
"Iya sih. Ya sudah. Kita jaga jarak saja. Untuk sementara ini Mas mengalah tidur di bawah saja biar aman," jawab David tersenyum. Dia menerima dengan baik nasihat sang istri.
"Eh, kok sampai segitunya sih? Kita tetap tidur saja seranjang. Aku nggak tega lihat Mas kedinginan tidur di bawah," tolak Kayra.
"Mana mungkin Mas kedinginan, Sayang. Kan, Mas tidurnya pakai kasur juga." David menurunkan pelan-pelan tubuh Kayra di ranjang.
"Pokoknya, Mas tidur di sini saja!" Kayra menahan tubuh David agar tidak pergi.
"Baiklah, Mas tidur juga di sini." David tersenyum.
"Good, ayo kita tidur sekarang," ajak Kayra tersenyum senang. Dia melepaskan tangannya yang menahan tubuh David.
"Yuk!" David segera beranjak dari sana.
Lalu, segera naik ke atas ranjang juga. Di atas ranjang dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri agar tidak kedinginan.
"Terima kasih, Mas." Kayra tersenyum senang.
"Sama-sama. Semoga mimpi indah istriku," balas David tersenyum hangat.
"Iya, kamu juga mimpi yang indah suamiku." Kayra tersenyum hangat.
Ternyata di depan pintu kamar mereka ada Nayla yang sudah sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Awalnya dia senang karena hubungan mereka mulai merenggang. Namun, ketika mereka akur lagi Nayla jadi kesal, marah, dan cemburu.
"Huh, cepat sekali mereka akurnya. Kalau begini aku tidak akan bisa memecah berai mereka? Oh ya, soal kejadian tabrak lari kemarin ... kok bisa sih nggak meninggalkan luka lecet sama sekali di area tubuhnya? Apa aku kemarin salah menabrak orang? Sebenarnya, yang aku tabrak itu bukan Kayra ... melainkan, kembarannya. Kan, waktu itu dia sedang berlari mengejar mobil. Tapi, mobil itu bukan mobil Mas David," gumam Nayla lirih menerka-nerka.
"Eh, tapi kembarannya kan habis melahirkan sesar dan sempat koma? Masa sih, bisa lari secepat itu kayak orang sehat saja? Lalu, tiba-tiba dia meninggal dunia. Auk ah, puyeng kepalaku mikirinnya. Lebih baik, aku memikirkan cara lain saja untuk memberantas istri pertama sama anaknya itu," batin Nayla manggut-manggut.
***
Di tempat lain, terlihat seorang pria dengan penampilan acak-acakan sedang sibuk di depan laptop. Hampir setiap hari dia berpenampilan seperti itu. Dia malas merawat dirinya. Dia memperbaiki penampilannya hanya saat melakukan meeting online saja.
__ADS_1
Ya, selama dia berada di luar negeri, kerjanya hanya gitu-gitu saja. Dia juga jarang keluar dari apartemen. Paling-paling dia keluar di saat tertentu saja. Makan dan minum dia pesan via online.
Derttt!
Ponselnya bergetar. Dia segera melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama fatan di sana.
"Huh, ada apa malam-malam begini Fatan menelepon?" gumam Damar malas. Di Indonesia saat ini memang sudah malam. Sementara di tempat Damar tinggal masih sore hari.
Damar : Halo, ada apa?
Fatan : Ini Bos, aku mau mengabari kalau Pak Dimas sedang tidak baik keadaannya. Ini aku sekarang lagi menemani Bu Siska di rumah sakit. Tadi, tiba-tiba kondisi beliau mengalami drop.
Damar : Astaga, memangnya, Ayah sakit apa?
(Damar mulai khawatir)
Fatan : Nggak tahu, Bos. Dokternya belum keluar sejak tadi. Mungkin, darah tinggi beliau sedang kambuh.
Damar : Ya sudah. Kamu pantau terus keadaan Ayah. Nanti, kalau sudah ada kabar. Kamu beritahu aku.
Damar : Ya sudah. Aku mau lanjut kerja dahulu. Ingat jangan lupa kabari aku.
Fatan : Iya, Bos.
