Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
30 : Sakit Ini Tak Seberapa


__ADS_3

Ara lemas tak berdaya dengan infus yang terpasang di tangan kirinya. Bu Sarah sibuk mengelap dahinya Ara yang berkeringat, bibir kering dan wajah yang pucat.


Menurut pemeriksaan awal, Ara kekurangan cairan sehingga dehidrasi dan membuatnya demam tinggi. Pola makan dan pola tidur yang tidak dijalankan dengan benar, mempengaruhi kesehatannya.


"Bagaimana Bu? Keadaannya Azzahra?" tanya Ali dengan cemas, sambil membawakan buah dan beberapa kue basah.


"Masih lemas mas, belum membaik. Demamnya juga masih tinggi, padahal sudah di infus sejak pagi tadi. Obat juga sudah lewat suntikan bukan diminum lagi. Tapi tetap saja tidak ada perubahan" ucap Bu Sarah memaparkan.


"Innalilahi, semoga Azzahra cepat membaik. Keluarganya sudah dikabari atau belum" tanya Ali lagi.


"Neng Ara tidak mau mengabari nyonya. Katanya nanti ribet" ucap bU Sarah.


"Susah juga ya, kalau begitu. Begini saja Bu, lihat sampai nanti sore bagaimana kondisinya." ucap Ali.


"Iya Mas, ibu juga khawatir" ucap Bu Sarah bingung.


Sore itu, Farhan yang baru tahu kabar tentang Azzahra yang baru masuk rumah sakit langsung saja menanyakannya kepada staf rawat inap.


Dengan tergesa-gesa Farhan datang ke kamar rawat inap Azzahra.


"Bu bagaimana keadaannya Ara?" tanya Farhan khawatir.


"Sudah sadar mas, tadi sempat tidak sadarkan diri. Sekarang memilih tertidur" ucap Bu Sarah.


"Syukurlah, saya baru tahu tadi sore Bu. Saya baru selesai praktek" ucap Farhan meminta maaf.


"Iya mas, tidak apa-apa. Ibu minta tolong jaga neng Ara dulu ya. Ibu mau ke kantin RS" ucap Bu Sarah memohon.


"Iya Bu. Saya yang jaga Ara nanti" ucap Farhan.


Bu Sarah pun pergi ke kantin RS, tinggallah mereka berdua. Farhan duduk di sebelah Ara, sambil memegang tangan kanannya.


Menggenggam tangannya dan menempelkan ke dahinya.


Farhan menangis karena tidak bisa selalu ada untuk Ara.


"Ra, aku mohon. Kamu cepat sehat, aku mohon maafkan aku untuk masa lalu. Aku ingin kita dekat seperti sebelumnya" ucap Farhan terisak.

__ADS_1


Ara tidak tidur, dia mendengar semua ucapan Farhan. Ara membuka matanya dan melihat Farhan yang begitu tulus padanya. Ara memalingkan wajahnya ke kiri pelan, dan bersedih.


"Aku pun ingin seperti itu mas, namun kenyataannya aku belum bisa memaafkan secara ikhlas. Apalagi menerima kamu sebagai suami aku" ucap Ara dalam hatinya.


......---......


Keesokannya Ara dijenguk oleh Shafa dan Adi, berbarengan dengan Ali serta Farhan yang juga ada di sana. Mereka berdua tidak pernah absen untuk menjenguk Ara.


"Assalamualaikum, wah nggak nyangka banget ada 2 bodyguard di sini" ucap Shafa yang terkejut melihatnya.


"Waalaikumsalam" ucap mereka berbarengan.


"Ya begitulah Fa, oh iya. Kamu kok ke sini sih, lagi hamil juga." ucap Ara tidak enak pada Shafa.


"Nggak apa-apa, aku kesini bawain mba salad buah" ucapnya girang. Dan segera duduk di sebelah Ara, Ara pun menekan tombol agar tempat tidurnya bisa ke posisi duduk.


