
Happy Reading
*Ara pov*
"Li? Kamu percaya nggak kalau aku belum bisa move on dari Adi?" tanyaku pada Lia. Karena pada akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumahnya.
"Percaya kok, lagian ya. Kalian itu cocok, cuma ya gitu. Sama-sama gengsi dan egois, Adi itu niat serius sama kamu. Tapi kamunya masih hidup dalam bayang-bayang Tio. Nah sekarang kamu hidup dalam bayang-bayang Adi. Yang ada semua cowok yang dekatin kamu nanti, pada kabur Ra" kata Lia menasehatiku.
Memang benar sih, semuanya kabur.
"Yaudah deh iya, aku bakal coba untuk berbaur dan membuka hati serta perasaan lagi kepada orang lagi" kataku pasrah.
"Nah gitu dong, aku berdoa semoga kita bisa wisuda tahun ini, dan nikah di hari yang sama, program kehamilan sama juga. Aku udah anggap kamu saudara aku Ra" kata Lia padaku sambil memegang tanganku.
"Aamiin aku juga anggap kamu saudara aku Li, dan semoga permohonan kamu dikabulkan oleh Allah" kataku menjawab dengan senyum.
...***...
Keluarganya Lia berbuka puasa sunnah. Setelah selesai makan, aku dan Lia saling membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring.
Ibu dan Ayahnya Lia adalah dokter spesialis anak di rumah sakit berbeda. Lia adalah anak tunggal. Keluarga mereka harmonis, bahkan ibu dan ayah menganggap ku sebagai anaknya juga.
"Ra? Eta kumaha kabarna si Adi? Bareto kan osok kadieu" tanya ibu padaku. Aku yang sedang mengelap meja makan langsung berhenti.
(Ra, itu gimana kabarnya si Adi? Dulu kan suka kesini).
"Hmm Ayeuna mah, Adi ntos gawe Bu, di kontrak ku PT. Maskapai Garuda ceunah" jawab ku seadanya. Lagipula itu dulu, sekarang nggak tau.
(Hmm sekarang, Adi sudah kerja Bu, di kontak sama PT. Maskapai Garuda katanya).
"Ntos atuh Bu, ulah bahas Adi teing!" kini ayah yang ke dapur menegur ibu untuk tidak menanyakan perihal Adi. Karena ibu dan Ayahnya Lia juga tahu bagaimana hubungan ku dengan Adi.
(Sudah dong Bu, jangan bahas Adi terus!).
"Muhun Yah" jawab ibu dengan tersenyum. Aku tahu Ibu hanya iseng, dan ingin tau apa reaksi ku.
(Iya Yah,).
Aku dan Lia langsung duduk di teras depan rumahnya, sedangkan ibu dan ayah ke dalam rumah untuk memeriksa lembar jawaban mahasiswa/i nya. Karena selain menjadi dokter, ibunya Lia juga seorang dosen dan sedangkan ayahnya guru IPA di SMAN 01 Bumiayu.
Ibu dan ayah Lia termasuk keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama.
"Ra? Sinta nanti marah nggak ya sama aku? Karena aku dan mas nya berakhir?" tanya Lia dengan cemas.
"Kamu nggak perlu cemas Li, Sinta pasti mengerti kalau masnya dia brengsek" kata ku menasehati Lia.
"Assalamu'alaikum teh Lia?" kata Sinta yang masuk ke pekarangan rumah Lia.
"Waalaikumsalam" Jawab kami bersama.
__ADS_1
"Loh Sinta kenapa kok malam-malam kesini. Ada apa Sin?" tanya Lia yang heran melihat Sinta uang tiba-tiba datang.
Dan Sinta langsung memeluk Lia. "Teh? Maafin Aa Satria ya, maafin Aa karena selingkuh, dan lebih tepatnya mereka sudah jalin hubungan 5 tahun. Tapi malah dekatin teteh" kata Sinta menjelaskan walau masih dalam pelukan Lia.
