Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Meledeki


__ADS_3

"Kalau nggak sambil meluk kamu, mana bisa Mas tidur." David tersenyum genit.


"Hem, ya sudah. Mas, tinggal pindah posisi saja di belakangku," jawab Kayra santai.


"Serius nih?" tanya David memastikan.


"Iya loh, Mas. Ayo cepat pindah biar bisa cepat tidur. Takutnya nanti Mas bangkong karena tidurnya kemalaman," perintah Kayra tersenyun manis.


"Oke, siap istriku tercinta." David tersenyum senang. Dia meletakkan bantal miliknya tepat di sebelah Davin untuk melindungi tubuhnya agar tidak jatuh di lantai karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya. Lalu, dia segera turun dari kasur. Kemudian, melangkah mengitari kasur. Dia berpindah posisi di belakang Kayra. Tak lupa tangannya langsung melingkar di perut Kayra.


Tak lama terdengar suara lenguhan Davin, Kayra langsung menjejali mulutnya dengan asi. Davin langsung menghisabnya sangat cepat. Di saat bersamaan tangan David menjalar ke mana-mana. Hal itu membuat Kayra melenguh.


''Ah, apa yang kamu lakukan, Mas? Jangan seperti itu!'' tegur Kayra merinding disko. Tubuhnya seperti tersengat listrik merasakan sentuhan tangan David.


''Memangnya kenapa? Mas, hanya ingin mengecek seluruh anggota tubuh kamu. Apakah ada yang berubah setelah melahirkan dua anak,'' goda David tersenyum genit. Rasa ngantuknya menghilang gara-gara pikiran kotor merasuki otaknya.


''Ah, Mas ini jangan aneh-aneh. Tentulah, tubuhku semakin melebar karena sudah punya banyak anak,'' jelas Kayra tersenyum malu.


''Hem, kamu sudah salah menilai. Tubuhmu bukan melar, tapi semakin padat. Sungguh, aku semakin menyukai tubuhmu yang padat begini.'' Tangan David masih saja menjalar ke mana-mana. Bahkan, naluri kelelakiannya sudah mulai bangkit. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


''Ah, Mas, jangan begitu!'' Kayra menahan tangan nakal David agar tidak semakin meraja lela ke bagian yang bisa membuatnya berhasrat juga.


''Hey, lepaskan!'' perintah David.


''Nggak mau! Ayo cepat tidur! Tadi, bidangnya mau tidurkan? Jadi, nggak usah macam-macam. '' Kayra menahan tangan suaminya agar tetap melingkar di perutnya.


''Huh, baiklah. Aku tidur!'' David menelusupkan wajahnya ke leher Kayra. Namun, bukan hanya sekadar itu saja. Dia mengecupinya lembut.


''Ah, Mas, hentikan! Aku marah ini!'' tegur Kayra kesal. Tubuhnya langsung merinding lagi.


''Huh, baiklah!'' David jadi kesal sekali. Akhirnya, dia membalikkan badan membelakangi Kayra.

__ADS_1


Kayra langsung menghela napas kasar. Dia tidak mengerti kenapa semua pria tidak pernah mengerti kondisi sang istri yang belum membaik. Dia bisa berkata seperti itu karena kelakuan David dan Damar sama saja sebelas dua belas.


Lima menit berlalu, akhirnya Davin tertidur pulas. Kayra segera bangkit dari baringannya itu. Lalu, pelan-pelan mengangkat tubuh anaknya untuk dipindahkan ke box bayi.


''Pyuhhh, akhirnya aku bisa ikut tidur juga.'' Kayra segera membalikkan tubuhnya. Dia langsung terkejut ketika mendapati sang suami sudah berdiri sambil tersenyum manis menatapnya.


''Astaga Mas ini mengagetkan saja.'' Kayra mengusap dadanya yang bergemuruh.


''Ternyata kamu tidak peduli jika aku merajuk?'' tanya David tersenyum.


Kayra hanya tersenyum lalu melangkah melewati sang suami. Dia malas berdebat lagi. Matanya juga sudah sangat mengantuk.


''Oh, jadi begini cara kamu mengatasi aku. Baiklah, aku juga bisa berbuat sesuka hatiku kalau begitu.'' David tersenyum licik. Dia berpura-pura melangkah keluar.


''Eh, maksud Mas apa berkata seperti itu?'' tanya Kayra cemas. Dia mengikuti langkah sang suami.


