
Happy Reading
"Tidak sopan jika saya memanggil anda dengan nama saja" kata Ara.
"Ya sudah terserah anda saja" kata Farhan dengan tersenyum.
Mereka sudah sampai di depan rumah Ara yang bisa dikatakan nyaman dan tidak terlalu sederhana dan tidak terlalu mewah juga.
"Loh kok ada taxi?" tanya Ara kebingungan dan langsung masuk ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum bi Ani? Kok ada taxi di depan?" teriak Ara ke arah dapur.
Dan tak lama dari arah dapur muncullah mamahnya dan Aanya.
"Mamah? Aa? Ara rindu" kata Ara langsung berlari dan memeluk mereka berdua.
"Masih manja aja ya kamu dek, eh tunggu itu ada siapa? Kok nggak diajak masuk." tanya Aanya pada Ara.
"Eh iya mah, Ara lupa hihi. Aa panggilin dong" kata Ara menyuruh Aanya memanggil Farhan masuk ke rumah.
Mereka duduk di ruang tamu. Bi Ani memberikan sajian makanan dan minuman.
"Nak Farhan kerja apa?" tanya mamahnya Ara.
"Alhamdulillah merawat tante" kata Farhan menjawab seadanya. Membuat mamah dan Aa nya Ara memandang satu sama lain.
"Mas ini Apoteker mah" jawab Ara singkat.
"Oh apoteker toh, sudah punya apotik? Atau sekarang dimana?" tanya mamahnya Ara kepo.
"Saya apoteker di rumah sakit umum tante. Dan alhamdulillah sudah punya apotik sendiri" jawab Farhan dengan tersenyum.
Membuat mamahnya Ara tersenyum. "Wah karir yang menjamin, sehat selalu ya nak. Ara juga farmasi loh, bisa dong nanti setelah lulus kerja di apotik kamu. Atau nggak jadi pendamping kamu aja" kata mamahnya Ara.
"Mah, jangan aneh-aneh deh" kata Ara dengan kesal..
Farhan hanya tersenyum dan melihat jamnya. "Tante saya pamit dulu ya. Dan mas makasih sudah diajak mampir" kata Farhan dengan tersenyum dan menyalami mamahnya Ara. Lalu menjabat tangan Adit.
"Iya nak, sering-sering ya main kesini" kata mamahnya Ara dengan girang.
Dan diangguki oleh Farhan, sedangkan Aanya Ara "Iya bro main sini ya, Ara sama ade ku Anna sering kesepian" kata Adit dengan tersenyum.
Ara yang mendengar itu langsung kesal dan berjalan masuk ke kamarnya tanpa melihat ke arah Farhan.
*Ara Pov*
Kenapa semua orang tua selalu memandang karir dan laki-laki mapan?. Bukannya dulu mamah nggak ngedukung aku masuk farmasi. Mas Farhan kan Farmasi. Dasar mamah!...
__ADS_1
...Lebih baik sekarang aku istirahat. ...
...-makan malam-...
*tok tok tok
"Dek? Makan malam dulu." kata Aa Adit padaku dari luar kamar.
Karena keenakan tidur siang, aku melewatkan sholat ashar. Punya Aa ngebangunin pas waktu makan, bukan waktu sholat. Dasar!.
"Iya bentar" jawabku lesu. Karena memang aku baru bangun tidur banget.
"Mah? Anna boleh bobo sama mamah nggak?" tanya Anya pada mamah.
"Boleh sayang" kata mamah dengan tersenyum.
Aku yang masih kesal langsung saja makan dengan cepat dan segera pergi ke kamarku.
*Ara pov End*
Ara yang kesal dengan mamah dan Aa nya itu langsung saja ke kamar. Di kamar dia membuka jendela, lalu merasakan angin malam yang sejuk.
"Hari ini, aku bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan. Kenapa menyebalkan, karena mamah menyukainya. Mamah merestui dia, karena dia sudah mapan dan tampan. Lalu mengesampingkan fakta bahwa dia juga seorang farmasis." kata Ara dengan sedih.
"Mah? Kenapa mamah lebih suka Ara masuk kedokteran? Ara nggak suka mah," gumamnya sedih.
"Ara janji mah, Ara akan buktikan jika farmasi itu baik" kata Ara dengan gigih.
