
Brum! Brum!
Suara mobil berhenti tepat di halaman rumah Damar. Kedua orangtuanya Damar yang masih asik memandangi foto cucu mereka di depan televisi langsung menghentikan aktivitas mereka tersebut. Mereka saling tatap mempertanyakan siapa yang berkunjung malam-malam di rumah mereka.
"Eh, itu mobilnya siapa malam-malam datang?" tanya ibunya Damar penasaran.
"Entahlah, Ayah juga tidak tahu." Ayahnya Damar mengangkat bahu.
"Lebih baik, Ayah cek saja ke depan biar jelas!" Ayahnya Damar segera beranjak dari kursi.
"Tidak perlu dicek! Itu mobil yang akan mengantarkan aku pergi!" cegah Damar tersenyum. Kaki jenjangnya mulai menuruni anak tangga. Tangannya menggeret koper berukuran besar.
Kedua orangtuanya segera melihat ke arah Damar. Mata mereka melebar melihat Damar berpenampilan sangat rapih. Belum lagi koper yang dia bawa membuat hati mereka ketar-ketir.
"Astaga, anak itu mau pergi ke mana kok rapih amat? Lalu, kopernya itu?" gumam ibunya Damar gelisah.
"Entahlah, Ayah pusing sekali memikirkan tingkahnya. Gara-gara ulah Kayla, dia berubah tiga ratus enam puluh derajat. Sikapnya yang penyayang, ramah dan lemah-lembut sudah sirna. Hanya ada amarah saja di hatinya." Ayahnya Damar menggelengkan kepala tidak mengerti.
"Oh Tuhan, kenapa keluarga kami harus mengalami masalah serumit ini hanya karena terlalu ingin memiliki generasi penerus? Andai saja, kami tidak melulu mendamba ... pastilah keluarga kami masih utuh dan tidak tercerai berai seperti ini," gumam ibunya Damar sedih.
Kini Damar sudah berada di bawah. Dia melangkah mendekati kedua orangtuanya masih menggeret kopernya juga.
"Kamu mau ke mana malam-malam begini, Nak?" tanya ibunya Damar khawatir.
"Aku mau pergi sebentar untuk menenangkan pikiran. Ibu sama Ayah tidak perlu khawatirkan aku. Aku janji tidak akan berulah di luaran sana. Aku hanya berusaha untuk melupakan semua luka di hati ini. Tetap tinggal di rumah ini malah membuatku selalu ingat tentang kebohongan-kebohongan itu." Damar tersenyum miris.
"Apa kamu tidak punya pilihan lain selain pergi dari rumah? Kalau kamu pergi, bagaimana dengan perusahaan kita?" tanya ibunya Damar bingung.
"Tidak ada, Ibu. Jika aku tak pergi ... bayang-bayang luka itu semakin menggerogoti jiwaku. Aku tidak mau terus-terus memendam amarah ini. Apa Ibu mau melihat aku sakit jiwa?" Damar mulai menaikkan volume suaranya karena kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu, Nak! Ibu hanya ...." Ibunya Damar bingung harus berkata apalagi.
"Kalau hanya soal perusahaan, aku akan tetap mengurusnya walaupun aku tidak ada di Indonesia. Aku akan tetap giat bekerja. Jadi, kalian tenang saja," jelas Damar menyambung ucapan sang ibu.
"Astaga, jauh sekali kamu ingin menenangkan diri sampai ke luar negeri segala? Apa kamu tidak ingin menyaksikan tumbuh kembang anakmu?" tanya ibunya Damar shock.
"Astaga Ibu ini masih saja mengeyel. Kan, sudah aku katakan bahwa dia bukan anakku. Aku sama sekali tidak menginginkan anak haram itu," jelas Damar mulai emosi. Dia sangat marah jika orang tuanya mulai membahas anak dari hasil hubungan terlarangnya itu dengan Kayra.
Plakkk!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Damar. Sang ayah sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan Damar yang salah. Menurutnya Damar memang harus diberi pelajaran agar bisa mengontrol emosinya.
Ibunya Damar langsung menangis. Dia sangat shock mendengar kata-kata Damar yang sangat tidak bermoral itu.
"Baiklah, aku pergi! Tolong jaga kesehatan kalian!" Damar memegangi pipinya yang terasa perih dan panas. Dia segera membalikkan tubuhnya tak ingin berlama-lama lagi berurusan dengan kedua orangtuanya. Hal itu malah akan semakin memperkeruh suasana jiwanya.
