Jodoh Ku Satu Profesi

Jodoh Ku Satu Profesi
34 : Mencintai seseorang yang tidak diinginkan


__ADS_3

Siang itu Ara sedang istirahat di kamarnya, sedangkan Bu Sarah, Ali, dan Lia sedang makan siang, tak lama dari itu datanglah Adi dan Tio. Tio membawa buah-buahan untuk Ara.


“Assalammualaikum” ucap Adi dan Tio bersamaan.


“Waalaikumsalam” jawab mereka bersamaan.


“Lia sejak kapan lo di sini?” tanya Adi basa-basi.


“Gue udah dari 2 hari yang lalu, kebetulan banget nih. Lo nggak terbang?” tanya Lia lagi.


“Gue lagi free, oh iya mana Ara. Gue sama Tio ada urusan” ujar Adi to the point.


“Iya nih Lia, kita berdua butuh Ara” ucap Tio menambahkan.


“Ara lagi istirahat Mas, kasihan baru saja pulang dari rumah sakit” ucap Alilangsung.


Bu Sarah yang sedang menerima bingkisan pun langsung melihat ke arah Ali.


“Sorry nih, lo siapanya Ara?” tanya Tio heran.


“Namanya Mas Ali, beliau rekan kerjanya Ara di RS” jawab Adi.


Tio yang paham pun langsung menjabat tangan Ali.


“Gue Tio sahabatnya Ara, salam kenal” ucap Tio jelas.


“Saya Ali, salam kenal Mas” jawab Ali dengan tersenyum.


“Nah itu neng Ara keluar” ucap Bu Sarah memecahkan suasana.


Karena mendengar suara pintu kamarnya Ara yang terbuka.


“Loh? Kalian ngapain ada di sini? Istri kalian mana?” tanya Ara bingung melihat Adi dan Tio.


Ara yang masih menggunakan piyama tidur lengan panjang dengan jilbab langsungan, wajahnya pucat.


“Karin sama Namira di hotel” jawab Tio langsung.


“Shafa di rumah” jawab Adi langsung.


“Terus kenapa kalian ke sini? Ada hal penting kah? Jangan bilang ini masalahnya Mas Farhan?” terka Ara langsung.

__ADS_1


“Mending kita bertiga ngobrol di ruang tamu aja atau dimana?” tanya Tio memperjelas, karena saat ini semuanya sedang mendengar percakapan mereka.


“Bu, tolong buka ruang kerja saya ya. Terus buatkan 2 kopi dengan gula setengah sendok teh aja, terus di laci bawah ada biskuat utuh, tolong masukkan ke dalam toples yah. Mas Ali, Lia sorry yah aku ada urusan sama bapak-bapak ini dulu?. Lo berdua tunggu gue di ruang kerja gue!” ucap Ara tegas dan langsung pergi ke kamarnya, karena ingin mengganti bajunya.


Lia pun memberikan kode kepada Ali untuk ikut dengan dirinya ke taman belakang. Sedangkan Bu Sarah  menyiapkan hidangan untuk kedua sahabatnya Ara.


“Mereka mau apa lagi sih? Si Shafa sama si Karin kan sudah jadi istrinya mereka, kenapa


mereka nggak mikirin perasaan istrinya sih” ucap Ara kesal.


---


“Han?” tanya ibunya pada Farhan.


“Iya Bu ada apa?” tanya Farhan heran melihat Ibunya tiba-tiba masuk ke kamar.


“Bagaimana dengan Azzahra?” tanya Ibunya.


“Azzahra baru keluar rumah sakit Bu, kecapean katanya.” Ucap Farhan singkat dan masih fokus dengan kerjaannya.


“Kamu tidak tanya terkait lamaran kamu? Lalu barang-barang ini mau dikemanakan Han? Kamu baru juga datang” tanya Ibunya heran.


“Ara masih muda untuk menikah saat ini Bu, karirnya sedang naik. Jika menikah dengan Aan, maka Aan tidak mengizinkan Ara untuk berkerja Bu. Aan juga akan menjadi relawan di Papua Bu” ucap Farhan tegas.


“Jangan Bu, Aan mohon jangan. Azzahra masih betah melajang” ucapan Farhan seakan kode terhadap ibunya bahwa Azzahra menolak Farhan.


“Ya sudah, Ibu harap kamu di Papua menemukan jodoh kamu. Tidak perlu menunggu Azzahra lagi. Lagi pula dia mantan adikmu Han!” ucap Ibunya meremehkan dan berlalu pergi.


