
"Bukan Bunda yang aneh, tapi ayahmu yang aneh. Kaysa, coba tengok tukang sayurnya sudah datang atau belum. Nanti, kalau sudah datang bilang sama Bunda, ya? Bunda, mau ke kamar mandi dulu sebentar," ucap Kayra tersenyum kikuk.
"Iya, Unda." Kaysa segera berlari kecil keluar dari dalam kamar. Dia tidak sabar ingin mengecek tukang sayur langganan bundanya.
"Wah, otak istriku memang jenius." David memeluk Kayra gemas. Mengecupi pipinya juga.
"Sudah ah." Kayra mendorong pelan tubuh David agar menghentikan aksinya.
"Cepat sana Mas pakai baju sebelum Kaysa kembali. Habis itu jagain Davin. Aku mau bersih-bersih juga. Tubuhku rasanya lengket semua," titah Kayra tersenyum.
"Siap, istriku!" David segera keluar dari dalam selimut. Hal itu membuat Kayra mengalihkan pandangannya karena geli melihat tubuh sang suami tanpa sehelai benang pun.
"Hey, kenapa kamu langsung melihat ke arah lain? Apa tubuh suamimu ini terlalu buruk, sehingga kamu tak suka menatapnya?" goda David memulai aksinya memakai sehelai demi sehelai pakaian.
"Auk, ah! Gelep!" Kayra tersenyum geli. Lalu, mengecupi pipi gembul Davin.
"Oh ya, nanti malam kita lanjut lagikan?" goda David tersenyum genit.
"Hisk, apaan sih, Mas! Masa tiap malam mau gituan mulu. Memangnya, nggak capek apa?" tanya Kayra masih menciumi pipi gembul Davin.
"Hem, kalau Mas sih bukannya capek ... Mas malah semakin bersemangat menjalani hari-hari kita yang biru itu," jelas David segera melangkah ke kasur kembali karena sudah selesai memakai bajunya.
"Oh, tapi, akunya yang bakalan nggak sanggup jika terus-terusan." Kayra tersenyum geli, lalu segera bangkit dari kasur dengan tubuh yang tertutupi selimut.
David yang jahil segera menginjak ujung selimut yang berserakan di lantai. Jadilah selimut yang dikenakan Kayra merosot ke bawah. Terlihatlah tubuh polos Kayra itu.
David tersenyum gemas melihat pemandangan yang aduhai itu. Rasanya ingin sekali dia menerkam istrinya. Namun, waktunya sedang tidak tepat.
"Ah, Mas, ini jangan jahil gitu dong? Bagaimana kalau Kaysa sampai melihatnya?" gerutu Kayra kesal.
Di saat bersamaan benar saja Kaysa langsung menongol dari balik pintu karena ingin mengabari bundanya soal kedatangan tukang sayur langganan mereka.
"Ih, Unda tok dak malu sih, dak pake baju di depan Ayah?" tanya Kaysa terkekeh geli.
Kayra segera meraih selimut yang melorot di lantai. Lalu, membalutkan ke tubuhnya lagi. Dia benar-benar malu menjadi tontonan putri kecilnya.
__ADS_1
"Eh, bukan begitu, Sayang. Ini tadi, Bunda nggak sengaja selimutnya tersangkut. Jadi, lepas sendiri deh," jelas Kayra tersipu malu.
"Oh, tapi, napa Unda dak pake anduk aja? Kok, malah pake imut sih mau andi? Unda, hari ini aneh banet?" tanya Kaysa menggelengkan kepalanya.
"Aduh, ini bocah cilik kok pertanyaannya ribet banget ya?" batin Kayra tersipu malu. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Dia langsung menatap suaminya sinis.
David yang ditatap sinis hanya tersenyum geli saja. Dia segera naik ke atas kasur menghampiri Davin yang mulai tak nyaman. Sepertinya, popoknya sudah penuh dan minta diganti.
"Eh, Sayang, itu tukang sayurnya sudah datang belum?" tanya Kayra mengalihkan pembicaraan.
"Em, udah datang tok. Ayo kita beli sayur," ajak Kaysa tidak sabar lagi.
"Oke, tunggu bentar ya! Bunda, mandi dulu!" Kaysa segera berlari cepat menuju kamar mandi.
