Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Aksi Nayla


__ADS_3

Kini semua orang sudah pada pergi mengerjakan kegiatan mereka masing-masing. Kaysa diajak ibunya Nayla pergi arisan ke rumah temannya. Jarak dari rumah mereka cukup jauh sekitar sepuluh rumah.


Sedangkan Kayra memutuskan untuk berjemur di bawah terik matahari pagi bersama buah hatinya Davin. Hal itu membuat Nayla tersenyum sumringah. Dengan langkah santai, dia menghampiri Kayra.


"Ehem!" sapa Nayla ketika sudah berada di dekat Kayra.


Kayra lamgsung mendongak melihat siapa yang menyapanya. Belum-belum jantung Kayra sudah dag-dig-dug karena cemas. Perasaan tak enak langsung membubuhi hatinya. Namun, dia berusaha tetap tenang membalas sapaan Nayla.


"Eh, Nayla! Mari duduk di sini," ajak Kayra sok ramah. Padahal dia sebenarnya takut sekali duduk hanya bersama Nayla.


"Nggak perlu! Aku kemari cuma mau minta tolong sama kamu," tolak Nayla tersenyum licik.


"Minta tolong apa?" tanya Kayra semakin cemas. Melihat senyuman licik Nayla membuat tubuhnya merinding.


"Em, aku ingin sekali kamu buatkan jus mangga? Itu si Mbak Suni masih sibuk. Mau buat sendiri aku nggak bisa," ucap Nayla tersenyum.


"Oh, baiklah." Kayra segera beranjak dari kursi sambil menggendong Davin. Dia segera melangkah kembali ke dalam rumah.


"Hah, ini seriuskah? Ternyata dia benar-benar lemah sekarang. Kalau begini ceritanya, aku bisa berbuat sesuka hatiku jika tidak ada David," batin Nayla tersenyum menang. Dia mendudukkan bokongnya di kursi tampat Kayra duduk tadi.


Di dapur Kayra terpaksa meletakkan tubuh mungil Davin di atas meja. Hal itu Kayra lakukan agar dia tak kesulitan saat membuat jusnya. Sambil sesekali memperhatikan Davin, Kayra membuka lemari pendingin. Lalu, mencari buah mangganya.


Setelah menemukannya, Kayra langsung membawanya ke meja yang terdapat alat pembuat jus. Lagi-lagi Kayra melihat ke arah Davin untuk memastikan bahwa anaknya itu tidak bergeser sedikitpun tubuhnya.


"Ah, aman!" Kayra tersenyum lalu mulai mengupas kulit mangganya. Pandangannya sesekali menengok ke arah sang anak yang terlihat sangat tenang.


Lima menit berlalu, jus pesanan Nayla sudah jadi. Dia tak langsung mengantarkannya karena jelas dia tak mungkin bisa jika sambil menggendong Davin yang masih terlalu bayi.


"Sebaiknya, aku ambil gendongan dahulu buat menggendong Davin," gumam Kayra segera membopong tubuh Davin. Dia melangkah menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, dia meraih gendongan di dalam lemari. Lalu, memasangnya ke tubuh. Dengan ekstra hati-hati, dia memasukan tubuh anaknya ke dalam gendongan.


"Uh, belum-belum tubuhku sudah terasa lelah. Tapi, aku nggak boleh lemah. Aku harus kuat." Kayra tersenyum lalu melangkah kembali ke dapur.

__ADS_1


Kini Kayra terlihat seperti seorang assisten rumah tangga sambil mengasuh seorang bayi. Dengan hati-hati dan bercucuran keringat, dia terus melangkah menghampiri Nayla yang masih duduk santai di kursi taman. Dia tersenyum geli melihat aksi Kayra.


"Ah, senang sekali rasanya bisa mengerjai dia. Habis ini, aku mau apakan dia lagi, ya?" batin Nayla tersenyum geli.


"Ini jusnya!" Kayra menyodorkan nampan berisi jus mangga pesanan Nayla ketika sudah sampai di dekat Nayla.


"Wah, jus ini terlihat segar sekali," puji Nayla tersenyum. Dia meraih gelas tersebut.


Kayra tersenyum senang karena apa yang dia buat memuaskan hati Nayla.


"Apalagi kalau dicampur es batu ... em pasti akan lebih mantap," sambung Nayla tersenyum.


Kayra langsung tersenyum meringis. Dia seolah paham maksud perkataan Nayla itu.


"Maaf, bisakah kamu ambilkan es batunya juga," pinta Nayla memohon.


