Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
08 : Tampil Beda


__ADS_3

Happy Reading


4 minggu kemudian


Sudah hampir selesai masa KKN Ara dan Lia, sekarang mereka sibuk menyusun laporan akhir. Dan juga skripsinya, sedangkan di rumah Ara, Anna adiknya membuat masalah. Yang membuat Ara tidak betah di rumah.


Kini Ara sedang menikmati soto ayam di kantin sekolah itu. Dengan tambahan gorengan bakwan dan minumnya es teh.


"Ra? Kamu nggak ada niatan untuk hubungi Adi lagi?" tanya Lia dengan hati-hati. Karena jika hal yang menyangkut tentang Adi. Ara akan kesal dan malas membahasnya.


"Untuk apa Li? Dia itu udah sibuk sama pekerjaannya dia. Dan kamu tahu sendiri keluarganya di sini udah pindah semua. Mereka semua pindah ke Bandung. Untuk apa aku mikirin dia lagi?. Dia pergi gitu aja, pas aku udah punya perasaan sama dia. Oke, aku emang salah. Kenapa nggak dari awal aku nerima dia jadi orang yang paling aku sayang di hidup aku. Tapi perasaan nggak bisa dibohongi Li. Aku dulu terlanjur cinta sama Tio, dan dulu ketika aku mau ikhlas melupakan Tio, aku mencintai Adi. Tapi, Adi pergi gitu aja dengan semua kenangan aku sama dia. Dia tega ninggalin aku demi orang lain" kata Ara dengan sendu.


Untung saja suasana kantin masih sepi.


"Ra? Jangan sedih😭. Kamu wanita kuat Ra, udah ya jangan sedih. Aku yakin kok kamu bisa lupain Adi seperti kamu lupain Tio" kata Lia sambil menggenggam tangan Ara.


"Iya Li, udah deh jangan lebay. Untuk apa juga aku mikirin dia, dia aja belum tentu mikirin aku. Sekarang kita fokus sama skripsi kita oke" kata Ara dengan tersenyum.


"Iya Ra, oh iya nanti siang setelah dzuhur akan ada sosialisasi dari puskesmas setempat. Katanya sih tentang gerakan dan prilaku hidup sehat gitu. Pematerinya cowok loh, aku dengar dari bu Tisa, pematerinya apoteker Ra" kata Lia dengan girang.


"Hahaha kamu ini bisa aja. Kalau masalah apoteker langsung gercep. Yaudah yuk bayar, aku udah selesai nih" kata Ara dengan tersenyum.


Namun saat Ara hendak berdiri dari duduknya, ada siswa yang menyenggolnya dan menumpahkan es teh manis ke rok Ara.


"Astagfirullah ya ampun maafkan saya Teh, saya tidak sengaja" kata siswa itu meminta maaf dan memberikan tisu pada Ara untuk membersihkan roknya yang basah karena es teh.


"Peristiwa ini, sama kayak pertama kali kita kenal Di. Kamu nabrak aku di kantin ini, tapi kali ini bukan kuah bakso melainkan es teh" Gumam Ara yang masih termenung.


"Ra? Ayo kita ke toilet!" kata Lia menyadarkan lamunan Ara.


"Udah gapapa dek, santai aja" kata Ara pada siswa itu dengan tersenyum dan langsung menatap Lia.


"Maaf ya teh sekali lagi" Kata siswa itu menyesal.


"Iya gapapa" jawab Ara dengan senyuman.


"Ayuh Ra ke toilet di bersihkan dulu" ajak Lia dan menarik lengan Ara.


...***...


-Ara pov-


"Untung aja ya Li kamu bawa rok lain. Jadinya aku bisa ganti pakai rok ini." kataku pada Lia dengan senyum.


"Iya lain kali hati-hati okeh, jangan kebanyakan melamun, dan juga jangan ceroboh. Oh iya nih sisir rambut kamu dulu. Berantakan dekat poninya. Kamu jarang ke salon lagi ya Ra? Kok rambut kamu susah diatur gitu!" tanya Lia yang peduli dengan penampilanku. Karena memang benar sudah lama aku tidak perawatan rambut biasanya rambutku nurut dan mau di atur. Sekarang harus selalu disisir.


"Hihi iya nih, belum sempat dan banyak kerjaan yang lain juga" jawab ku dengan terkikik geli.


"Dasar kamu. Yaudah yuk ke aula nanti pihak dari puskesmas datang loh" Kata Lia mengingatkanku.

__ADS_1


Aku memang tidak tahu siapa apoteker cowok yang dibicarakan oleh Lia, katanya sih berprestasi gitu. Ah sudahlah nggak baik juga mikirin orang lain.


Aku dan Lia masuk ke aula sekolah dan ternyata sosialisasinya sudah di mulai. Dan yang aku lihat pertama kali adalah dia. Dia cowok yang dulu nyerempet mas Arya.


Pandangan kami berdua bertemu, Masya Allah kenapa dia tampan sekali? Dia dan jas putih nya itu,Ā  sesuai dengan profesinya.


Aku pun ikut duduk di bagian belakang mendengarkan materi yang diisi olehnya. Tentang banyak hal, semuanya tentang hidup sehat.


Sekitar 1 1/2 jam materi disampaikan, acara pun selesai.


Aku membantu organisasi PMR merapikan aula ini. Dan saat aku merapikan bangku-bangku plastik ini.


Farhan nama laki-laki ini, dia menghampiri ku dan memberikan satu botol air mineral dingin untukku.


Kenapa dia begitu perhatian?


