
Di pagi hari, Ara disibukkan dengan me ngeprint proposalnya. Karena harus mengambil proposal skripsi sekaligus bimbingan dengan dua dosen sekaligus di hari yang sama namun waktu yang berbeda. Membuatnya gugup karena Ara baru memulai kembali untuk bimbingan setelah sekian lama.
Lia sahabatnya saja tinggal menunggu sidang, sedangkan dirinya belum seminar proposal sama sekali hal ini yang selalu mamanya bahas.
"Teh? sibuk yah? mau Adek bantu Teh?" tanya Anna yang masuk ke dalam kamarnya Ara.
"Nggak kok An, udah selesai nih. Ada apa An?" tanya Ara melihat adeknya yang kini duduk di ranjangnya.
"Hmm Teh, kalau adek kuliahnya gk keterima di Bandung gimana?" tanya Anna dengan ragu2 dan menunduk.
"Loh kenapa pesimis begitu? kamu itu mampu loh, pinter juga" tanya Ara yang bingung terhadap adeknya itu.
"Hmm, takut aja kalau keinginan mama sama adek nggk bisa tercapai. Adek gagal wujudin impiannya mama" ucap Anna dengan sedih.
"Jangan begitu dong dek! kamu pasti bisa. Teteh bangkit juga karena pengen nyontohin yang baik sama kamu. Teteh cuma kurang suka sama sikap kamu yang selalu merengek ke mama. Jadi mama itu mikir kamu nggak dewasa loh. Ayo semangat yah" ucap Ara dengan mengepalkan tangan ke atas.
"Iya deh, oh iya sekarang Teteh mau kemana?" tanya Anna yang penasaran melihat kamarnya Ara penuh dengan tumpukan berkas.
"Mau ke puskesmas observasi tentang imunisasi vaksin di puskesmas. Terus ngambil berkas di dosen 1 terus bimbingan deh ke dosen 2, Teteh pake motor An. Kalau pake mobil ribet parkirnya, nggak bisa nyalip juga" ucap Ara tanpa melihat ke arah Anna karena saking sibuknya.
"Yaudah deh, Semangat yah Teh. Kalau pulang jangan lupa bawain mixue boba yah" pesannya Anna dengan santai dan keluar kamar Ara.
"Yaelah, beli sendiri lah. Minta beliin sama si Erlan sana. Yang ada Teteh tekor, tiap pulang selalu beliin makanan buat kamu!!!!" ucap Ara teriak dan mendumel.
"Kan yang lebih tua di rumah ini Teteh!!" jawab Anna dari kamarnya sambil berteriak.
"sabar ya Ra, Anna itu adekmu" ucapnya mengelus dada.
Sekitar jam 10 pagi Ara pergi ke Puskesmas menyerahkan surat observasi yang sudah ia minta ke bagian LPPM kampus beberapa hari lalu. Di sana ia bertemu dengan wakil kepala Puskesmas di daerah Bumiayu.
__ADS_1
"Sebelumnya sudah pernah observasi ke Puskesmas Bumiayu Mba?" tanya ibu itu dengan pelan.
"Emmm, sudah bu. Terakhir tahun lalu, saya menanyakan tentang kasus diare pada anak" ucapnya dengan gugup.
"Loh, Mbanya jangan gugup. Saya tidak akan memakan Mbanya, berarti penyusunan proposalnya sempat berhenti. Dan sekarang memulai kembali?" tanya ibu itu dengan teliti dan lembut.
"Hehe iya Bu, saya sempat berhenti. Karena sudah lama tidak bersosialisasi dengan umum saya jadi gugup Bu" ucap Ara dengan jujur. Tangannya sudah muncul keringat dingin.
"Saya pernah di posisi Mbanya, gugup itu pasti bahkan takut dan tidak percaya diri. Tapi jika semua itu Mbanya bisa lawan dengan kata Mau saja dulu, pasti akan timbul rasa percaya diri. Niatkan dalam hati, pasti semua tantangan bisa teratasi" ucap Ibu Wakil itu yang bernama Musdalifah.