Kayra tersenyum.


"Oh, baiklah." Kayra mengangguk patuh dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah.


"Yes-yes-yes! Habis ini akan aku kerjai lagi dia mumpung Ibu masih lama pulangnya. Untung saja Mbak Suni berpihak sama aku. Jadi, aku nggak perlu takut kalau dia akan melaporkan perbuatan aku ini sama Ibu dan Mas David," ucap Nayla sangat gembira.


"Ah, sebaiknya aku pesan makanan saja sekarang. Nanti, biar dia yang aku suruh ambil pesanannya di depan gerbang jika sudah sampai," gumam Nayla segera memesan apa yang dia inginkan lewat ponsel.


Baru saja dia meletakkan ponsel, Kayra sudah keluar lagi dari dalam rumah membawa mangkuk berisi es batu pesanan Nayla. Terlihat Kayra tengah berjalan tergopoh-gopoh. Ekspresi wajahnya meringis.


Pasti Kayra semakin kelelahan karena disuruh Nayla bolak-balik. Apalagi jarak dari kursi taman dengan dapur terhitung jauh. Orang yang sehat saja pasti akan kelelahan jika disuruh bolak-balik begitu.


"Ini es batunya," ucap Kayra ketika sudah berada di dekat Nayla.


"Wah, terima kasih banyak ya? Kamu memang madu terbaik deh!" Kayra terdiam. Hatinya langsung berdenyut nyeri disebut madu oleh Nayla.


Melihat perubahan ekspresi wajah Kayra, Nayla langsung tersenyum geli.

__ADS_1


"Eh, maaf. Aku tadi cuma becanda saja kok. Jangan diambil hati ya? Oh ya, tolong dong sekalian masukin es batunya ke dalam gelas jusnya. Tanganku ini sudah kotor karena tadi nggak sengaja ponselku terjatuh ke tanah," perintah Nayla lagi.


"Baik." Kayra tersenyum meringis. Lalu, memasukkan bongkahan es batu ke dalam gelas jus yang dipegang Nayla.


Baru saja Kayra selesai memasukkan es batunya. Pesanan Nayla sudah datang. Mereka mendengar suara klakson motor berbunyi berulangkali dari arah gerbang.


Tin! Tin!


"Wah, itu pizza pesananku sudah datang. Tolong ya sekalian kamu ambilkan," ucap Nayla tersenyum senang.


"Ta-tapi__" ucapan Kayra langsung dipotong Nayla.


"Sudah buruan ambilkan, sudah aku bayar kok. Kan, enak buat camilan kita sambil mengobrol di sini. Kan, kamu tahu jika aku sedang hamil besar. Apa kamu tega membiarkan aku berjalan kaki dari sini sampai gerbang?" tegas Nayla tersenyum memohon.


"Baiklah!" Kayra mengalah. Dia kembali melangkah menuju gerbang. Jujur perutnya mulai terasa nyeri karena tak henti berjalan kaki. Apalagi dia sambil menggendong Davin.


Nayla lagi-lagi tersenyum menang melihat Kayra bersusah payah menuruti perintahnya.


"Bahagianya hatiku bisa menjadi nyonya madu sekarang. Tak apalah dia tak segera mati kalau begini ceritanya," batin Nayla tersenyum licik.


Baru saja langkah Kayra sampai di dekat kurir yang mengantarkan pesanan Nayla. Sebuah mobil pribadi datang dan hendak masuk ke gerbang rumah Nayla. Kayra tersenyum menyapa mobil tersebut. Dia paham kalau yang datang itu adalah suaminya, David.


"Maaf, ini pesanannya, Mbak!" sapa kurirnya ramah sambil menyodorkan satu kotak pizza pesanan Nayla.


"Eh, iya, Mas." Kayra kembali menatap sang kurir.


"Terima kasih banyak!" Kayra menerimanya sambil tersenyum.


"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi ya, Mbak? Selamat menikmati," balas kurirnya tersenyum ramah.


"Iya," balas Kayra tersenyum.


Kurirnya segera putar balik dan pergi dari rumah Nayla.

__ADS_1


David tak jadi memasukan mobilnya ke pekarangan rumah Nayla karena melihat sang istri keluar dari rumah sambil menggendong Davin.


"Astaga, Kayra ngapain ambil pesanan makanan itu sendirian? Kenapa dia tidak menyuruh Mbak Suni saja," gumam David bergegas keluar dari mobil.


__ADS_2