
"Tolong! Tolong!" teriak dua orang yang bertugas mengawali pencarian jasad korbannya.
Perjalanan mereka sudah mencapai satu kilo meter jauhnya, menyusuri sepanjang pinggiran sungai. Barulah mereka melihat tubuh terapung di atas air yang terhalang bebatuan besar. Kenapa dia tak terbawa arus sungai lagi? Hal itu dikarenakan jaket yang dikenakannya tersangkut di akar pohon yang menjulang ke dasar sungai.
Mereka yang mendengar suara teriakan langsung kalang kabut berlarian menghampirinya. Begitu sampai di dekat dua pria yang menemukan tubuh terapung. Mereka langsung melihat ke arah sorotan cahaya senter ponselnya.
"Astaga, kira-kira dia masih hidup tidak, ya?" tanyanya gugup dan gelisah.
"Semoga saja masih bisa diselamatkan. Kasihan sama anak dan istrinya di rumah." Wajahnya begitu sedih mengamati tubuh yang mengapung itu.
"Aamiin." Semuanya mengaminkan doa pria tersebut.
"Ya sudah. Mari kita evakuasi tubuhnya sekarang," ajaknya tidak sabar lagi.
"Baik!" Mereka mengangguk setuju.
Kini para tetangga dan anggota basarnas melakukan persiapan sebelum terjun ke dasar sungai yang terdapat jasad mengapungnya. Setelah semuanya sudah siap, mereka bahu membahu bergotong royong melakukan evakuasi tubuh mengapung tersebut.
Sekitar tiga puluh menitan mereka akhirnya berhasil membawa jasad korbannya ke daratan. Para tetangga segera mengecek wajah korbannya. Mata mereka langsung membelalak lebar.
"Eh, ini mah bukan David," ucapnya sepontan. Perasaan lega sedikit membubuhi hatinya.
"Iya benar, ini bukan David. Lalu, kenapa dia memakai motornya David?" tanya satunya merasa aneh.
"Apa mungkin dia meminjamnya? Atau mereka berboncengan gitu?" Timbul beberapa pertanyaan bingung dari mulut tetangga David.
"Bisa jadi begitu. Coba kamu kunjungi rumah Pak Samsul biar jelas," perintahnya memastikan.
"Oke siap!" sahutnya patuh.
"Ayo Jak, kita ke rumah Pak Samsul," sambungnya mengajak teman.
"Yuk," jawabnya mengangguk.
Mereka berdua segera berlalu dari lokasi. Sedangkan, para tetangga dan tim basarnas masih berbincang-bincang membahas masalah tragedi di sungai itu.
Tak berselang lama datang pula beberapa orang anggota polisi ke tempat kejadian.
"Apa kalian yakin kalau motor itu milik tetangga kalian?" tanya polisinya.
__ADS_1
"Iya, saya yakin sekali. Kemarin saya sempat meminjamnya. Mari saya tunjukan kesamaan ciri khas motor tetangga saya." Pria itu menunjukkan stiker bergambar elang emas yang terdapat di body motor tersebut.
Polisi mengangguk.
Di saat bersamaan dua orang yang bertugas mengecek ke bengkel sudah kembali lagi. Malah Pak Samsul ikut serta karena merasa sangat penasaran.
"Astaga, benar ini motornya David! Lalu, di mana orangnya?" tanya Pak Samsul terkejut.
"Orangnya tidak ketemu, Pak. Malah tadi kami menemukan jasad orang lain dengan luka memar di wajah dan kepalanya. Sepertinya, ini kasus pembunuhan karena dendam. Jika kasus perampokan pastilah motornya ikut raib dibawa tersangka," jelasnya sangat yakin.
"Oh Tuhan, lalu bagaimana dengan Davidnya? Apa tim basarnas sudah mulai melakukan pencarian jasadnya juga?" tanya Pak Samsul gugup.
"Tidak tahu, Pak. Ayo kita segera menyusul ke sana saja biar jelas," ajaknya langsung melangkah duluan.
"Baik." Pak Samsul mengikuti langkahnya.
Begitu sampai di lokasi jasad korbannya. Mereka yang ada di sana mengajukan pertanyaan pada Pak Samsul.
"Apa benar kalau David sudah pulang dari bengkel Bapak?"