"Terima kasih Ibu atas nasehatnya. Jadi untuk program BIAS di Puskesmas ini apakah sudah berjalan dengan lancar Bu?" tanya Ara mulai serius.
"Baru saja tadi saya menerima berkas tentang BIAS, Mba Ara beruntung sekali. Jadi untuk programnya sudah berjalan 100% untuk semua imunisasi yang diadakan di sekolah-sekolah" jawab Ibu Wakil itu secara seksama dan menunjukkan grafiknya.
"Apa saya boleh meminta data sekolah dan jumlah yang sudah diimunisasi Bu?"
"catat saja nomer WA saya, nanti saya kirimkan via chat ya Mba." ucap Ibu Wakil dengan tersenyum lalu memberikan kartu namanya.
"Sama-sama Mba, nanti Puskesmas minta feedbacknya ya Mba" ucap Ibu Wakil mengingatkan.
"Baik Ibu, Assalamu'alaikum" ucap Ara pamit dan salam kepada Ibu Wakil itu.
"Waalaikumsalam Mba, lancar-lancar ya skripsinya" ucap Ibu itu mendoakan Ara.
"Aamiin Terima kasih Ibu" balas Ara dan langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan Wakil kepala Puskesmas.
Ara mengendarai motornya dengan tangis haru dan tak lupa bersyukur.
"Alhamdulillah Ya Allah, ternyata setelah hamba ikhlas dan menata kembali segalanya. Hamba menjalaninya dengan hati yang lapang, semuanya dimudahkan Ya Allah. Terima kasih" ucapnya tersedu-sedu. Karena menggunakan helm, jadi hanya dirinya yang bisa mendengar dirinya menangis.
__ADS_1
......................
"Loh Mas Farhan kenapa ke rumah?" tanya Anna yang bingung melihat Farhan berada di rumahnya kini.
"assalamu'alaikum An" ucap Farhan dan tersenyum.
"Oh iya lupa, waalaikumsalam Mas. Teh Ara lagi ke Puskesmas terus bimbingan sama dosennya Mas. Emangnya Mas Farhan nggak tanya dulu sama Teteh?" tanya Anna yang bingung melihat kehadiran Farhan di rumahnya.
"Mas kesini mau nganterin jurnal-jurnal punya Mas dulu. Barang kali berguna, Azzahra ambil penelitian tentang apa kalau boleh tahu An?" tanya Farhan penasaran.
"Tentang imunisasi kalau nggak salah Mas"
"Wah, pas banget. Mas pernah bantu-bantu petugas vaksinasi di Puskesmas dan Klinik." ucapnya dengan berbangga.
"Cocok banget. Mending Mas telpon Teteh, dan minta ketemu kalau Teteh udah selesai bimbingan. Bilang aja ada perlu, gitu aja" saran Anna.
"Yaudah kalau begitu, ini berkasnya Mas taruh di sini ya An. Mas Permisi dulu, Assalamu'alaikum" ucapnya dan berlalu pergi.
"Oh iya Mas, taruh aja di sofa. Waalaikumsalam, Hati-hati Mas Farhan" ucap Anna mengantar dan melihat Farhan masuk ke mobilnya dan berlalu pergi.
......................
"Lelahnya, minum dulu deh. Baru ke dospem dua, alhamdulillah bersyukur banget Acc sama dospem 1. Tinggal dospem 2, semoga Acc dan segera seminar proposal" ucap Ara dengan semangat.
Setelah istirahat di depan indomaret, Ara melanjutkan perjalanannya menuju rumah dospem 2.
Disana Ara menjelaskan secara rinci terkait penelitiannya dan prosedur penelitiannya.
Ara sangat berterima kasih ke Allah SWT karena apa yang jadi target dan keinginannya terwujud satu persatu.
__ADS_1
-Bersambung-