Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
11 : Tio dan Adi Serta Pasangannya


__ADS_3

4 Bulan sejak kejadian itu, Ara kini sedang sibuk dengan bimbingan skripsinya. Semuanya berantakan 9 bulan dia menyia-nyiakan waktu untuk tidak bimbingan.


Perasaannya yang tidak karuan itu membuatnya semakin rapuh.


Ara sedang menuju dapur untuk mengambil minum. Melewati kamar kedua orang tuanya, mamah dan papahnya sedang membicarakan dirinya.


"Pah, mamah heran sama Ara, dia seperti tidak ada gairah hidup. Makan, tidur aja kerjaannya, gimana mau selesai itu skripsinya" ucap mamahnya.


"Ara perlu waktu, kasihan dia" jawab papahnya membela.


"Beda sekali dengan adiknya Anna, dia sungguh-sungguh untuk masuk kedokter. Kebanggaan memang di Anna." ucap mamahnya dengan senang.


"Jangan membedakan anak-anak mah, kasihan" ucap papahnya membela.


Ara yang malas mendengarkan nya langsung saja melenggang pergi.


...---...


Keesokan paginya, keluarga Wijaya sedang sarapan.


Anna sedang menyantap nasi gorengnya, sedangkan Ara sedari tadi belum juga keluar kamar.


"Maaf pak, neng Ara sudah sedari shubuh pergi. Katanya ada urusan ke Purwokerto." ucap bi Ani sambil menyiapkan susu untuk Anna.


"Ke Purwokerto? dengan siapa? menggunakan apa?" tanya papahnya Ara bingung.


"Sendiri pak, bawa mobil sendiri" ucap bi Ani jujur.


"anak itu kan belum punya SIM mobil. Kamu sih pah, terlalu memanjakan dia, jadinya membangkang seperti itu. Dia harusnya paham, Purwokerto itu jauh." ucap mamahnya Ara kesal.


"Sudah lah Mah, teh Ara sudah besar. Aku juga pengen belajar mobil dan motor, biar gampang. Lagian yah, teh Ara udah setahun punya SIM mobil" bela Anna santai membuat kedua orang tuanya saling menatap.


"Uang dari mana dia bisa buat SIM?" tanya mamahnya bingung.


"Teh Ara kan jadi Asisten Praktikum dan Asisten Dosen. Dari sana teteh kumpulkan selama 3 tahun" ucap Anna membela Ara.


"Sudah-sudah nanti hubungi saja Ara ya Ann" ucap papahnya menghentikan debat itu.


Anna hanya mengangguk.


...---...


"Ra, kenapa nyusul aku ke sini?" tanya Kayla sepupu Tio.


Kayla itu lebih tua 5 tahun diatasnya, kini dia sudah bekerja di klinik gigi Purwokerto sebagai perawat gigi.


Mereka sedang sarapan di rumah Kayla.


Ara hanya diam tak menjawab.


"Ada masalah sama Lia??". tanya Kayla memastikan.


Ara hanya diam.

__ADS_1


"Sama om dan tante?" tanya Kayla lagi.


"Mama itu terlalu menuntut untuk aku mengikuti keinginannya mba" ucap Ara bercerita.


Di rumah Kayla hanya ada Kayla sendiri, karena keluarganya sedang mengunjungi mbanya Kayla yang baru saja mempunyai anak.


"Coba bicara dari hati ke hati, jangan kabur-kaburan seperti ini nggak baik loh. Oh iya Tio nanyain kamu tuh, dia bentar lagi mau tunangan sama pacarnya dari SMK siapa ya namanya? mba lupa!" ucap Kayla santai.


"Oh Karina, sukurlah dia langgeng. Kabarin aja kalau udah dekat tanggalnya. Aku udah lama nggak kontekan sama Tio" ucap Ara acuh.


"Ok. Mending kamu jalan-jalan aja selama di Purwokerto, aku pagi ini ada jam kerja. Dan untuk masalah orang tua kamu. Kamu harus sabar, bagaimana pun tante itu pengen kamu nggak salah jalan. Cara menyampaikan nya aja yang agak salah" ucap Kayla mengusap pundak Ara.


Kayla diantar oleh Ara ke kliniknya, "Sebaiknya kamu langsung pulang ke Bumiayu Ra, karena nggak baik. Kalau kamu nginep di luar kota" ucap Kayla sebelum turun mobil.


"Iya mba, aku bakal pulang kok. Aku mau ke Mall dulu" ucapnya pelan.


"Ok hati-hati yah, assalamu'alaikum" ucap Kayla tersenyum.


"Iya, waalaikumsalam" jawab Ara.


Di perjalanan menuju Mall, Ara mampir terlebih dahulu ke boutique langganan mamahnya. Kiara's Boutique, Ara memesan dress untuk ke acara Tio.


"Pagi Nona Azzahra, kok tumben sendiri nih. Mamahnya mana?" tanya pelayan boutique itu ramah dan akrab.


"Pagi mba, mamah lagi sibuk. Oh iya, mba Kiaranya ada nggak?" tanya Ara tersenyum.