''Sebaiknya, kamu istirahat saja. Aku mau keluar saja mencari hiburan,'' balas David tersenyum.


"Nggak mau! Mas, tidak mengantuk! Mas, mau ke diskotik saja. Di sanakan banyak yang bisa diajak senang-senang," goda David tersenyum nakal.


"Eh, nggak boleh! Pokoknya Mas nggak boleh pergi!" larang Kayra melebarkan matanya.


"Masa bodo lepasin tangan Mas! Mas, mau pergi sekarang nanti langganan Mas keburu disewa sama orang," goda David tersenyum santai.


"Hah, langganan! Jadi, selama ini Mas punya wanita lain di luar sana?" tanya Kayra tidak percaya.


"Tentu. Soalnya, Mas nggak ada tempat untuk melampiaskan hasrat. Bosan loh, kalau tiap malam Mas hanya tiduran saja tanpa ada yang membelai," jawab David tersenyum santai.


"Baiklah, kalau Mas mau pergi." Kayra menitikkan air mata.


"Pergi saja!" Kayra berbalik. Dia kecewa berat setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata suka mencari kepuasan di luaran.

__ADS_1


Dia melangkah lesu mendekati kasur.


Jleb!


Belum juga langkahnya sampai di kasur, dia sudah dibuat kaget. David segera menghentikan langkahnya lalu membopongnya.


"Mas, turunin aku! Pergi saja sana!" usir Kayra kesal. Dia masih marah.


"Haha, kau ini menggemaskan sekali istriku! Mana mungkin aku berbuat hal yang tidak-tidak seperti itu. Percayalah hanya kamu canduku. Walaupun aku dulu tak pernah mencintaimu ... asal kau tahu aku tak pernah mencari kepuasan di luaran sana. Pasti tubuh mungilmu inilah yang jadi wadahnya. Coba saja kamu ingat-ingat," jelas David tersenyum.


Kayra terdiam, dia mengingat kejadian beberapa bulan silam saat sang suami belum berubah.


"Lalu, apakah mungkin selama kelahiran Kaysa ... Mas tidak menginginkan hal itu. Itu waktu yang sangat lama loh?" tanya Kayra cemberut.


"Jujur gara-gara aku gagal memiliki anak laki-laki ... aku jadi nggak berselera lagi melakukan hal itu. Aku nggak percaya diri. Aku berpikiran kalau aku melakukannya lagi, pasti kamu akan hamil. Lalu, kamu melahirkan anak perempuan lagi," jelas David sendu.


"Oh begitu. Tapi, kenapa sekarang Mas sangat berambisi?" sudutkan Kayra.


"Karena Mas nggak peduli lagi mau punya anak perempuan atau laki-laki. Ternyata memiliki anak perempuan tidak buruk juga. Buktinya Kaysa sangat lucu dan cerdas. Mas bangga sekali dikaruniai anak seperti Kaysa. Makanya, Mas semangat pingin buat yang banyak," jelas David tersenyum genit.


"Oh begitu. Tapi, buatnya nanti saja kalau aku sudah sembuh total. Lalu, kita ikuti program penunda kehamilan juga. Kan, aku melahirkannya tidak normal kali ini. Aku masih trauma, Mas." Kayra tersenyum manis.


"Ok, siap!" David mengecup bibir Kayra sekilas.


"Tapi, selama kamu belum sembuh ... Mas bolehkan melakukan hal-hal yang kayak tadi?" sambung David memohon.


"Astaga, aksi seperti itu malah akan membuat Mas semakin tersiksa. Jadi, sebaiknya Mas jaga jarak malah lebih aman," nasihati Kayra tersenyum.


"Nggak mau. Masa sama istri sendiri pakai acara jaga jarak segala," tolak David cemberut.


"Bukan gitu, Mas. Kita jaga jarakkan demi keamanan bersama. Jujur nih, setiap Mas melakukan hal itu ... aku pun ikut hanyut. Bagaimana kalau kita sampai lupa diri? Aku takut, Mas. Kan, kata dokter Mas puasa cuma sampai enam minggu alias empat puluh hari saja. Kan, empat puluh harinya sudah berkurang sekitar sepuluh hari. Jadi, terhitung tinggal tiga puluh hari lagi," nasihati Kayra mencoba membuat suaminya mengerti.

__ADS_1


__ADS_2