Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Meninggal dunia


__ADS_3

"Em, ke rumah sakit saja dulu biar nggak kelamaan. Kasihan ibunya Nayla sendirian di rumah sakit," jawab Kayra tersenyum.


"Oke, tapi di sananya jangan lama-lama," pesan David tersenyum.


"Iya, Mas!" Kayra mengangguk. Bibirnya terus tersenyum.


Sepuluh menit telah berlalu, perjalanan David dan Kayra sudah sampai di rumah sakit tempat Nayla dirawat. David melangkah santai seperti tak ada rasa kekhawatiran atau beban di jiwanya.


Berbeda dengan Kayra yang sedikit tergesa-gesa melangkah agar segera sampai di ruangan Nayla. Melihat hal itu David langsung menahan tangan Kayra. Dia tak suka dengan sikap berlebihan sang istri.


"Hey, santai saja! Nggak usah terburu-buru gitu," cegah David menahan tangan Kayra.


"Hehe, iya Mas." Kayra tersenyum kikuk.


Dia langsung melambatkan langkahnya.


Kini langkah mereka sudah sampai di ruangan operasi. Pendarahan hebat yang dialami Nayla membuat dia harus menjalani operas sesar untuk mengeluarkan bayinya segera.


Ibunya Nayla yang berada di depan ruangan operas langsung tersenyum senang menyambut kedatangan mereka.


"Syukurlah, akhirnya, kalian datang juga." Ibunya Nayla hendak bangkit dari kursi.


"Aduh, settt!" Namun, tubuhnya lemas jadi dia mengurungkan niatnya tersebut.


Kayra hendak menolongnya, namun David menahannya dengan cara memegang tangannya. Hal itu membuat Kayra langsung menoleh ke arah sang suami.


David langsung menggelengkan kepala sebagai isyrat jangan.


Kayra langsung menghela napas dan mengangguk patuh. Dia teringat kata-kata David tadi saat masih di rumah Nayla.


"Em, bagaimana kondisi Nayla sekarang?" tanya Kayra penasaran.


"Ibu tidak tahu. Sejak tadi belum ada dokter atau suster yang keluar dari dalam," jelas ibunya Nayla sendu.


Mendengar hal itu, hati Kayra langsung merasa iba.

__ADS_1


"Semoga saja Nayla dan bayinya selamat," ucap Kayra ikut sedih dan cemas.


"Iya, aamiin." Ibunya Nayla tersenyum tipis. Dia senang mendapatkan doa dari Kayra.


"Oh ya, aku ingin mengutarakan niat ini sama Ibu? Aku berharap Ibu menyetujuinya," ucap David tidak sabar lagi.


"Memangnya, kamu punya niatan apa? Jelaskan dulu biar Ibu bisa mempertimbangkannya sebaik mungkin?" tanya ibunya Nayla mulai tak nyaman dengan perkataan David.


"Aku dan Kayra sudah memutuskan untuk pulang ke rumah kami saja." Mata ibunya Nayla melebar karena terkejut.


"Astaga, apa pertengkaran kalian tidak bisa diselesaikan secara dingin?" tanya ibunya Nayla menitikkan air mata.


"Tidak bisa, Bu. Sungguh, aku tak bisa membiarkan istriku terus-terusan diperdaya oleh Nayla. Ternyata di saat kondisi istriku masih lemah begini. Nayla memanfaatkan dia untuk dijadikan budak di rumah kalian. Untung saja, aku cepat pulang karena ada berkas yang ketinggalan. Jadi, aku tahu bagaimana istriku diperlakukan sehina itu oleh Nayla," jelas David menahan amarah.


"Astaga, Nayla. Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu pada Kayra." Ibunya Nayla memegangi dadanya yang sesak dan perih merasakan betapa buruknya sikap sang anak.


Di saat bersamaan seorang dokter keluar dari ruanga operasi. Dia melangkah mendekati mereka yang masih sibuk membahas Nayla.


"Permisi semuanya!" sapa dokternya ramah.


"Bagaimana dengan kondisi anak saya, Dok?" tanya  ibunya Nayla segera mengusap air di matanya.


''Anak ibu sekarang sudah melewati masa kritisnya.  Namun, dia harus kehilangan bayi dan rahimnya. Akibat benturan yang keras, rahim anak ibu mengalami kerusakan yang sangat parah. Jadi, untuk menyelamatkan nyawanya terpaksa kami mengangkatnya,'' jelas dokternya.