"Loh... Jadi Lia sahabat aku cuma jadi selingannya Satria itu, gimana luka Aa kamu itu? Semoga makin parah" kataku dengan nyolot.
"Huts, Ra. Jangan gitu!. Yaudah Sin mending kamu pulang aja ya. Percuma kalau kamu kesini untuk bujuk teteh balikan sama Aa kamu. Teteh udah kecewa, tapi tetap teteh maafkan kok. Jadi kamu pulang yah, udah malam juga" kata Lia dengan bijak tanpa ada amarah.
"Makasih ya Teh, kalau begitu Sinta pulang dulu Assalamu'alaikum" katanya sambil pamitan pulang.
"Waalaikumsalam Sinta" Jawab Lia sabar.
Aku heran dengan Lia yang sesabar itu, apa dia nggak tau kalau Satria itu cuma mempermainkan dia selama ini. Kenapa nggak di labrak aja sih, kesel deh punya sahabat selemot dia.
*Ara Pov end*
...***...
-KKN-
Di ruangan auditorium Fakultas Kesehatan, Ara mendengarkan pengumuman terkait KKN itu. Dan saat pemanggilan nama satu persatu serta nama tempat KKN nanti. Nama Ara tidak ada di daftar KKN yang berada di Banyumas.
Sedangkan nama Lia ada, hal ini membuat Ara bingung.
"Loh Li? Kok nama aku nggak ada ya? Gimana dong Li?" tanya Ara yang bingung serta cemas.
"Iya iya, nggak usah juga kali ceramahin aku" kata Ara dengan kesal. Sedangkan Lia hanya ber geleng kepala.
-Di ruang Kemahasiswaan-
"Permisi pak, saya Azzahra Wijaya mahasiswi farmasi semester akhir yang sekarang akan KKN." kata Ara mencoba pelan dan tidak gugup.
"Iya Mba Azzahra, anda belum menyerahkan formulir dan surat izin orang tua. Dan tadi pagi ada yang menyerahkan bahwa orang tua kamu hanya mengizinkan kamu untuk KKN di daerah tempat tinggal kamu." kata bapak yang mengurus kelangsungan KKN.
Hal ini membuat Ara syok, siapa yang memberikan izin tersebut.
"Loh pak, saya belum memberitahukan hal ini kepada orang tua saya. Bagaimana bisa orang tua saya memberikan izin KKN di daerah tempat tinggal saya?. Kalau boleh saya ingin melihat surat itu pak" kata Ara teguh pendirian.
"Boleh mba, ini suratnya dan silahkan dipahami bahwa yang bertanda tangan adalah ibu mba Azzahra sendiri" kata bapak itu dengan menunjuk surat tersebut.
"Tapi bagaimana mungkin pak?... Saya belum memberitahukan hal ini kepada orang tua saya" kata Ara dengan tegas.
"Saya tidak tahu menahu tentang ini. Yang penting mba Azza akan KKN di SMK Islam Jipang dan tidak ada rekan KKN lainnya.. Karena ini termasuk hukuman untuk mba Azza yang tidak memenuhi prosedur KKN dengan baik dan taat"kata bapak itu tegas. Membuat Ara meremas ujung bajunya. Lia memang tidak ikut ke dalam, dia hanya menunggu di depan pintu ruangan kemahasiswaan.
"Baik Pak, terima kasih. Kalau begitu saya permisi" kata Ara keluar dari ruangan.
Lia yang melihat Ara keluar dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan membuat Lia kebingungan.
"Ayo duduk dulu Ra," kata Lia menyuruh Ara duduk.
__ADS_1
"Siapa yang kasih tahu mamah sama papah aku KKN di Banyumas? Hiks hiks." kata Ara sambil menutup wajahnya sambil menangis.
Lia yang melihat Ara langsung saja memeluk Ara. Menenangkannya, "Ra, kamu harus pasrah ya, kamu KKN dimana jadinya?" tanya Lia akhirnya.
