
Mereka semua langsung menatap ke arah David.
"Istriku, lebih baik kamu urus Davin saja dan tolong lanjutkan apa yang aku kerjakan di kamar," perintah David menatap Kayra.
"Ba-baik, Mas!" Kayra segera berdiri. Lalu, melangkah mendekati David. Pelan-pelan dia meraih tubuh Davin dan menggendongnya. Baru saja dia hendak melangkah, suara Kaysa menghentikannya.
"Unda, ikut!" panggil Kaysa. Dia meminta diturunkan dari gendongan Pak Sopir.
"Iya, sini, Sayang!" Tangan Kayra melambai-lambai meminta anaknya mendekat.
Kaysa mengangguk lalu berlari cepat menghampiri ibunya. Lalu, mereka melangkah bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, terdengar suara ambulan datang. Pak Sopir segera menghampirinya untuk menyuruhnya masuk ke dalam. Sedangkan, pembahasan soal pertengkaran David dan Nayla ditunda dulu karena sudah tidak ada waktu.
Begitu ambulannya berada di dalam pekarangan rumah. Para petugas medis langsung menurunkan brankar dan mendorongnya ke arah Nayla. Lalu, mereka mengangkat tubuh Nayla dan meletakkannya di atas brankar. Kemudian mendorongnya kembali menuju ambulan.
"Vid, Ibu mengantar Nayla duluan? Ibu harap kamu juga menyusul ya sama Kayra? Ibu mohon temani Ibu di rumah sakit. Ibu juga masih ingin tahu masalah apa yang menyebabkan kalian bertengkar lagi sampai seperti ini," ucap ibunya Nayla mencoba tersenyum. Lalu, segera mengikuti para petugas medis.
"Pak Sopir, sebaiknya kamu ikuti mereka," perintah David malas. Mendengar permintaan ibunya Nayla membuat jiwanya tak bergairah.
"Iya siap, Den!" Pak Sopir mengangguk patuh. Lalu, kembali ke mobil untuk mengikuti ambulan yang membawa Nayla.
"Huh, belum-belum sudah diminta menemani mereka. Bosan sekali, jika hidupku harus terus dibawah kendali mereka. Pokoknya, hari ini aku harus kembali pulang ke rumah dan menyerahkan kembali perusahaan mereka. Terserah mau siapa yang mengurusnya, aku tidak peduli. Yang terpenting bagiku, anak dan istriku terhindar dari perbuatan buruk Nayla." David segera melangkah kembali ke dalam rumah.
Mbak Suni langsung mengatai rencana David itu. Dia menyayangkan aksi David yang lebih memilih anak istrinya ketimbang tetap tinggal di rumah Nayla.
"Huh, sayang sekali pemikirannya cetek banget. Padahal kurang apalagi coba Ibu sama Non Nayla itu. Mereka rela menyerahkan apa yang mereka miliki sama dia. Bahkan, mereka juga sampai rela membiarkan dia membawa anak dan istrinya tinggal di sini. Perlakuan Ibu pun sangat baik sama mereka. Memang sih, Non Nayla yang tidak baik di sini sama anak dan istrinya itu. Tapikan, itu terjadi gara-gara dianya yang pilih kasih," gumam Mbak Suni gemas.
__ADS_1
***
Kini David sudah sampai di dalam kamar lagi. Dia langsung melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sementara, Kayra masih baringan di atas kasur menyusui Davin. Sedangkan, Kaysa sibuk memainkan mainannya di lantai.
"Mas, serius dan yakin mau pergi dari rumah ini?" tanya Kayra menyimak kegiatan David.
"Tentu, Mas yakin, Sayang! Kalau kita tetap di sini, pasti Nayla akan semakin semena-mena sama kamu setelah tahu bahwa kamu yang sekarang sangat lemah dan patuh. Tidak seperti Kayra palsu yang tangguh itu," jelas David tersenyum.
"Itulah perbedaan antara aku dan almarhumah Mbak Kayla. Aku lemot, dia aktif. Aku penakut, dia pemberani. Em, kira-kira apalagi ya perbedaan kami?" Kayra berpikir keras.
"Kamu subur, dia mandul. Kamu bertubuh padat berisi, dia kurusan. Pokoknya kamu lebih menggoda kalau menurutku," sahut David tersenyum geli.
"His, apaan sih, Mas!" Wajah Kayra memerah karena malu.
