
-Happy Reading Gaes-
Ara Pov
Hari ini aku pulang ke rumah, di bantu oleh Mas Ali dan Lia bebenah untuk pulang. Sedangkan Bu Sarah sudha pulang duluan untuk menyiapkan kamar ku di rumah.
Sembari menunggu mobil yang Mas Ali bawa dari parkiran, aku dan Lia duduk di lobi rumah sakit melihat lalu lalang orang yang ada di rumah sakit.
"Ra? kamu ingat nggak waktu kita ke Bandung kamu pernah masuk rumah sakit, karena terjatuh dari tangga lantai dua di rumah Adi" singgung Lia mengingatkanku tentang kejadian itu.
"Iya aku ingat, di rawat di rumah sakit ini juga kan. Yang kita kabur dari keluarganya Adi dan keluarga Anisa wkwkwk" jawabku terkikik geli mengingat kejadian itu.
Ara Pov end
Tak lama setelah itu datanglah Ali, lalu Ali membawa barang-barangnya masuk ke dalam bagasi mobil.
Ara menatap sendu keluar jendela, sedangkan Ali dan Lia asik berbincangnya.
Shafa dan Adi sedang menyantap makan siang bersama di ruang makan.
"A? hari ini rapi mau kemana? bukannya Aa tidak ada jadwal terbang!" tanya Shafa yang heran terhadap suaminya.
"Sayang, hari ini aku mau menyelesaikan semuanya. Aku, Ara, dan Tio hari ini harus memutus perasaan itu. Demi kelangsungan hidup kita semua." ucap Adi. Adi yang sudah selesai makan pun meninggalkan meja makan dan bersiap akan pergi, meninggalkan Shafa yang sedang makan.
Kondisi emosi Shafa sedang tidak stabil, cemburu, kesal, dan sedih menjadi campur aduk dalam perasaannya kini. Tanpa pikir panjang, Shafa segera menyusul adi ke kamar mereka.
__ADS_1
"A!, kenapa kalian bertiga masih berhubungan dengan masalahnya Mba Ara? Aa Farhan, Mas Tio dan diri Aa sendiri. Kenapa masih berhubungan?" tanya Shafa dengan nada tinggi bahkan air matanya sudah mengalir.
Adi yang terkejut mendengar itu segera menghampiri Shafa dan memapahnya untuk duduk di tepi tempat tidur mereka.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Adi heran.
"Jawab aku A!" bentak Shafa dengan menangis.
Adi yang heran pun melihat Shafa bersikap tidak seperti biasanya.
"Ara adalah wanita yang pernah Aa cintai, tapi kini Ara akan jadi bagian dari keluarga kita. Jika Kak Farhan berjodoh dengan Ara, otomatis Ara akan menjadi Kakak ipar tertua di keluarga Rahman" ucap Adi menjelaskan.
Shafa mendengarkan secara seksama, "Maka dari itu, permasalahan yang terjadi di antara kami harus segera selesai. Tio sudah bahagia dengan Karin, sedangkan aku sudah bahagia bersama kamu, tapi Kak Farhan dia belum, begitu juga dengan Ara. Semua ini adalah salah kami berdua, salah aku dan juga Tio" ucap Adi menjelaskan sambil mengusap air mata di pipinya Shafa.
"Aku cemburu!" ucap Shafa sambil menangis.
"Nggak perlu A, Shafa di rumah aja, lagi lemes banget pusing juga" ucap Shafa santai lalu beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Adi sendirian.
Adi heran dengan sikap istrinya itu.
Di ruang makan Shafa melanjutkan makan siangnya yang tertunda.
"Aa, berangkat dulu ya sayang, assalammualaikum" ucap Adi sambil mencium kepalanya Shafa.
"Iya hati-hati A, Waalaikumsalam." jawabnya sambil mencium punggung tangan Adi.
__ADS_1
---
Di hotel Tio dan Karin sedang berbincang mengenai permasalahan Farhan dengan Ara.
"Yang?" tanya Karin pada Tio yang serius menatap HPnya.
"Iya Yang ada apa?"jawab Tio namun masih fokus terhadap HPnya.
"Ara menolak Mas Farhan apakah ada alasan khusus?" tanya Karin sambil melepaskan HPnya dari genggaman Tio.
"Eh iya sayang, maaf ya aku terlalu fokus. Aku juga kurang tahu sayang apa alasan Ara menolak Mas Farhan. Tapi kata Adi, Mas Farhan marah-marah di depan rumahnya Adi dan bersulut emosi" cerita Tio.
"Berarti ini masalah yang serius yang, kamu jadi bertemu Ara dan Adi?" tanya Karin lagi.
"Jadi yang, tapi kamu nggak apa-apa kalau sendirian di hotel? kalau Namira nangis atau laper kamu bisa yang tanpa aku?" tanya Tio yang khawatir pada anak perempuan dan istrinya itu.
Namira anak perempuannya Tio dan Karin berusia 10 bulan, setelah menikah 2 tahun lalu. Karin dan Tio tidak menunda untuk program hamil.
"Nggak apa-apa selagi kita masih di Bandung, selesaikan semuanya ya sayang. Namira aman, kalau laper aku bisa atasi semuanya, kalau nangis juga aku bisa. Walaupun kita nggak bawa Mba Ami untuk ngasuh Namira, aku bisa sayang" ucap Karin meyakinkan Tio bahwa Karin bisa menjaga Namira, karena setelah melahirkan Namira di asuh oleh Mba Ami selaku pengasuhnya, hal ini yang membuat Tio khawatir.
"Ya sudah kalau bagitu, Insya Allah selesai ini kita jalan-jalan yah, aku pergi dulu ya sayang, assalammualaikum" ucap Tio sambil mencium kening istrinya. Sedangkan Namira sedang tertidur pulas.
"Waalaikumsalam sayang, hati-hati yah. Salam untuk Ara" ucap Karin dengan tersenyum.
Tio segera bergegas ke rumah Ara begitupun Adi, namun hati Karin dan Shafa masih belum ikhlas, karena suami mereka masih berhubungan dengan seorang wanita lajang yang sama-sama pernah dicintai.
__ADS_1
-Bersambung-