Kayra langsung melebarkan matanya,  sedangkan David tidak mengeluarkan ekspresi adapun. Walaupun itu semua terjadi atas ketidak sengajaannya.


''Astaga, jadi anak saya sudah tidak bisa mengandung lagi, Dok?'' tanya ibunya Nyala sangat shock. Dadanya terasa semakin sesak dan nyeri. Napasnya mulai tersendat-sendat. Tiba-tiba tubuhnya ambruk dan karena tak bertenaga.


''Ibu!'' teriak Kayra sangat panik. Dia dan dokter itu segera turun tangan untuk membantu ibunya Nayla. Walaupun dia sambil menggendong David.


Sedangkan David malah bengong saja. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Kaysa yang berada di gendongan David tampak bingung dengan apa yang terjadi. Dia melihat orang-orang secara bergantian.


Dokter langsung mengecek detak jantung ibunya Nyala menggunakan stetoskop yang menggantung di lehernya.


''Ternyata detak jantungnya melemah,'' beritahu dokternya panik. Dia langsung berusaha melakukan pertolongan pertama pada ibunya Nyala. Kedua telapak tangannya diletakkan di atas dada ibunya Nayla. Lalu, ditekan-tekannya berulang kali. Namun, hal itu tidak menimbulkan reaksi adapun pada ibunya Nayla.

__ADS_1


''Ayo cepat bantu saya membawa tubuh ibu ini ke ruangan IGD sebelum terlambat,'' ajak dokternya sangat panik.


Karena tidak mendapatkan respon sama sekali dari David, Kayra langsung menengok ke arah David yang masih bengong itu. Dia langsung menggelengkan kepala tidak percaya.


''Mari kita angkat bersama, Dok.  Sepertinya suami saya terlalu shock sehingga bengong begitu,'' sindir Kayra dengan volume suara cukup tinggi untuk menyadarkan lamunan David.


''Eh, jangan! Biar aku dan dokternya saja yang mengangkatnya. Kamu tak boleh mengangkat yang berat-berat,'' larang David yang langsung tersadar karena mendengar suara Kayra yang tinggi.


Kaya langsung menghela napas kasar. Dia langsung bangkit berusaha bangkit dari posisi jongkoknya.


''Sayang, turun dulu, ya? Ayah mau bantu angkat tubuh Oman dulu,'' izin David sebelum menurunkan tubuh putrinya.


Kaysa yang paham langsung mengangguk.


Pelan-pelan David menurunkan tubuh Kaysa ke lantai. Dia segera membantu dokternya memboyong tubuh ibunya Nayla. David melangkah mengikuti instruksi sang dokter.


''Ayo kita ikuti Ayah,'' ajak Kayra segera menggandeng tangan putrinya.  Mereka pelan-pelan mengikuti langkah David dan dokternya.


Melihat aksi David dan sang dokter, seorang suster yang kebetulan lewat segera mengikuti mereka untuk membantu dokternya.


Begitu sampai di ruangan yang dituju,  David dan dokternya segera masuk ke dalam. Mereka segera meletakkan tubuh ibunya Nayla ke atas ranjang.


''Maaf, Anda boleh keluar sekarang,'' perintah dokternya.


David mengangguk lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut. Dia mendekati sang istri yang terlihat sangat cemas dan panik.


''Sudah,  jangan terlalu mencemaskan ibuya Nayla.'' David menyentuh pipi Kayla. Dia ingin menenangkan hati Kayla.


''Tapi Mas, bagaimana kalau terjadi hal buruk pada ibunya Nayla?'' tanya Kayra begitu cemas.


''Pasrahkan saja pada Sang Pencipta. Apapun yang terjadi sudah menjadi Ketentuan-Nya yang tidak bisa diganggu gugat. Kita sebagai mahkluk ciptaan-Nya hanya bisa menjalaninya. Kita harus berlapang dada dan ikhlas atas semua ketentuan-Nya. Lagi pula kondisi kamu juga belum telalu pulih. Aku takut hal itu bisa memengaruhi kesembuhan kamu. Tolong kamu ingat akan hal itu,'' nasihati David agar istrinya bisa tenang. Dia malah mencemaskan Kondisi kesehatan istrinya daripada kondisi ibunya Nayla yang sedang berada di ujung tanduk.


''Baik, Mas.'' Kayra langsung tersenyum hangar.


''Nah, gitu dong.'' David tersenyum bangga atas kepatuhan sang istri.

__ADS_1


Di saat bersamaan dokter yang menangani ibunya Nayla suda keluar dari dalam ruangan IGD.


__ADS_2