(Damar langsung mengakhiri panggilannya)
"Aku harus sabar dan bertahan. Aku tidak boleh lemah. Kenangan di Indonesia terlalu buruk," gumam Damar mencoba kuat. Hatinya mulai dilanda kekhawatiran mendengar kabar orangtuanya yang drop.
"Andai saja dia tak setuju membantu istriku. Pasti hidupku tak akan serumit ini. Dasar wanita tak punya harga diri." Hati Damar mulai panas lagi.
"Ah, kenapa aku harus mengingatnya lagi! Ayolah Damar lupakan semua kenangan buruk itu. Kamu tak boleh terus-terusan luput dalam kenangan buruk itu. Ingat, kamu masih ada tanggung jawab mengurus kedua orangtuamu. Anggap saja dia sudah lenyap ditelan bumi." Damar menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lagi pelan-pelan.
__ADS_1
Dia kembali menatap ke arah laptopnya. Mencoba tetap berkonsentrasi mengerjakan tugas kantornya lagi.
***
Keesokan harinya, di kediaman Nayla. Mereka tengah duduk di meja makan untuk mengganjal perut mereka yang kosong. Nayla duduk berdampingan dengan ibunya. Di sebelah ibunya ada Kaysa. Sedangkan, di depan mereka ada David dan Kayra.
Kayra sejak tadi hanya menunduk saja. Dia tak berani menatap wajah Nayla lama-lama. Entah kenapa dia seperti memiliki pirasat tak enak. Dari wajah Nayla terpancar jelas aura tak suka. Cara dia tersenyum sama sekali tak tulus alias dipaksakan.
"Ayo kamu harus tambah lagi sayurnya biar tubuhmu segar kembali," ucap ibunya Nayla tersenyum.
"I-iya, Bu. Nanti, aku tambah lagi." Kayra tersenyum malu. Sekilas dia melirik ke arah Nayla yang memasang wajah tidak suka. Terlihat jelas dari kerutan di bibir Nayla.
"Kok, malah nanti sih? Ayo buruan ditambah lagi. Kamu kok, sekarang jadi malu-malu begitu sehabis mengalami kecelakaan. Biasanya, kamu terlihat aktif dan banyak bicara," omel ibunya Nayla tersenyum.
Deggg!
Kayra terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Orang yang tempo hari tinggal di rumah Nayla bukan dia, melainkan Kayla.
Nayla langsung ikut-ikutan membatin perubahan sikap Kayra baru-baru ini.
"Eh, sejak kemarin aku perhatikan memang sikap Kayra banyak berubah. Dia tak banyak bicara. Malah terkesan malu-malu gitu. Apa mungkin efek kecelakaan tempo hari meninggalkan rasa trauma mendalam padanya? Kalau memang benar begitu ... wah, ini sangat menguntungkan aku. Aku bisa menindas dia secara halus di saat David tak ada." Bibir Nayla tersenyum licik.
Mengetahui istrinya mulai cemas, David segera melayani sang istri. Dengan begitu, ibunya Nayla tidak akan banyak berkomentar lagi.
"Baiklah, biar aku saja yang ambilkan." David langsung menyendokkan sayur untuk diberikan ke piring istrinya.
"Benar akibat dari kecelakaan kemarin, kata dokter kalau istriku mengalami trauma cukup berat. Jadi, dia tak banyak bicara selama kondisinya belum pulih benar," bohong David untuk meyakinkan Nayla dan ibunya.
"Oh begitu, maafkan kata-kata Ibu tadi ya? Ya sudah. Ayo lanjutkan makannya," sahut ibunya Nayla tersenyum.
"Iya, Bu." Kayra tersenyum sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Mengetahui kondisi terbaru Kayra, Nayla semakin bersorak ria. Rasanya dia sudah tidak sabar memulai aksinya nanti di saat David tidak ada. Apalagi hari ini ibunya ada acara di luar bersama ibu-ibu komplek. Hal itu membuatnya leluasa menindas Kayra.
"Yes, selama dia masih dalam tahap pemulihan akan aku kerjai dia. Aku yakin kalau dia tak punya tenaga untuk melawanku. Heh, ternyata Tuhan memang masih berpihak padaku," batin Nayla tersenyum licik. Dia merasa beruntung sekali dengan kondisi Kayra saat ini.