Ayahnya Damar diam saja tidak menjawab atau mencegahnya. Berbeda dengan ibunya, dia masih ingin berusaha mengurungkan niat anaknya pergi.
Tadi sepulang dari rumah sakit, Damar sama sekali tak keluar kamar. Jadi, mereka tak bisa menunjukkan foto cucu mereka. Padahal ibunya Damar sudah bolak-balik mengetuk pintunya. Namun, Damar tidak memedulikannya.
Damar hanya menghela napas kasar. Dia sama sekali tidak menanggapinya. Kaki jenjangnya bergegas melangkah pergi.
"Mar, Ibu serius! Kamu harus lihat foto ini dulu!" Ibunya Damar hendak mengejarnya sambil menangis. Namun, sang suami segera menahannya.
"Tidak perlu sampai seperti itu, Bu! Anak itu masih kerasukan jiwanya. Jadi, biarkan saja dia pergi. Ayah yakin perkataannya itu akan menjerumuskan dirinya sendiri kelak ke lembah penyesalan yang teramat dalam," terang ayahnya Damar agar istrinya mau mengerti.
"Tapi Yah, kasihan sekali cucu kita yang tidak berdosa itu? Pasti dia akan merindukan ayahnya?" tanya ibunya Damar menangis tersedu-sedu.
"Menurut Ayah hal itu tidak akan pernah terjadi. Soalnya, ada David yang bisa menggantikan posisinya. Pengalaman David itu sudah banyak bersama Kayra, jadi pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan keluarganya," jelas ayahnya Damar sangat yakin.
__ADS_1
"Baiklah, semoga saja apa yang Ayah katakan itu benar." Ibunya Damar langsung memeluk sang suami sambil tersedu-sedu.
"Aamiin." Tangan ayahnya Damar mengusap bahu sang istri.
Kini Damar sudah berada di perjalanan diantar oleh sekertarisnya bernama Fatan. Di mobil dia diam saja. Pikirannya semakin kacau karena keluarganya sama sekali tidak ada yang mau mengerti perasaannya.
Mereka malah menumbuhkan luka di hatinya secara terus-menerus dengan menyebutkan anak yang dilahirkan Kayra begitu mirip dengannya. Dia sama sekali tidak menginginkan hal itu. Baginya kehadiran anak itu hanya akan menorehkan luka di hatinya selalu.
Bayang-bayang tentang hubungan terlarangnya dengan Kayra akan serta-merta tampak selalu jika melihat wajah anak itu. Belum lagi kebohongan yang diciptakan sepasang kakak-adik kembar itu pastilah akan terus membuat kebencian dan kemarahannya berkobar-kobar.
"Maaf Pak, aku hampir lupa menyerahkan amplop titipan dari Pak David," ucap Fatan tetap fokus menyetir. Tangannya meraba-raba dasbor mobil untuk mengambil amplop tersebut.
"Aku tidak sudi menerimanya! Tolong kamu buang saja!" tegas Damar dingin.
"Baik, Pak!" Fatan mengurungkan niatnya. Dia tidak jadi memberikan amplop tersebut pada Damar. Dia mengembalikan amplop tersebut ke tempatnya.
Damar sengaja menolak amplop tersebut karena tak ingin melanjutkan permasalahannya dengan pihak keluarga sang istri. Dia yakin kalau amplop tersebut pasti berisi uang.
"David-david, memang kamu pikir dengan kamu mengembalikan uangku ... maka aku akan berhenti membenci istrimu. Ternyata, rasa cintamu padanya berhasil menutupi keburukan istrimu itu. Kalau aku jadi kamu, maka aku tidak akan sudi menerima tubuh kotornya itu," umpat Damar dalam hati. Dia tersenyum getir.
Tiba-tiba saja bayang-bayang saat dia bercinta dengan Kayra terngiang kembali di kepalanya. Bagaimana Kayra malu-malu saat melayaninya. Dia juga mengingat kembali bagaimana dia mengemis pada Kayra meminta haknya sebelum Kayra melahirkan waktu itu.
"Ah, berhenti!" teriak Damar karena tak tahan membayangkan semua itu.
Citttt!
Fatan segera menginjak rem mobilnya mengikuti arahan bosnya.
Brukkk!
__ADS_1
Tubuh Damar terhuyung ke depan, hingga membentur dinding kursi di depannya.