
"Ra? Masih bersediakah kamu menjadi tujuan hidup ku" tanya Farhan serius.
Ara terdiam dan melihat Farhan, mencari kebohongan di matanya.
"Maaf Mas, perasaan ku tidak bisa dibohongi. Aku harap Mas segera berhenti" ucap Ara dengan tegas.
Farhan yang mengerti pun, meninggalkan ruangan rawat inap itu tanpa sepatah katapun.
Ara kembali menatap keluar jendela rawat inapnya, hujan sedang turun. Bahkan terlihat kilat petir yang sangat jelas terlihat.
Di luar Farhan yang kehujanan berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman luar. Niat baiknya yang ditolak kesekian kalinya membuatnya bersedih.
Di dalam mobil Farhan memukul stir dengan berteriak kencang.
"Aaaaaa, kenapa? Semua ini salah Lo Di!" ucap Farhan kesal. Lalu segera menuju rumahnya Adi.
Di rumah sakit, sore itu Ali kembali menghampiri Ara membawa takoyaki dan dimsum kesukaannya.
"Wah, kenapa bisa kebetulan begini. Aku lagi laper banget, makanan rumah sakit nggak enak" ucapnya girang.
Ali yang menatapnya pun tersenyum senang.
"Feeling aja, oh iya kemana tunangan kamu Ra?" tanya Ali bingung.
"Dia bukan tunangan aku mas, mas Farhan hanya melamar ku. Dan sudah aku tolak dengan baik" ucap Ara santai sambil membuka kotak makanan itu.
"Loh, kenapa? Kalian serasi" ucap Ali bingung.
__ADS_1
"Perasaan nggak bisa dibohongi, walaupun nanti aku berjodoh dengannya mungkin itu nanti. Untuk saat ini belum, biarlah dia menunggu atau jika lelah carilah pendamping yang pantas" ucap Ara lagi.
"Teguh pendirian sekali, apakah aku bisa mendekatinya" ucap Ali dalam hati sambil memandang Ara.
"oh begitu" ucap Ali langsung.
"Makasih ya Mas, ini enak banget" ucap Ara dengan tersenyum.
"Iya sama-sama "
Senyuman Ara membuat Ali kembali tersipu malu, kembali lagi Ali merasakan cinta itu. Cinta pada pandangan pertama yang dia kira hanya kagum semata.
Shafa POV
Aa Adi habis mandi sore, sekarang lagi ngeteh di depan rumah sambil menikmati rintik hujan, sedangkan aku sedang duduk di ruang tengah sambil mengelus perut buncit ku buah cinta kami berdua.
"Keluar Lo Di!!!" ucap Aa Farhan di depan gerbang rumah kami.
Aku yang mendengar itu penasaran dan keluar.
Aa Adi sedang menghampiri Aa Farhan membuka gerbang rumah kami menggunakan payung. Namun tak lama setelah itu.
*Bugh *Bugh
"Apaan Lo kak? Gue salah apa?" tanya Aa Adi kebingungan. Akupun bingung, tak tega melihat suamiku di pukuli begitu.
"Semua ini salah Lo Di! Coba aja Lo nggak menyakiti Ara begitu, semua ini nggak akan berimbas ke gue. Gue nggak akan ikut campur sama urusan Lo, dan terjebak mencintai mantan Lo Di. Cinta gue di tolak!!!" ucap Aa Adi marah di tengah hujan deras itu.
__ADS_1
"Bukan salah gue Kak! Itu salah Lo. Kenapa Lo ikut campur sama urusan gue? Itu urusan gue buat netap atau pergi dari sisi Ara." ucap Aa Adi membalas.
Ini situasi apa?
Apa aku hanya dijadikan pilihan setelah semuanya!
Shafa POV
"Sekarang Lo tangung jawab, Lo bilang sama Ibu. Gue nggak akan menikah sampai Ara nerima gue!" ucapan Adi bagaikan sumpah, bahkan petir pun berbunyi dengan kilat yang terang.
"Oke, gue akan tangung jawab. Lo kayak bocah dan nyalahin gue. Itu hak Ara untuk memilih siapapun" ucap Adi kesal lalu pergi ke dalam rumah.
Farhan pun pergi dari rumah Adi, Adi melihat Shafa sedang menatapnya sedih.
Adi pun menghampiri Shafa dan merangkulnya lalu mencium kepalanya.
"Maafin Aa ya Fa, ini hanya salah paham. Maaf masa lalu masih membayangi kami semua." ucap Adi dengan lembut.
"Aa? Apa Shafa hanya pilihan? Jika mba Ara masih mencintai Aa apakah Aa juga akan menikahinya?" ucap Shafa yang sedih.
"Bukan, kamu bukan pilihan. Tapi jawaban aku selama ini" ucapnya dengan tegas.
Malam itu hancur bagi Farhan, tanpa pikir panjang dia segera pulang dan merapikan barang-barangnya.
"Sampai jumpa digaris yang ditakdirkan untuk kita berdua" ucapnya sambil menatap bingkai foto yang berisi gambar Ara menggunakan jilbab untuk pertama kali, foto yang di ambil secara candid.
-Bersambung-
__ADS_1