
"Ayah, mau bicara apa?" tanya Ibu tepat di dekat telinga Ayah. Ibu berdiri di sisi ranjang sebelahnya agar dia dan Damar bisa sama-sama berada di dekat Ayah.
"A-yah, ma-u min-ta ma-af ka-re-na ng-gak bi-sa la-gi men-dam-pingi I-bu men-di-dik Da-mar," ucap Ayah terbata-bata
"Ayah, nggak boleh berbicara seperti itu. Ayah harus sembuh," tolak ibunya Damar tersedu-sedu.
Ayah menggeleng sambil tersenyum.
Ibu langsung memejamkan matanya sedih. Tubuhnya lemas tak berdaya. Sungguh dia belum ikhlas melepaskan pasangang hidupnya ini.
"Un-tuk ka-mu, A-yah mo-hon pa-tuh-lah sa-ma I-bu. Ja-ngan e-go-is la-gi." Ayah menatap Damar sendu. Terlihat jelas kekecewaan dari wajahnya mengingat sikap anaknya tempo hari.
"Iya, Damar akan patuh sama Ibu." Damar tersedu-sedu.
Ayang langsung tersenyum bahagia. Kemudian memejamkan matanya.
"Ayah!" teriak mereka histeris.
Ibu langsung memeluk tubuh Ayah. Sedangkan, Damar langsung runtuh pertahanannya di lantai. Tangannya masih menggenggam erat jemari tangan Ayah. Lalu, mengecupnya kidmat.
Dokter dan suster yang baru datang langsung mendekat. Terlihat jelas kepanikan di wajah mereka.
"Maafkan kami karena datangnya terlambat. Tadi, di ruangan lain juga ada yang sedang kritis. Izinkan kami melakukan pemeriksaan sekarang," ucap dokternya menghela napas.
"Tidak perlu, ayahku sudah tenang sekarang." Damar langsung menggeleng cepat.
"Baiklah, sekali lagi kami mohon maaf?" ucap dokternya kecewa karena tidak bisa menangani pasiennya dengan baik.
"Tidak apa, ini memang sudah takdir." Damar tersenyum miris. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan pergi secepat ini.
Dokternya tersenyum sedih menyaksikan aksi Damar dan ibunya.
"Andai saja, aku tak egois ... pasti Ayah tidak akan kepikiran dan jatuh sakit hingga meninggal," batin Damar sangat menyesali perbuatannya.
__ADS_1
***
Satu bulan kemudian ....
Di kediaman baru David dan Kayra, keluarga kecil mereka tengah asik menonton televisi sambil menemani Kaysa bermain di ruang keluarga. Hanya Davin yang tidak ikut serta karena dia sudah terlelap.
Hati David merasa sangat berbunga-bunga karena malam ini dia sudah bisa bermain mesra dengan Kayra di atas ranjang. Tadi sore selepas pulang bekerja dia dan Kayra konsultasi ke bidan terdekat untuk mengikuti program keluarga berencana.
Bidan menyarankan Kayra untuk mengkonsumsi pil keluarga berencana khusus ibu menyusui agar tidak memengarungi produksi asinya.
Ya, Kayra dan David setuju mengikuti saran dari bidan tersebut.
"Sayang, sudah diminumkan pil yang diberikan Bu Bidan tadi sore?" tanya David memastikan. Dia tak ingin sampai Kayra melupakannya.
"Aduh, aku malah lupa meletakkan obatnya di mana tadi. Jadi, belum sempat aku meminumnya," bohong Kayra sesantai mungkin agar David tidak mencurigainya.
Padahal dia langsung meminumnya sepulang dari rumah bidan.
"Astaga, kok bisa lupa sih?" tanya David cemberut.
"Hem," sewot David cemberut. Dia kembali menatap ke arah televisi.
Kayra langsung menggelengkan kepala mengetahui sikap sang suami. Buru-buru dia melangkah menuju kamar untuk melanjutkan aksinya.
Di dalam kamar, Kayra langsung membaringkan tubuhnya di kasur busa tempat Davin tidur juga. Mereka sengaja membeli dua kasur busa yang tebalnya hanya dua puluh centi saja agar sedikit lebih aman untuk kedua buah hatinya yang masih balita.
"Seru juga bisa ngerjain Mas David begini," gumam Kayra tersenyum geli. Tangannya mengusap lembut pipi Davin.
