Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
14 : Dibedakan Itu Tidak Enak


__ADS_3

Azzahra sedang menghadiri dan berkumpul bersama keluarga besarnya di rumah om dan tantenya yang berada di Brebes.


"Gimana Ra sudah wisuda?" tanya Om Aksan tiba-tiba.


"Belum Om. Masih menyusun!" jawab Ara dengan santai.


"Memangnya sudah bab berapa Ra?" tanya Tante Hana yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Aduh ini kenapa sih pada tanya begini!" gumamnya kesal dalam hati.


"Baru bab 2 Tan. Masih revisi juga" jawab Ara jujur.


"Wah kalau begitu masih jauh untuk sempro, kamu jarang bimbingan ya Ra? yang rajin dong. Seperti anak Om, dia dulu rajin bimbingan jadinya cepat wisuda. Sekarang sedang studi spesialis bedah di Jakarta" ucap Om Aksan dengan sombong membanggakan anaknya.


"Eh iya Om. Ini juga sedang Ara usahakan kok!" jawabnya malas.


"Lalu sudah punya pacar?. Tante lihat kamu tidak pernah mengenalkan laki-laki pada keluarga!" tanya Tante Hana membuat Ara malas.


"Eh Tan. Maaf ya mau ke depan dulu ada telpon" ucap Ara menghindari pertanyaan jebakan seperti itu yang akhirnya akan merembet ke yang lainnya.


"Dasar anak itu, selalu menghindar. Sudah besar masih saja jomblo" ucap Tante Hana ikut kesal dengan keponakannya yang terus dikekang oleh orang tuanya.


...---...


"Hmm mas? kamu benar sudah tidak ada lagi rasa kepada Azzahra?" tanya Melia pada Adi. Mereka menginap di hotel Purwokerto kini sedang sarapan.


"Kenapa bertanya begitu?" tanya Adi heran.


"Aku hanya bertanya, karena kejadian 4 bulan lalu. Kamu begitu panik melihatnya terluka" jawab Melia jujur.

__ADS_1


"Bisa tidak jangan membahas hal yang sudah berlalu?" ucap Adi kesal.


"Ah sudahlah, selesaikan sarapanmu. Aku akan checkout duluan. Besok ada jadwal pagi" ucap Adi kesal dan langsung pergi.


"Benar kan dugaanku, kamu masih ada perasaan dengan Azzahra. Kenapa tidak jujur saja sih mas, wajahmu tak bisa bohong" gumam Melia yang kesal melihat tingkah Adi.


Setelah selesai sarapan Melia menghampiri Adi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Mas jadi balik? tunggu aku ya. Aku juga mau beres-beres" ucapnya sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Tidak perlu, kamu pulanglah kr Bumiayu. Selesaikan studimu terlebih dahulu, baru kembali ke Bandung untuk melaksanakan pernikahan. Keluarlah aku ingin mengganti baju" ucap Adi datar.


"Yasudah" balas Melia kesal dan kembali ke kamarnya.


Di kamar Melia kesal dan melampiaskan kekesalannya dengan melempar bantal serta guling ke sembarang arah.


"Lagi-lagi Azzahra, sejak dulu awal perkuliahan. Dia selalu lebih unggul, bahkan mendapat rekomendasi dari dosen. Sebenarnya tidak sudi aku menjadi rekannya. Sikapnya yang sok manis itu membuatku muak. Sialan!!!!" ucap Melia kesal.


...---...


"Kapan kamu sempro teh? mamah pusing ditanya-tanya terus sama om dan tante mu" ucap mamahnya sambil duduk agak berjauhan.


"Do'ain aja, ini juga lagi berusaha" ucap Ara santai.


"Berusaha apanya? mamah lihat kamu cuma tidur makan tidur. Bahkan mandi juga jarang, biasanya cucian baju kotormu banyak menumpuk di kamar" ucapan mamahnya membuat Ara menoleh aneh.


"Jadi maksud mamah aku hanya rebahan dan makan?" tanya Ara memastikan.


"Iya itu faktanya, ke kampus saja kamu jarang. Tuh lihat si Anna siang malam belajar demi masuk kedokteran. Memang sih sejak TK dia lebih unggul dari pada kamu" ucapan mamahnya membuat Ara muak dan segera ke kamar.

__ADS_1


"Mau kemana kamu? orang tua bicara di dengar. Asal pergi aja, kamu disekolahkan agar punya sopan santun bukan seenaknya begini!!!" mamahnya mulai marah dan berdiri.


Ara berhenti dan menoleh, "Bahkan prilaku anaknya sendiri saja tidak tahu, malah membandingkan dengan anaknya yang lain. Saya begini karena didikan anda juga" ucap Ara kesal dengan tatapan datar.


*Plakkk


"Teteh!, Mamah!" kata Anna yang kaget melihat Ara ditampar oleh mamahnya begitu keras.


"Tampar aja Mah! Kalau itu bisa bikin hati mamah reda. Aku pemalas, aku bodoh, aku suka melawan, aku suka kurang ajar, aku nggak sopan. Ayo Mah apa lagi sebutin semua keburukan aku!!" ucap Ara teriak dan langsung berlari ke kamar. Mengunci diri di kamar adalah yang terbaik.


Anna dan mamahnya terdiam.


Bi Ani yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"Kasihan neng Ara, dia begitu juga pasti ada alasannya. Selama ibu di Jakarta, neng Ara rajin dalam segala hal" ucap bi Ani dalam hati dan kembali ke kamarnya.


Papahnya Ara belum pulang, karena mampir ke rumah temannya untuk membahas perkembangan perumahan yang akan jadi proyek berikutnya.


"Mah jangan terlalu keras sama teteh, teteh sudah tertekan Mah, adek mohon. Teh Ara juga berusaha lulus tepat waktu kok Mah" ucap Anna membela.


"Tapi anak itu kurang ajar, berani melawan. Mamah ngomel juga demi kebaikan dia" ucap mamahnya dengan keras.


"Yasudah lah, adek mau ke kamar dulu" ucap Anna pamit.


Ara menangis di kamarnya, sambil mengusap pipinya yang sakit. Bahkan memar, karena tamparannya sangat keras.


Anna merasa bersalah kepada teteh nya yang selalu dibanding-bandingkan dengan dirinya, Anna ingin keluarganya utuh. Namun tetap saja ada kendala.


...---...

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2