"Benar, dia sudah pulang sejak satu setengah jam yang lalu." Pak Samsul terus mengamati wajah korbannya.
"Apa Bapak mengenali jasad pria ini?"
"Aduh, ini kasus kok ribet amat, ya?" Salah seorang dari tetangga David menggaruk-garuk kepala defresi.
Para polisi diam sejenak berpikir.
"Sebaiknya, aku pulang dahulu ke rumah David. Aku akan laporkan kejadian ini pada istrinya," ucap tetangga David tidak sabar lagi.
"Sebaiknya, jangan dahulu!" cegah Pak Samsul.
"Kenapa, Pak?" tanyanya bingung.
"Aku tak tega. Nanti saja kita beritahunya kalau sudah pasti kejelasannya. Lebih baik, aku hubungi nomor David dulu untuk memastikannya," jelas Pak Samsul segera meraih ponsel di saku bajunya. Dia segera menghubungi nomor ponsel David.
"Baik," sahut mereka setuju.
"Astaga, nomornya tidak aktif. Apa dia ikut menjadi korbannya?" ucap Pak Samsul semakin cemas.
__ADS_1
"Bisa jadi seperti itu. Kemungkinan besar jasad ini merupakan teman akrabnya David," ceplos salah satu dari mereka.
"Ayo sebaiknya kita lanjutkan pencarian lagi," ajaknya semangat.
"Sebaiknya, besok saja! Sekarang sudah larut malam. Siapa tahu, David tidak ikut menjadi korbannya. Kalau sampai esok hari, dia belum juga pulang ke rumah. Berarti, dia ikut serta menjadi korbannya. Kita susuri lagi sungai ini," nasihati salah seorang tim basarnas.
"Iya, ucapannya benar sekali." Para polisi setuju.
"Baiklah, kalau begitu. Kami langsung pulang sekarang. Permisi semuanya," pamit para tetangga David.
"Iya, hati-hati!" Tim basarnas dan para polisi mengangguk.
Kini tetangga David beserta Pak Samsul segera pulang ke rumah David untuk memberitahu Kayra soal kejadian ini. Namun, mereka akan tetap berusaha membuat Kayra tetap optimis. Mereka tidak berniat sama sekali membuat Kayra kepikiran.
Begitu sudah sampai di rumah David, para tetangga wanita dan Kayra langsung menyambut kedatangan mereka dengan perasaan tidak menentu.
"Di mana suamiku, Pak? Kok, dia tak ada bersama kalian?" tanya Kayra dag-dig-dug.
Para tetangga laki-laki langsung menghela napas kasar. Hal itu membuat Kayra semakin gelisah dan takut.
"Loh, kok pada diam sih?" tanya Kayra bergetar tubuhnya.
"Sebelumnya, kami harap kamu jangan terlalu kepikiran sama David. Kamu banyak-banyaklah berdoa untuk keselamatannya," pesan salah seorang tetangga laki-laki.
"Ma-maksud kalian apa?" Kayra langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Maaf, pencarian kami hanya bisa menemukan motornya saja. Kemungkinan motornya dipakai sama temannya. Soalnya, selain motor David ... kami menemukan jasad pria yang memakai jaket suamimu mengapung di sungai," jelas mereka kecewa.
"Ta-tapi, tadi Mas David berkata kalau dia akan langsung pulang ke rumah," jelas Kayra langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia takut kalau suaminya ikut menjadi korban juga.
"Sudah, berdoalah yang baik-baik saja untuk suami kamu. Kita tunggu dia sampai besok pagi. Jika dia tak kunjung pulang ... kami akan mencarinya lagi." Pak Samsul memegang pundak Kayra untuk menguatkannya.
"Iya, Pak!" Kayra mengangguk patuh. Walaupun matanya terus menitikkan air.
Rasa cemas dan takut masih menghantui pikirannya.
"Ya sudah. Sebaiknya, kita semua bubar dulu. Besok pagi kita kumpul lagi ke rumah Kayra," ajak salah satu tetangga Kayra.
"Baik!" Mereka mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kayra, kami permisi dulu ya? Kamu yang sabar? Kita semua juga akan terus mendoakan keselamatan suamimu," ucap salah satu tetangga Kayra berpamitan.
"Iya, terima kasih, Bu." Kayra mengangguk. Bibirnya dipaksa tersenyum membalas senyuman pilu para tetangga.