamu Ra! Lalu kenapa sekarang kamu menyesal? saat orang yang dulu mengerjar kamu sekarang pergi ninggalin kamu. Terima aja Ra, aku pergi juga karena sebab!" ucapnya marah.


"Udah? sekarang aku yang harus tanya sama saudara kamu ini" ucap Ara sambil menunjuk Farhan.


"Apa mas Arya dan Nissa tahu? dan juga kecelakaan itu settingan?" tanya Ara memastikan.


"Hebat kalian! hahaha. Inget Di, perasaan aku sama kamu itu tulus. Nyatanya sampai saat ini, aku masih mencintai kamu. Aku harap kamu bahagia sama pilihan kamu. Dan untuk kamu mas, 2 jempol untuk kamu yang udah membohongi aku" ucap Ara sambil memberikan jempolnya.


Ara yang syok dengan hal itu sambil berbicara dengan langkah mundur dan posisi dibelakang Ara adalah tangga untuk turun ke ruang tengah.


Dan terjadilah


"Ara!!"


Teriak Farhan dan Adi bersamaan. Ara tersungkur sampai anak tangga ke 12, dia tak sadarkan diri. Acara pertunangan itu diakhiri dengan cepat.


...°°°...


"Mas Farhan? Bagaimana kondisi teteh? Hiks hiks" kini Anna mulai menangis.


Farhan menenangkannya.


"Ara lagi di periksa dek, sabar yah. Kita berdoa untuk kesehatan Ara yah" kata Farhan.


Di ruang tunggu lebih tepatnya koridor rumah sakit, ada Lia, Anna, bahkan tante Mira dan Arya. Sedangkan Nissa hanya di rumah tante Mira. Arya melarang Nissa untuk ikut.


"Kak? Ibu takut. Ara kenapa-kenapa" kata ibunya Farhan yang merupakan ibunya Adi juga.

__ADS_1


Sedangkan Adi hanya diam dan Melia menenangkan Adi. Karena Melia tahu Adi khawatir terhadap Ara.


"Keluarga nona Azzahra?" tanya dokter yang keluar dari UGD.


"Saya adiknya dokter," kata Anna dengan cepat.


"Mba ayo ikuti saya ke ruangan saya" kata dokter wanita itu lalu Anna mengikuti dokter itu. Dokter pun menjelaskan bagaimana kondisi Ara.


"Mba, nona Azzahra sudah sadar. Hanya saja luka di siku dan lututnya memar. Sudah di scan, dan tidak ada cedera serius. Nona Azzahra hanya ingin ditemui oleh adiknya dan Lia saja katanya mba" sambung dokter itu.


Anna pun mengerti "Baiklah dokter terima kasih, apa saya boleh melihat kakak saya?" tanya Anna cemas.


"Boleh mba silakan" jawab dokter itu tersenyum.


...°°°...


"Teh? Kita pulang pakai kereta aja yah. Nggak usah sama mas Farhan dan mas Arya. Kita pulang bertiga aja sama teh Lia. Iya kan teh Lia?" tanya Anna yang sudah menitikkan air matanya melihat Ara yang banyak memar di wajah dan badannya. Akibat jatuh dari tangga.


"Iya dek, terserah kamu aja. Teteh nggak mau ketemu mereka semua." jawab Ara sambil menangis.


"Ra, kamu yang sabar yah. Ya Allah kok mas Arya sama Nissa tega sih. Dan ternyata Farhan itu gitu yah, nggak nyangka aku tuh" kata Lia kesal.


"Teh Lia, nanti biar Anna aja yang bilang sama mereka. Kalau teh Ara belum bisa dijenguk, jadi nanti Anna suruh aja mereka pulang" kata Anna dengan menghapus air matanya dengan kasar.


"Iya dek, ayo teteh antar" kata Lia menggandeng tangan Anna.


Pintu kamar rawat inap Ara terbuka, menampakkan wajah sedih dari Lia dan Anna.


"Hmm, tante dan semuanya. Teh Ara belum mau dijenguk, mau istirahat aja katanya. Hmm teh Lia bakal jagain teh Ara di sini. Anna ikut pulang mau ambil barang-barang buat di sini. Yuh mas Arya anterin Anna. Dan lebih baik semuanya pulang aja ya." kata Anna dengan suara seraknya.


Semuanya pun mengangguk, sedangkan Anna menatap Farhan dan Adi dengan tatapan kecewa.


...°°°...


-Ara pov-


"Aku salah apa sih Li? Segitu bencinya Adi dan keluarganya sama aku. Sampai-sampai mereka mempermainkan perasaan aku. Aku tahu, aku salah, karena dulu nggak pernah peka sama Adi. Tapi nggak gini juga, aku syok dengarnya" kata ku sambil menangis di pelukan Lia.


"Kamu yang sabar ya Ra, semuanya bakal baik-baik aja kok. Malam ini kita langsung pulang ya, setelah Anna bawa barang-barang kita. Kita langsung pulang aja, nggak baik lama-lama di sini. Aku juga udah urus administrasi kok" kata Lia sambil mengelus punggung ku.


Tak lama setelah itu, Anna datang membawa barang-barang ku. "Dek kamu ke sini keluarga mas Arya tahu?" tanya ku pada Anna. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Nggak tau teh, adek kesini pakai taxi online. Karena mas Arya larang adek ke RS sekarang" jawab Anna lalu duduk dan meminum air mineral.


"Ra, kamu pakai kursi roda ya, aku udah pesan taxi online kok. Buat antar kita ke stasiun sekarang." kata Lia membantu aku ke kursi roda. Karena infusan sudah lepas, dan biaya rumah sakit sudah dibayar. Kami bertiga bisa keluar malam ini.


Selama di kereta aku hanya diam saja, tak banyak bicara. Kejadian yang menimpa ku di rumah Adi membuatku paham, dan yakin bahwa harus melupakan perasaan ini kepada Adi.


"Teh ini minum teh anget dulu" kata Anna menawarkan teh padaku.


Aku hanya menggeleng karena saat ini aku tidak ingin minum dan makan. Perasaan ini sudah terlanjur kecewa terhadap semuanya. Mas Arya, Nissa dan mas Farhan mereka orang yang aku anggap baik. Tapi,mereka menghancurkan kepercayaan aku.

__ADS_1


-Ara pov end-


_Bersambung_


__ADS_2