"Itu fakta, Sayang! Sungguh, aku merasa rugi besar karena Damar pun pernah ikut andil merasakan apa yang seharusnya hanya jadi milikku itu. Andai, aku tahu sejak awal ... sudah aku patahkan tulangnya itu. Apalagi dia malah menyalahkan kamu," sewot David cemberut.
"Hehe, maaf! Oh ya, kalau kita kembali hidup susah apa kamu bersedia? Soalnya, kita akan kembali lagi ke kehidupan asal kita?" tanya David menghela napas.
"Tentu, aku bersedia, Mas. Malah aku berencana ingin membantu kamu," jawab Kayra tersenyum hangat.
"Hem, kamu mau membantu apa memangnya?" goda David tersenyum geli.
"Aku berencana jualan kayak dulu lagi," jawab Kayra terkekeh geli.
"Hem, lalu bagaimana dengan nasib dua bocil itu? Apa kamu ingin menjadikan mereka alat penglaris?" tanya David terkekeh geli.
"Hisk, mana ada seperti itu." Kayra mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Ya ada sajalah yang seperti itu. Itu buktinya banyak seorang wanita berpakaian compang-camping di pinggiran jalan besar membawa anak balitanya untuk mengais rejeki. Bahkan, ada juga yang rela menyewa balita segala," jelas David terkekeh geli.
"Hisk, memang boleh aku seperti itu?" sewot Kayra cemberut.
"Amit-amit, Sayang. Selama Mas masih bernapas, mana mungkin Mas mengizinkan istri mas bersusah payah mencari rejeki. Sudah, kamu lebih baik fokus merawat dan menjaga dua bocil saja. Soal, uang biar Mas saja yang usaha," jelas David menarik reksleting kopernya. Dia sudah selesai memasukkan pakaian dua anaknya ke dalam sana. Tinggal bajunya dan baju Kayra saja yang belum.
"Baik, suamiku terlopeh-lopeh. Istrimu ini akan fokus merawat dan menjaga anak-anak di rumah saja," ucap Kayra tersenyum geli.
"Good, itu baru namanya istri yang patuh dan taat pada suami." David mengacungkan dua jempol untuk Kayra sambil tersenyum senang.
"Eh, tapi, kalau sambil jualan di teras rumah gimana? Aku nggak usah keliling deh. Bolehkah?" tanya Kayra masih penasaran dengan niatnya membantu David mencari uang.
"Astaga, kamu ini masih ngeyel saja. Apa kamu tidak trauma dengan kejadian yang menimpa Kaysa waktu itu?" tanya David mencoba membuat istrinya mengerti keadaan.
"Ups, iya, aku melupakan kejadian itu. Kalau begitu, aku nggak usah jualan gorengan lagi. Aku buat es cream, jus, dan jualan makanan ringan saja yang aman," jelas Kayra masih ngeyel.
"Aduh, sulit sekali menasihati kamu. Lebih baik, aku buat kamu mengandung lebih capat saja biar kamu nggak bisa berkutik lagi," ancam David tersenyum genit.
"Ih, jangan gitu, ah! Baiklah, aku nggak jadi jualannya," sewot Kayra kesal.
"Nah, gitu baru top!" David kembali mengacungkan dua jempolnya pada Kayra. Dia tersenyum senang bisa mengalahkan tekat baik sang istri.
Kayra langsung terkekeh geli melihat aksi sang suami. Ternyata suaminya yang sekarang tak seperti dahulu lagi. Suaminya yang sekarang bertanggung jawab penuh, menafkahi dia dan anak-anaknya.
"Terima kasih banyak Tuhan atas hidayah-Mu. Aku benar-benar merasa bersyukur dengan perubahan sikap suamiku yang melebihi dari kata sempurna," batin Kayra sangat senang dan bersyukur.
David kembali memasukkan baju dia dan Kayra ke dalam koper yang satunya. Tiba-tiba pesan dari ibunya Nayla terngiang. Dia segera menanyakan persetujuan dari Kayra.
__ADS_1
"Sayang, tadi ibunya Nayla meminta kita buat menemani dia di rumah sakit. Apa kamu setuju? Kalau aku sih jujur sangat malas. Lebih baik, aku bersih-bersih rumah kita yang kotor daripada menemani dia menjaga Nayla?" tanya David lesu.