---


Shafa yang tidak tenang menghubungi kakaknya yaitu Melia.


"Assalammualaikum Mba? Mba sibuk?" tanya Shafa di telpon.


"Waalaikumsalam, nggak sibuk dek. Ada apa? kenapa suara kamu begitu?" tanya Melia keheranan.


Melia kini sudah menjadi ibu anak 1 yang usianya sudah 2 tahun, anak mereka adalah laki-laki bernama Satria.


Melia tinggal bersama keluarga Hanif di Purwokerto, Melia menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Purwokerto sedangkan suaminya yaitu Hanif mempunyai usaha rental mobil, sepeda dan juga kendaraan roda dua.


"Mba, Aa Adi masih memikirkan Mba Ara" ucap Shafa sambil menangis.

__ADS_1


"Memikirkan bagaimana?  kalian sudah dewasa dan akan memiliki seorang anak." ujar Melia bingung.


Shafa pun menceritakan semuanya, membuat Melia emosi.


"Sudah!, sekarang kamu lebih baik pulang ke rumah ibunya Adi. Ceritanya semuanya pada ibunya Adi, biar ibunya yang menegur anaknya itu" ucap Melia kesal.


Shafa hanya terdiam dan menangis.


Sedangkan di rumahnya Ara, Adi dan Tio sedang berbincang.


"Maksud kalian apa sih datang-datang ke sini malah kek mau ngelabrak orang tahu nggak? istri kalian bukannya di bawa. Aku capek di curigai mulu" ucap Ara kesal.


"Istri kami berdua urusan kami, kamu kenapa menolak Mas Farhan?"tanya Tio kesal.


"Iya Ra, kenapa kamu tolak kakak Ku?" tanya Adi sama persis.


"Perasaan tidak bisa dipaksakan! Kalau jodoh nggak akan kemana, lagian Mas Farhan ngebet banget sih. Kalau emang ngebet pengen nikah, nikah aja sama orang lain jangan sama aku" ucap Ara yang kesal, karena urusan pribadinya diusik.


"Iya itu hak kamu, tapi masalahnya Kak Farhan gebukin aku. Dia kesal, katanya kamu menolaknya karena sikap aku ke kamu dulu" ujar Adi menerangkan.


"Hah! Kenapa kayak anak kecil banget sih Di. Nih yah, kalau emang Mas Farhan mau menikah, silakan menikahlah dengan wanita manapun, wanita yang dipilihkan ibumu atau siapa. Mas Farhan ada rasa kepadaku karena kasihan bukan karena cinta " ucap Ara tegas.


Semuanya terdiam, mengingat semua rentetan peristiwa yang mereka alami.


"Tio, Adi. Kita sudah dewasa, hal menikah bukan seperti membeli permen, ada uang ada permennya. Bukan seperti itu, aku berhak menentukan dengan siapa aku menikah. Aku menolak Mas Farhan dengan cara yang baik, dan alasan yang tepat" ucap Ara menekankan.


Sedangkan Ali dan Lia penasaran hal apa yang dibicarakan Ara dengan Tio dan Adi di ruang kerjanya.


Tak lama, Hp Ara mendapatkan chat WhatsApp dari Melia. Setelah membaca pesan itu, Ara menangis dan menutup wajahnya.


Adi penasaran dan melihat hpnya Ara.


"Istri gue kelewatan!" ucap Adi kesal.


"Bukan Shafa yang kelewatan tapi kalian. Wajar aku mendapat cacian begitu, untuk kedepannya kita tidak perlu bertemu lagi. Dan maaf ucapkan pada Shafa, aku bukan wanita seperti itu. Lebih baik kalian pulang, dan bilang sama Mas Farhan aku tidak ingin menikah dengannya, aku tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan keluarga mu lagi Di. Demi kebaikan bersama, demi dirimu dan Shafa, demi Tio dan Karin. Persahabatan yang kita bangun, cukup sampai di sini saja" ucap Ara sambil menangis. Dan keluar dari ruang kerjanya, langsung masuk ke kamarnya.


Lia dan Ali yang melihat Ara keluar sambil menangis, membuat mereka khawatir. Lia yang mengerti menyuruh Adi dan Tio segera pulang, dan menyuruh Ali untuk pulang juga.


"Lebih baik kalian pulang, gue nggak mau kesehatan Ara jadi memburuk" ucapnya tegas.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan Lupa Like, komen, dan Sub yah, Vote juga kalau berkenan agar author semangat menulis.


__ADS_2