Farhan yang tahu pun, langsung memasang meja kasur pasien, karena Ara mau langsung memakan salad buatan Shafa.


"Makasih ya A," Ucap Shafa pada Farhan.


"Tabiat dari dulu, selalu ceroboh. Padahal sudah apoteker, lo harus nikah sepertinya Ra!" ucap Adi menceramahinya.


"Pacar Lo yang baru Ra?" tanya Adi yang heran melihat Ali.


"Bukan Mas, saya Ali. Kepala apoteker di RS ini, atasannya Azzahra" ucap Ali mengenalkan diri.


Langsung dijabat lah tangannya Ali oleh Adi.


"Kenalin, gue Adi. Sahabatnya Ara, gue titip dia ya. Tegur aja kalau buat masalah" ucap Adi becanda.


Langsung dilempari boneka beruang mini oleh Ara pada Adi.


"Hahaha" ucap Adi tertawa.


"Nah kalau ini kakak gue, kayaknya Lo berdua seumuran deh. Namanya Farhan, tunangannya Ara" ucap Adi penuh penekanan.


Karena Adi tahu pasti Ali ada maksud tertentu pada Ara, maka dari itu harus mengenalkan Farhan sebagai tunangannya.

__ADS_1


Ara yang sedang makan pun tersedak, begitu pula dengan Farhan yang tersedak karena sedang meminum kopi.


"Tuh cocok kan mereka, sama-sama tersedak" ucap Adi tertawa kecil.


Shafa yang melihat itu pun langsung memberikan tatapan tajam pada Adi, dan Adi langsung diam.


"Aa Farhan belum jadi tunangannya mba Ara, tapi sudah melamar mba Ara 2 tahun lalu, Mas. Saya sekeluarga menyampaikan karena takut menimbulkan fitnah" ucap Shafa menjelaskan.


"Iya Mas, jadi Mas Farhan ini sudah melamar saya 2 tahun lalu." ucap Ara memperjelas.


"Oalah begitu, semoga lancar sampai pelaminan. Kalau begitu saya izin pamit. Ada kerjaan mendadak " ucapnya sambil melihat hp nya yang berbunyi, tanda dari Instansi Farmasi.


"Aamiin" ucap mereka bersamaan kecuali Ara dan Farhan.


Setelah Ali pergi, Ara kesal pada mereka semua.


"Kalian apa-apaan sih, ini kan masalah pribadi. Kenapa harus bawa-bawa mas Ali?" tanya Ara kesal.


"Mba, semuanya agar tidak menimbulkan fitnah" ucap Shafa menjelaskan.


"Iya aku tahu, tapi kan mas Ali itu nggak ada maksud apa-apa ke aku. Cuma rekan kerja aja," ucap Ara lagi.


"Alah, cowok ke Ali gitu. Aku udah tahu Ra, dia sebagai atasan deketin kamu. Karena ada maunya, jadi cewek jangan mudah terpedaya" ucap Adi memperingati Ara.


"Sudah tidak perlu dibahas lagi, sebaiknya Ara istirahat. Bu Sarah juga sudah berangkat kemari. Kamu dan Shafa kembali saja ke rumah. Kasihan Shafa sedang mengandung" ucap Farhan menengahi.


Adi dan Shafa yang mengerti dan pamit kepada Ara. Sedangkan Farhan masih menemani Ara, Farhan berjalan ke arah jendela dan menatap pemandangan di luar sana.


"Ra, kamu tahu kenapa saya berbohong perihal Adi dan saya kepadamu?" tanya Farhan tanpa menatap Ara.


"Tidak" balas Ara.


"Semua itu aku lakukan karena aku sudah menyukaimu sejak seminar kefarmasian itu. Sikap kamu membuat aku susah untuk berpaling dan bingung menyampaikannya bahwa aku adalah kakaknya Adi" ucap Farhan menjelaskan.


"Kenapa? Apa yang mas sukai dari aku?" tanya Ara.


Mereka saling pandang dan menatap dengan lekat.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2