"Assalamu'alaikum Hai Azzahra. Kita bertemu lagi, apa kabar?" tanya dia padaku.


Lia pake ngilang lagi, bagaimana aku menghadapi pria ini.


"Waalaikumsalam oh Hai Mas Farhan, alhamdulillah baik mas" jawab ku seadanya.


"Ini diminum dulu. Kamu kelihatan capek banget" katanya memberikan air mineral itu tepat ditanganku.


Loh, loh kok dia senekat ini?...


"Hmm makasih ya mas" kataku seadanya.


"Ara free kok mas, apalagi dia nggak bawa kendaraan pribadi. Sekalian antar Ara pulang ya mas. Kalau makan jangan seafood dan coklat hihihi" kata Lia menyela ku. Belum sempat menjawab sudah disela terlebih dahulu oleh Lia.


"Siap" kata mas Farhan dengan tersenyum.


Aku yang kesal langsung melotot ke arah Lia, Lia hanya tertawa kecil.


Awas dia nanti.


-Ara pov end-


...***...


"Azzahra saya boleh menanyakan suatu hal sama kamu?" tanya Farhan hati-hati. Mereka kini sedang nongkrong di cafe yang lumayan terkenal.


"Silahkan mas, kenapa?" tanya Ara juga heran.


"Ra, apa kamu mengenal Adi Aulia Rahman? Dia juga lulusan SMK tadi" tanya Farhan hati-hati.


"Uhuk uhuk uhuk" Kata Ara yang tersedak minumannya.


"Ra? Kamu tidak apa-apa? Hati-hati" kata Farhan langsung berdiri dan mengusap punggung Ara.

__ADS_1


"Udah mas aku nggak apa-apa, makasih yah" kata Ara dengan pelan. Karena tersedak, air matanya pun sampai keluar.


Farhan pun kembali ke tempat duduknya. "Iya kenal mas, sekarang dia sudah jadi pilot dan di kontrak oleh maskapai penerbangan garuda" jawab Ara santai.


"Oh begitu, hmm Ra. Kamu bisa antarkan saya ke rumah orang tuanya?" tanya Farhan dengan pelan.


"Keluarga Adi sudah pindah ke Bandung mas," jawab Ara dengan singkat lagi.


"Kalau begitu bisakah kamu antarkan saya ke Bandung menemui keluarganya?" tanya Farhan dengan mantap.


"Hmm memangnya mas Farhan ada urusan apa dengan Adi dan Keluarganya?" tanya Ara yang mulai penasaran.


"Hanya ingin silaturahmi" kata Farhan dengan percaya diri.


"Oh yaudah mas, weekend ini aku free kok. Rencana mau kapan ke sana? Nanti aku bakal ajak mas Arya, soalnya mas Arya juga punya keluarga di Bandung" kata Ara dengan tersenyum.


"Nanti sore bisa nggak?" tanya Farhan dengan sungguh-sungguh.


"Hmm sore ini?. Bisa aja sih, yaudah aku izin sama orang tua atau Aa aku dulu ya mas. Boleh ajak Anna nggak adik aku?" tanya Ara dengan ragu.


"Boleh kok, sekalian jalan-jalan aja ke TSB. Kamu pernah ke TSB Ra?" tanya Farhan lagi.


"Pernah waktu kunjungan industri Jakarta-Bandung. Mas kayak anak kecil aja, memangnya mas belum pernah ke TSB?" tanya Ara penasaran.


"Pernah waktu kuliah sama temen-temen fakultas" jawab FarhanĀ  dengan tersenyum.


"Oh kirain belum" Kata Ara beroh-ria.


...***...


*Di rumah Ara*


Karena orang tuanya Ara dan Adit sudah kembali lagi pada rutinitas masing-masing di Jakarta. Ara hanya minta izin melalui telpon. Kini Ara dan Anna sedang merapikan pakaian dan perlengkapan lainnya yang akan dibawa ke Bandung selama 3 hari.


Karena tanggal merah juga, Anna bisa ikut bersama Ara ke Bandung. Sedangkan Nisa dan Lia juga ikut. Karena syarat Ara pergi ke Bandung jika Lia dan Nisa juga ikut.


"Teh, udah deh jangan bawa novel. Emangnya teteh di sana mau baca novel? Harusnya teteh bawa make-up supaya tampil cantik di hadapanĀ  Aa Adi" kata Anna dengan mengejek.


"Apaan sih dek, kamu aneh deh. Teteh nggak mau ketemu Adi. Teteh cuma mengantar mas Farhan. Lagi pula kita bakal nginap di rumah tantenya mas Arya. Bukan di rumah Adi, udah sana turun ke bawah. Bantuin Lia masukin koper ke mobil" kata Ara memerintah Anna.


"Iya-iya deh teteh bawel" jawab Anna dengan malas.


Kini Ara mengambil tas selempang nya dan memasukkan dompetnya dan tak lupa Al-Qur'an kecil ke dalam tasnya. Novel yang dianggap Anna itu adalah Al-Qur'an. Kenapa Ara tidak terus terang jika dia sering membaca Al-Qur'an. Hal ini dikarenakan Anna selalu banyak bicara, dia akan bicara jika Ara sudah hijrah. Padahal Ara belum sepenuhnya berhijrah. Maka dari itu dia menganti sampul Al-Qur'an dengan cover putih polos.


"Ya Allah, apakah hamba sudah saatnya menutup aurat?" kata Ara sambil bercermin melihat dirinya yang kini sedang menyisir rambutnya.


-Bersambung-


Jangan lupa divote yah, please☺☺☺

__ADS_1


⬇⬇⬇


⭐


__ADS_2