"Bu Kiara ada di ruangannya mba, langsung saja naik ke lantai 2" ucap pelayan yang bername tag Susi.


"Makasih ya mba Sus" ucap Ara tersenyum dan melenggang pergi.


"Waalaikumsalam Ra, ya ampun tambah cantik aja kamu, tumben pake hijab? kamu mau nikah?" tanya Kiara yang bingung.


"Hehehe, udah 4 bulanan kayaknya aku hijrah. Sembarangan nikah!, aku belum wisuda mba ih!" balas Ara sedikit kesal.


"Oh begitu, selamat yah. Semoga istiqomah" ucap Kiara tersenyum.


"Aamiin"


"Hmm mba aku mau pesan dress dong, teman ku tunangan. Kalau nggak salah 2 mingguan lagi atau kapan yah lupa, aku bingung dress apa yang cocok. Pestanya bertema maroon gitu" ucap Ara kebingungan.


"Aku baru selesai rancang gaun sih, warna merah marron. Cocok kayaknya kalau menggunakan hijab dengan gaya simpel" ucap Kiara memberikan contoh.



( sumber : google)


"Bagus yah, yaudah aku ambil itu aja mba. Tapi jangan terlalu panjang yah, soalnya aku mau pake sneakers aja, nggak mau pake heels" ucap Ara tersenyum.


"Oh ok, besok juga jadi kok. Lagi senggang juga, nanti pengerjaannya cepat kok" ucap Kiara tersenyum.


"Makasih yah mba, aku pamit dlu. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Ara menyelesaikan pembayaran gaun di kasir. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan ke Mall Rita.


Dia rindu bakmi Solo yang menjadi favoritnya bersama Adi ketika SMK.


Bakmi itu hanya tersedia di Rita Mall.


"Sudah lama aku tidak makan di sini, bahkan suasananya masih sama" gumamnya dalam hati.


Tak lama saat menoleh, dia melihat Adi dan Melia sedang berada di bakmi itu, di tempat duduk favoritnya dengan Adi. Lagi-lagi dia melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat.


"Selamat datang mba, mau pesan apa?" tanya pelayan itu ramah.


"Maaf tidak jadi" ucap Ara berlalu pergi.


"Dasar aneh" ucap pelayan itu menatap kepergian Ara.


Ara memutuskan untuk pergi berbelanja, sedang berada di rak buah. Dia berpapasan dengan Farhan yang sama-sama mengambil buah kiwi.


"Oh maaf, silakan" ucap Ara dan langsung pergi. Ara tidak menyadari jika itu Farhan, namun Farhan menyadari itu.


"Tunggu Azzahra saya ingin berbicara" ucap Farhan menahan pundak Ara.


"Loh kok mas Farhan? pantes saja ada Adi ternyata lagi liburan keluarga" gumam nya dalam hati dan berbalik menatap Farhan tegas.


"Ada perlu apa?" ucap nya dengan tegas.


"Bisakan kita cari tempat untuk berbicara, aku dan yang lainnya memikirkan kondisimu" ucapnya dengen tak enak hati.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya sudah tidak percaya dengan anda ataupun yang lainnya. Jadi saya permisi" ucapnya pergi segera ke kasir.


"Sorot matanya menandakan kebencian" gumam Farhan dalam hati.


Farhan tak mau memaksakan kehendak, dia ingin pelan-pelan menjelaskan pada Ara.


"Sampai bertemu di lain waktu Azzahra" ucapnya dan berlalu pergi.


...---...


"Kenapa harus bertemu mereka sih, apa jangan-jangan Tio dan Adi ada temu janji di sini? maka dari itu Adi jauh-jauh dari Bandung untuk bertemu Tio membahas acara tunangan itu?" ucap Ara dengan semua pikirannya.


"Ah sudah bukan urusanku juga" kata Ara lagi dan pergi ke tempat icecream. Dia sangat ingin icecream, lalu memesan icecream vanila dengan topping orea cup besar.


Menyantapnya dengan asik, sambil duduk melihat orang lalu lalang. Di lobi sedang ada pertunjukan musik. Sambil mendengarkan lagu itu Ara melepaskan penatnya. Lagu dari Hijrah Cintaku dari Adam Music membuatnya lega.


"ah kenyang makan icecream juga, tapi pengen makan bakmi." ucapnya bingung.


"Ah bodo amat, sepertinya mereka sudah pergi. Aku harus makan bakmi pokoknya" ucapnya pergi ke restoran bakmi itu kembali.


Dan ya ternyata, Tio dan Adi sedang berbincang bersama-sama dengan pasangan masing-masing. "Sabar Ra, kamu kesini untuk makan. Bukan untuk nangis." ucap Ara dalam hati dan duduk di pojokan restoran yang tertutup sekat.


Ara menyantap bakmi bakso kesukaannya dengan es teh tak lupa lalu cemilan pisang cokelat keju yang bertabur keju double.


"Alhamdulillah bisa makan enak, seperti nya mereka tidak mengenaliku. Apalagi aku sudah berhijab jadi aku tenang, hihihi. Kenapa aku seperti detektif saja!" ucapnya kesal.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2