"Mamah pulang aja Ara nggak tau. Sedangkan Aa Adit nggak nanyain gimana kabarnya Ara. Ara anak siapa sih sebenarnya!!" teriaknya sambil melempar kotak tisu di atas meja riasnya itu.
...***...
Pagi hari ini mendung, Ara sedang mengurus-ngurus dokumen persetujuan KKN. Lalu dilanjutkan dengan pembekalan KKN.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Li, kita beli la pesona yuh" kata Ara mengajak Lia.
"Aku lagi puasa Ra, kamu aja yang beli aku temanin yah" kata Lia sambil tersenyum.
"Oh gitu, okeh deh temanin yah" kata Ara dengan senyuman.
Ara sengaja tidak menggunakan kendaraannya, dikarenakan jika dia sedang dalam suasana hati tidak baik. Ara lebih memilih menggunakan angkot.
Mereka menggunakan angkot dan berhenti di outlet la pesona.
"Mas order 1 yang large yang spesial ada tambahan oreonya ya" kata Ara memesan kepada penjual minuman la pesona itu.
"Baik mba, silahkan duduk dan tunggu sebentar" kata mas-mas itu.
__ADS_1
Ara pun duduk di samping Lia. Pandangan Ara menelisik ke sembrang jalan sana, ada mobil merah bermerek Agya. Turunlah seorang wanita yang sama yang pernah bersenggolan di depan toilet di mall waktu itu.
"Loh Lia? Kamu mau kemana kok nyebrang? Lia!" kata Ara yang sadar karena Lia menghampiri wanita itu yang sedang bergandengan dengan laki-laki tinggi yang tampan.
"Mas saya nyamperin teman saya dulu ya" sambung Ara berpesan pada mas-mas penjual dan langsung menghampiri Lia.
"Mas Satria? Mba ini siapa?" tanya Lia pada Satria, dan Satria adalah tentara yang Lia bicarakan.
Seketika Ara langsung kesal namun masih bersabar ingin tahu penjelasan laki-laki itu.
"Mas, mba ini siapa? Kamu kenal?" tanya mba-mba yang Ara tahu wajahnya. Karena mba-mba ini adalah wanita yang sama dengan yang bersenggolan dengannya di depan toilet di mall.
"Ya sudah mas, saya mengerti. Saya hanya selingan mu mas." kata Lia dengan tersenyum dan berlalu begitu saja. Ara geram ingin menghajar laki-laki itu, tapi sahabatnya perlu dirinya.
"Mas kamu selingkuh? Mba yang tadi itu siapanya kamu?" tanya wanita itu dengan merengek kepada Satria.
"Sari diamlah, ini semua karena kamu. Aku jadi tidak bisa mendekatinya." kata Satria begitu dan masih terdengar oleh Ara.
Ara yang mendengarnya langsung berbalik arah ke Satria dan menonjok hidungnya hingga berdarah.
"Aw,,, kamu gila ya" kata Satria kesal sambil memegang hidungnya yang berdarah.
"Saya gila, karena sahabat saya anda sakiti. Saya ulangi, jangan dekati sahabat saya lagi. Anda sudah punya wanita ini masih saja mengincar yang lain. Dasar brengsek!" kata Ara lalu diakhiri dengan tamparan keras.
*plak...
"Rasakan itu" Lanjut Ara dan berlari mengejar Lia. Ara juga takut, jika Satria akan mengejarnya dan memukulnya balik. Tapi untunglah wanita bernama Sari itu membawa Satria ke dalam mobil.
...***...
Ara sedang meminum la pesonanya di kamarnya Lia.
Mereka sedang berada di rumahnya Lia.
"Li? Kamu kok tegar sih? Dia brengsek loh" kata Ara dengan santai.
"Aku tegar aja, dan malu juga sama kamu. Kemarin aku yakinkan kamu, kalau tentara itu nggak semuanya brengsek. Tapi ternyata sama aja. Jadi aku nggak akan nangis, biasa aja" kata Lia dengan tegar.
"Ya ampun Lia, kok kamu tegar banget sih. 😭😭😭😭 Lia. Kamu sabar ya, Insya Allah nanti jodoh kamu ada kok" kata Ara sambil memeluk Lia.
"Iya Ra makasih ya. Kamu mau nginep disini?" tanya Lia lagi.
"Nggak tahu hihi" jawab Ara singkat.
-Bersambung-
Jangan lupa votenya ya.
__ADS_1
Dukung terus cerita dari nurmita❤🤍