Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
19 : Hasil Dari Sabar, Ikhlas, Serta Syukur


__ADS_3

"Li, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Melia pada Lia.


"Oh hai! Aku sedang menemani Ara meminta surat observasi untuk besok" jawab Lia dengan santai.


"Baru mau observasi? tumben dia nggak gercep, pantes aja yudisium kemarin dia nggak ada. Aku kira cuti kuliah karena insiden waktu di Bandung. Wkwkwk" ucap Melia mengolok-ngolok Ara.


"Eh! mulut itu dijaga dong, ngakunya kuliahan tapi mulut macam anak SD!" ucap Lia yang kesal dengan ucapannya Melia yang menurutnya merendahkan Ara.


"Upps, ada orangnya" gumam Melia saat melihat Ara yang baru keluar dari ruangan LPPM.


Ara yang kesal langsung menyenggol bahunya Melia sehingga membuatnya tergeser secara kasar.


"Tahu tempat kalau mau ribut, dasar muka dua!" balas Ara dengan penuh penekanan.


"Kalian berdua rese!" ucap Melia geram dan pergi meninggalkan Ara dan Lia begitu saja.


"LOE RESE, GUE LEBIH RESE WOI!" ucap Ara dengan sedikit berteriak.


"Udah-udah Ra, mending sekarang kita pulang. Besok kamu harus observasi, dan mengambil proposal yang sudah kamu titip minggu lalu" saran Lia sambil menenangkan Ara yang sudah emosi dengan Melia yang sudah seenaknya begitu.


"Ih, aku udah tahu kalau dia itu penjilat. Kok bisa sih, si Adi tunangan sama tu lampir. Semoga cepat sadar deh tuh si Adi" ucap Ara mendumel.

__ADS_1


"Dulu waktu awal semester dia sok iya banget gitu. Caper boleh sih, tapi jangan ngadu domba juga. Persahabatan kita hampir renggang karena dia." ucap Lia mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu.


"Ya maklum lah, gara-gara jadi asprak kan?" ucapnya memastikan.


"Iya, yuk pulang. Sebelum itu kita makan seblak yuk. Udah lama nih nggak makan seblak" ajak Lia dengan girang.


"Yuk!" jawab Ara dengan semangat.


......................


"Yang? keadaan Adi gimana?" tanya Karin yang kini bersama Tio.


"Harus rehat, tapi udah pulang dari RS. Oh iya, aku kurang suka kamu terlalu dekat dengan Melia" ucap Tio menyarankan.


"Alhamdulillah, ego mereka udah pada turun. Semoga Ara dan Adi menemukan bahagia mereka masing-masing" gumam Tio.


"Syukurlah yang, kalau kamu udah bahagia?" tanya Karin memastikan kembali.


"Kamu bahagia aku juga bahagia, makasih yah sayang" ucap Tio sambil mengusap lembut pipi Karin.


Karin tersenyum seumringah, kini mereka sedang di perjalanan menuju ke boutique tempat mereka memesan baju untuk tunangan.

__ADS_1


Hujan mengguyur Kota Bumiayu, Ara dan Lia yang sedang berteduh menyantap seblak di tempat favorit mereka dengan menyaksikan hujan yang turun.


"Li? kamu masih belum moveon dari mas-mas Tentara itu?" tanya Ara padanya.


"Entahlah, belum jodoh. Kita harus lebih selektif dalam memilih pasangan" ucap Lia.


Ara tahu, perasaan Lia masih ada terhadap mas-mas tentara itu.


"Lalu kamu dengan mas Farhan gimana Ra?" tanya Lia kembali.


"Dia kakaknya Adi woi, masa aku nggak dapat adeknya sama kakaknya. Gila bener aku woi" ucap Ara sedikit kaget dan gelagapan menjawabnya.


"Yeeee, bilang aja kamu udah baper sama mas Farhan. Pepet aja terus Ra, mapan, tampan, ibadah juga Oke. Kalau kamu nggak mau, buat aku aja" ucap Lia becanda.


"Ih kamu yah Li. Kalau bicara suka sembarangan" jawab Ara kesal.


"Hehehe," balas Lia cengengesan.


Lia dan Ara mengobrol sambil menyantap seblak favoritnya itu.


Sambil bernostalgia beberapa tahun lalu ketika awal masuk sekolah dan kuliah.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2