
Adi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, namun ada kontrol setiap minggunya.
Keluarga Adi belum bisa datang karena ada urusan keluarga di Bandung.
Maka dari itu Adi diurus oleh Farhan, terkadang Ara datang bersama Tio.
Dikala hubungan mereka mulai membaik, nyatanya tak selamanya indah.
"Rin? kamu nggak curiga si Tio bakal balik lagi sama si Azzahra?" tanya Melia yang kini mereka sedang memanjakan dirinya di salah satu salon.
"Itu urusan Tio, Adi dan Ara. Biarkan mereka menjalin hubungan persahabatan itu, yang penting aku tahu kalau Tio hatinya tetap padaku" ucap Karin positif thinking.
"Kamu tau Rin, Adi menolak untuk bertemu dengan ku" ucap dengan lesu.
"Mungkin Adi ingin sendiri, jangan overthinking" kata Karin menenangkan kegelisahan yang Melia hadapi.
"Kamu nggak tahu rasanya Rin tiap malam aku menunggu kabar dari Adi, tapi nggak ada sama sekali dia menghubungi aku. Saat aku datang ke rumah mas Farhan, dia menolak bertemu kata pembantunya" ucap Melia lesu.
"Nih yah Mel, aku kasih tahu. Jangan mengekang laki-laki, kita juga sebagai perempuan kadang suka kesal kalau dikekang. Yang penting kita tahu hati kekasih kita itu untuk siapa, hanya itu. Tumbuhkan lah rasa percaya" ucap Karin menjelaskan karena sudah lelah dengan sikap Melia yang ingin mengomporinya.
......................
"Di! kamu ada masalah sama tunanganmu?" tanya Farhan yang kini mereka sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton acara TV.
"Kak, di hari aku kecelakaan itu. Karena aku melihat yang seharusnya tidak aku lihat" ucap Adi kesal.
__ADS_1
Adi Pov
Siang itu, aku meninggalkan Melia sendiri di depan toserba.
Namun setelah aku berpikir jernih karena bertemu tante Siska dan Anna, aku kembali ke toserba itu untuk menjemputnya. Namun hal yang tidak terduga aku lihat.
Aku melihat Melia dijemput oleh mantan kekasihnya, bahkan mereka terlihat sangat akrab. Aku tidak tahu itu kebetulan bertemu atau memang Melia minta dijemput oleh mantannya itu.
Dengan maksud ingin menanyakan hal itu, aku sengaja mengikuti mobil mereka. Aku kira Melia hanya diantar sampai di depan pagar rumahnya, tapi ternyata laki-laki itu masuk bersama dengannya.
Aku tahu, Melia hanya tinggal sendiri. Karena keluarganya sedang ada urusan di Bandung.
Karena kesal dan merasa dibohongi, aku lajukan mobilku meninggalkan komplek perumahan Melia. Menyetir dalam keadaan emosi membuatku tidak fokus. Dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu.
Adi Pov End
"Lalu kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini Di? jangan bohongi perasaan kamu" saran Farhan sebagai seorang kakak.
"Apa kakak tertarik dengan Ara?" tanya Adi tiba-tiba.
"Kenapa mengalihkan pembicaraan? ini tentang dirimu dengan Melia. Dia sepupu jauh kita, kalau kita gegabah. Hubungan keluarga bisa buruk" ucap Farhan menasehati.
"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini kak, Melia bahagia dengan masa lalunya. Dan aku tidak akan kembali mengejar cinta Ara. Karena aku, Ara dan Tio sepakat untuk menjadi sahabat." jelasnya pada Farhan.
Farhan yang bingung hanya menatap singkat, lalu melanjutkan melihat HPnya.
__ADS_1
"Selesaikan secara baik-baik" pesan Farhan pada Adi.
......................
Ara yang kini sibuk bimbingan dengan dosennya membuatnya lelah, namun tetap semangat.
"Ra? kamu capek? kok keringetan banget?" tanya Lia yang kini mereka sedang duduk di ruang tunggu depan ruangan LPPM.
"Sedikit, maaf ya Li! Dulu aku sibuk sama perasaan sendiri aja. Aku nggak nemenin kamu buat penelitian dll. Maaf yah" ucap Ara memelas.
"Ih! Nggak papa kali, aku juga belum kerja. Masih santai dan banyak waktu, yang penting kamu semangat aja yah. Skripsi itu sendiri-sendiri memang, toh aku cuma nemenin doang. Yang wara-wiri kan kamu, aku cuma ngasih tahu tempat dan tata caranya" ucap Lia menjelaskan.
"Justru itu, menemani. Itu yang paling aku syukuri. Maafin aku yah, yang dulu sering bohong sama kamu terkait skripsi.Aku selalu jawab udah selesai padahal belum sama sekali. Aku selalu jawab udah bimbingan pada nggak sama sekali" ucap Ara merasa bersalah.
Lia menggenggam tangannya Ara.
"Nih yah Ra, dengerin aku. Aku mau kita sama-sama sukses. Dengan kamu bangkit dan semangat lagi itu udah jadi kunci utama. Jangan sedih lagi ya" ucap Lia menyemangati.
"Makasih ya Lia, oh iya! Ini Bu Yuli sudah mengabari. Suruh masuk aja katanya, aku masuk dulu ya Li" ucap Ara girang dan segera masuk ke ruangan itu.
Lia mengangguk dan tersenyum.
"Aku harap kamu bisa semangat dan terus berjuang. Aku tahu kamu itu mampu Ra, hanya saja masalah internal membuat kamu menjadi hilang arah" gumam Lia dalam hati sambil memperhatikan pintu ruangan itu.
-Bersambung-
__ADS_1