"Di sekolah kita dulu Li" jawab Ara dengan sendu.
"Bagus dong, kamu bisa jadi panutan di sana karena kamu termasuk mahasiswa dengan nilai terbaik sejak SMT 1" kata Lia mencoba membuat Ara semangat dan tersenyum.
"Nggak Li, ini hukuman untuk aku. Aku KKN tanpa rekan Li. Bayangin aja, aku pengen banget di Banyumas. Tapi,,,, aku harus KKN di sekolah aku dulu." kata Ara dengan menangis.
"Udah Ra, sekarang kita pulang ya. Jangan nangis, kamu harus kuat. Oh iya nanti aku traktir olos ayam 10 ribu hihihi" kata Lia mencoba menghibur Ara.
"Ih Lia, emang aku apaan hahaha.. Di sogok pake olos, nyogok itu pake barang branded wkwkwk" balas Ara sambil terkekeh lucu.
"Hihihi, udah yuk kita pulang. Aku juga mau packing kamu langsung pulang ya. Jangan mampir-mampir kemana-mana ya" kata Lia sambil tersenyum.
"Siap!" jawab Ara dengan hormat.
Mereka pun tertawa, melupakan semua masalah. Dan melanjutkan untuk pulang ke rumah masing-masing, sebelum itu Lia beneran membelikan Ara olos ayam 10rbu.
...***...
-Di Rumah Ara-
"Assalamu'alaikum, bi Ani!!! Mamah dan Aa mana?" tanya Ara sambil berteriak.
"Waalaikumsalam Ya Allah neng Ara kenapa marah-marah? Ibu dan Aa di halaman belakang" kata bi Ani menjawab sambil mengelus punggung Ara, cemas kepada anak majikan nya.
Ara langsung ke halaman belakang menghampiri mamah dan Aa nya. Melemparkan amplop yang berisi surat persetujuan KKN dari orang tua ke meja yang ada di hadapan mamahnya.
"Dek!!! Apa-apaan kamu hah?" tegur Aa nya yang marah dan berdiri menatap Ara dengan marah.
"Mamah, sejak kapan mamah peduli sama kuliah Ara? Bukannya mamah benci Ara masuk farmasi?... Dan kenapa sekarang mamah malah mengubah tujuan KKN Ara? Kenapa mah? Kenapa!!!" kata Ara berteriak kepada mamahnya dan menangis.
Mamahnya Ara hanya diam dan asik menyantap kue bolunya itu.
"Dek? Kamu kenapa? Kamu gila ya? Mamah orang tua kamu dek!!! Jaga bicara kamu" kata Adit sambil menatap Ara geram.
"Aa diam!! Ini urusan Ara sama mamah" kata Ara dengan marah.
"Cukup Ara!!! Kesabaran mamah sudah habis. Kamu mau tahu kenapa mamah melakukan ini semua, ini demi kebaikan kamu. Kamu sadar, kamu itu lemah. Penyakitan, ini alasan mamah nggak memperbolehkan kamu masuk farmasi yang harus mencium aroma kimia itu setiap saat. Kalau saja kamu masuk kedokteran, kamu bisa mengetahui kondisi kamu sendiri Ra.... Kamu harus paham itu Ra.... Bagaimana sedihnya mamah saat kamu berada di kandungan mamah, tapi lemah. Untung saja kamu masih berdetak. Sejak kecil kamu lemah Ra!!! Kamu paham sekarang??? Kenapa papah sama mamah selalu melarang kamu" kata mamahnya Ara berteriak dan langsung pergi ke kamarnya....
Ara yang mendengar itu langsung saja terduduk lemas dan menangis tersedu-sedu.
Adit yang melihat Ara rapuh dan fakta tentang adiknya pun langsung memeluk Ara. Ara menangis di pelukan Adit.
-Bersambung-
Jangan lupa votenya ya!
__ADS_1