***
Di tempat lain, terlihat seorang pria baru saja bangun. Pandangannya langsung beralih menatap ke sebelah tempat tidurnya yang kosong. Setiap pagi dia mengingat kenangan manis bersama almarhumah sang istri. Bibirnya tersenyum tipis. Sungguh dia merindukan momen bahagia itu.
Namun, seketika senyumannya itu sirna tatkala mengingat kebohongan yang diciptakan sang istri. Dia kembali mengacak rambutnya frustrasi. Lalu, bergegas bangkit dari kasur. Kemudian, berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia ingin mengguyur kepalanya yang terasa mendidih itu dengan air dingin.
***
Kini keluarga kecil Kayra sedang berada di teras rumah. Seperti biasa, Kayra selalu mengantar suaminya ke motor saat akan berangkat bekerja. Setelah keluar dari perusahaan Nayla, David kembali melamar pekerjaan ke bengkel lama tempat dia bekerja dulu.
"Ayah, berangkat kerja dulu, ya? Kaysa, jangan nakal di rumah! Tolong bantu Bunda menjaga Dedek Davin, ya? Rumahnya juga jangan diberantakin terus. Kasihan sama Bunda yang harus merapikannya bolak-balik. Ingat kalau sudah selesai bermainnya langsung dirapikan," pesan David mengecup pipi putrinya gemas.
"Iya, Ayah." Kaysa tersenyum manis.
"Anak pintar!" David mengusap lembut pucuk kepala anaknya.
"Sekarang gantian Kaysa yang cium pipi Ayah," perintah David memasang pipinya di depan sang putri.
Cup! Cup!
Kaysa mendaratkan bibirnya ke pipi David.
__ADS_1
"Em, anak ayah memang paling patuh dan pintar," puji David tersenyum bahagia. Tangannya mengusap lembut pipi putrinya.
Kaysa tersenyum hangat. Lalu, memeluk ayahnya erat. David semakin terharu dengan aksi putrinya tersebut. Tangannya mengusap lembut bahu putrinya. Baru kali ini putrinya se-posesive ini padanya.
Kayra ikut terharu menyaksikan aksi putrinya yang sedikit berlebihan itu.
"Sudah ya, Ayah mau berangkat kerja dahulu! Nanti, malam Ayah janji deh nggak ninggalin Kaysa bobo sendirian lagi." David mengusap lembut bahu putrinya.
Kaysa semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan, dia sampai menitikkan air mata.
"Ayah, anji ulang te rumahtan anti?" tanya Kaysa terisak-isak.
Kayra langsung mengerutkan keningnya. Mendengar pertanyaan putrinya itu membuat jantungnya berdebar-debar. Dia langsung merasa cemas dan takut.
"Tentu Ayah akan pulang ke rumah, Sayang! Kan, ini rumah Ayah juga," goda David terkekeh geli. Dia terheran-heran dengan pertanyaan konyol putrinya.
"Ayah, anji loh?" ulangi Kaysa terisak-isak. Dia melepaskan pelukannya. Lalu, menatap serius bola mata ayahnya.
"Iya, Ayah janji." David mengecupi seluruh bagian wajah putrinya karena terlalu gemas. Tak lupa tangannya juga mengelap bekas aliran air mata putrinya dengan dua ibu jari.
Kaysa langsung tersenyum senang.
"Ya sudah. Ayah, mau gantian pamitan sama Bunda dan Dedek Davin, ya?" David mengusap pucuk kepala Kaysa lagi.
Kaysa mengangguk.
David segera bangkit dan menggeser tubuhnya mendekati sang istri yang masih menggendong putranya.
"Mas, pamit kerja dulu. Doakan rejeki Mas lancar ya? Nanti, akhir pekan kita jalan-jalan biar nggak suntuk di rumah mulu," ucap David tersenyum hangat. Dia langsung mengecup pucuk kepala Kayra cukup lama.
"Iya, Mas. Doaku selalu menyertaimu," balas Kayra tersenyum hangat.
David menjauhkan bibirnya dari kening Kayra.
"Sekarang gantian dong, kamu yang kasih kiss Mas biar tambah semangat kerjanya," perintah David tersenyum genit. Dia menyamakan tinggi wajah mereka karena tinggi Kayra hanya sebahunya.
__ADS_1