Setengah jam telah berlalu, David semakin gelisah karena istrinya tak kunjung keluar kamar.
"Kayra kok lama amat? Jangan-jangan pilnya nggak ketemu? Huh, lebih baik aku hampiri saja dia," gumam David memasang wajah kesal dan cemberut. Dia segera menghampiri putrinya dahulu karena ingin mengajak dia juga. Dia sudah trauma berat membiarkan putrinya itu sendirian.
"Sayang, kita masuk kamar yuk! Sekarang sudah malam! Nanti, nenek kuntinya keburu keluar dari sarangnya," takuti David agar putrinya menurut.
__ADS_1
"Iya, Yah!" Kaysa segera melepaskan mainan yang dia pegang. Lalu, berhambur ke pelukan David.
Bibir David langsung menahan tawa melihat reaksi lucu putrinya. Dia segera membopong tubuh Kaysa lalu melangkah menuju kamar. Setibanya di dalam kamar, pemandangan tak sedap dia dapatkan.
Kayra sengaja berpura-pura memeluk Davin sambil memejamkan matanya. Tadi, dia mendengar jelas ucapan David pada Kaysa. Makanya, dia langsung memasang posisi itu.
"Astaga, kenapa dia malah tidur sih? Sebenarnya, dia itu niat nggak sih," gerutu David dalam hati.
Dia sengaja tak langsung membangunkan Kayra karena dia ingin menidurkan putrinya dahulu. Dia segera meletakkan tubuh Kaysa di atas kasur busa yang berbeda dengan Kayra dan Davin. Setiap malam David bertugas tidur bersama Kaysa. Sedangkan, Kayra tidur bersama Davin yang masih bayi.
David langsung memeluk putrinya sambil mengusap-usap pucuk kepala Kaysa untuk memberi kenyamanan. Dengan begitu lama-lama Kaysa akan tertidur. Kaysa memang sedikit berbeda dengan balita pada umumnya yang suka meminum dot dahulu sebelum tidur. Dia hanya minum dot ketika sedang menginginkannya saja.
"Syukurlah Kaysa sudah terlelap. Aku harus tanya Kayra soal pil itu? Jika memang benar-benar hilang. Terpaksa aku akan membelinya lagi," gumam David bersemangat. Pelan-pelan dia menjauhi tubuh putrinya. Lalu, segera berpindah tempat ke kasur sang istri.
"Sayang, bangun!" David mengecup gemas pipi Kayra.
Kayra yang berpura-pura tidur itu langsung menggeliat. Lalu, berpura-pura menguap.
"Iya, ada apa, Mas?" Dia berpura-pura mengantuk berat.
"Bagaimana pilnya sudah ketemu belum?" tanya David penasaran.
"Em, pil apa, Mas?" tanya Kayra pura-pura lupa. Lalu, menguap lagi.
"Astaga, pil keluarga berencana yang diberikan Bu Bidan tadi sore. Masa kamu lupa sih?" gerutu David kesal.
"Aduh, maaf, aku belum sempat mencarinya. Soalnya, Davin keburu bangun sih. Ya sudah. Tolong Mas yang mencarinya," jawab Kayra menahan tawa dan senyumnya agar tak segera tampak di depan David.
"Loh, kok malah menyuruh Mas yang mencarinya sendirian. Lalu, kamu mau ngapain? Kalau dicari bersama-samakan nanti cepat ketemunya," ucap David sedikit mengomel karena semakin kesal.
"Aku mengantuk, Mas. Izinkan aku tidur sejenak saja. Nanti, kalau pilnya sudah ketemu ... Mas langsung bangunin aku ya," balas Kayra terus menahan tawa dan senyumnya.
"Terserahmulah! Lebih baik, Mas tidur saja daripada nanti tambah kecewa." David segera berbalik hendak kembali ke kasurnya. Melihat gelagat sang istri dia paham kalau sebenarnya istrinya belum benar-benar siap melayani dia malam ini.
__ADS_1
Kayra sengaja membiarkannya sesaat. Bibirnya melengkung ke atas. Rasanya puas sekali bisa mengerjai David habis-habisan malam ini. Belum sempat David bangkit, tubuhnya langsung di tarik Kayra. Alhasil, dia terkapar di samping Kayra.
"Hey, apa yang kamu lakukan? Katanya tadi sangat mengantuk?" sewot David cemberut.