Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
27 : Lamaran ?


__ADS_3

Sudah 1 bulan semenjak Ara seminar proposal. Ara kira jika dia sudah seminar, orang tuanya akan sedikit mengerti terhadap dirinya.


Namun semua itu hanya harapan sia-sia.


Ara sering menyendiri di salah satu cafe dekat rumahnya. Ara hanya ingin semuanya diperlancar, bahkan ketika sahabatnya Lia wisuda. Ara tidak datang karena dirinya malu terhadap sahabatnya.


"Permisi Mba, dompetnya tadi jatuh" ucap perempuan dengan balutan gamis serta jilbab yang panjang. Wajahnya yang berseri membuatnya tampak cantik.


"oh iya Terima kasih yah" ucap Ara dengan berterima kasih.


"Sama-sama Mba" ucapnya dan berlalu pergi.


"Tunggu sebentar, apakah kamu sibuk? bagaimana kalau saya teraktir makan siang?" tawar Ara dengan ramah.


"Saya tidak sibuk Mba, tapi saya ikhlas menolong Mba. Dan terima kasih atas tawarannya Mba. Saya pamit dulu Assalamu'alaikum" ucap perempuan itu berlalu pergi.


"Waalaikumsalam, Masya Allah. Adem banget lihat dirinya" gumam Ara terdiam melihat sosok perempuan yang membantunya itu.


......................


Farhan yang kini sudah pulang dari RS langsung pergi ke rumahnya Ara. Rumahnya Ara sedang sepi, hanya ada Ara seorang.


"Assalamu'alaikum Azzahra" ucap Farhan ramah.


"Waalaikumsalam Mas, kita bicara di teras saja ya. Saya sedang sendirian di rumah" ucapnya dan mempersilahkan Farhan duduk di bangku teras rumahnya.


"Iya Azzahra tidak apa-apa. Kedatangan saya kemari untuk mengucapkan hal penting" ucap Farhan dengan serius.


"Hal penting apa Mas?" tanya Ara bingung.


"Saya ingin mengungkapkan niat baik saya untuk menjalin hubungan dengan kamu. Kalau kamu mengizinkan saya akan melamar kamu kepada orang tua kamu." ucap Farhan to the point.


"Melamar? saya masih kuliah mas! Belum lulus belum punya pekerjaan" ucap Ara terkejut dengan menjelaskan.

__ADS_1


"Hal itu tidak masalah bagi saya, jika kamu berusaha pasti bisa lulus tahun ini. Mau jadi apapun kamu, saya siap menerima kamu" ungkap Farhan serius.


"Tapi mas, saya kan mantannya Adi." ucap Ara bingung.


"Lalu? apakah ada masalah?" ucap Farhan.


"Mohon maaf mas, kita baru saja kenal. Saya belum siap. Biarkan waktu yang menjawabnya mas. Saya ingin fokus kuliah dan karir saya dulu. Ketika waktunya sudah pas, baru saya akan menikah, dan mas Farhan adalah orang pertama yang akan saya pertimbangkan" ucap Ara tegas tanpa menyakiti Farhan.


"Saya akan tunggu hari itu Ra, saya akan tetap mendukung kamu" ucap Farhan dengan sepenuh hati.


"Terima kasih Mas, kalau begitu sebaiknya mas Farhan pulang saja. Tidak baik berlama-lama di rumah saya, karena saya sendirian" ucap Ara sopan.


"Baiklah, assalammualaikum Azzahra" ucap Farhan dan berlalu pergi.


"Waalaikumsalam" jawab Ara menatap kepergian Farhan dengan pandangan sendu.


......................


Semenjak lamaran itu, Ara yang bingung harus bagaimana. Bahkan revisian skripsinya belum kunjung ia kerjakan. Keluarga? hanya menuntut agar cepat selesai. Menuntut agar Ara menjadi sosok sempurna.


Di pagi hari Ara pergi ke supermarket untuk membeli beberapa camilan untuk dia stok di rumahnya. Adiknya Anna sedang sibuk mengurus tesnya untuk masuk ke dunia perkuliahan.


Lia sudah resmi wisuda, gelar S.Farm tersemat di belakang namanya.


Mendorong troley menyusuri lorong-lorong supermarket membuatnya bosan. Sampailah ia di rak yang memajang beberapa gelas-gelas unik.


Ara mengambil gelas panjang bahan keramik berwarna putih tulang. Namun bersamaan dengan seorang wanita yang juga memegang gelas keramik itu.


"Duluan aja mba" ucapnya dengan sopan.


"Maaf, saya cuma ingin lihat. Bukankah kita pernah bertemu di Cafe waktu itu?" tanya Ara yang familiar dengan wajah wanita itu.


"Masya Allah," ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Saya Azzahra Mba, senang bisa bertemu kembali. Terima kasih kemarin sudah memberitahu saya terkait dompet" ucap Ara dengan tersenyum tulus.


"Sama-sama Mba, nama saya Shafa. Saya baru 2 bulan di kota ini dan menetap di kota ini" ucapnya ramah.


"Di sini kuliah?" tanya Ara penasaran.


"Saya hanya lulusan SMA mba, dulu sekalian mondok. Sekarang bantu-bantu di pesantren dekat rumah" ucapnya dengan tersenyum.


"Oh begitu, pesantren mana Fa? bolehkan aku panggil kamu Shafa?" ucap Ara akrab.


"Boleh mba, kita sambil jalan aja mba. Saya juga sudah selesai berbelanja. Pesantren Al-Hikam mba" ucapnya menyarankan.


"Oh iya oke, aku juga udah selesai nih" ucap Ara dengan tersenyum.


Di rumah, Adi dan Farhan membahas tentang lamaran Farhan yang belum juga dijawab oleh Ara.


"Gue harap apa yang nanti jadi jawaban Ara adalah jalan terbaik ya Kak!" ucap Adi yang juga ikut cemas terhadap Farhan.


"Gue juga harap gitu" ucapnya dengan menundukkan kepala.


-Bersambung-


Mohon doa nya ya readers 🤍.


Author baru aja sembuh, dan semoga aktifitasnya bisa berjalan lancar serta bisa melanjutkan menulis cerita ini.


Aamiin.


Jangan lupa Vote🥰


Jumat


18:29

__ADS_1


17 Februari 2023


__ADS_2