
"Eh, jangan sekarang! Kondisimu belum pulih benar. Ini sangat berbahaya!" larang Lira cemas. Dia bangkit dari kursi hendak menahan David.
Sedangkan yang lain melebarkan matanya melihat aksi David.
"Jangan halangi aku! Anak dan istriku sedang dalam bahaya!" David memberi aba-aba dengan mengangkat tangannya.
"Tapi," ucap Lira begitu cemas.
"Sudah biarkan saja." Pak Anwar memegang pundak Lira.
Lira langsung menatap papahnya penuh tanya.
"Nanti, dia paham sendiri," sambung Pak Anwar mengangguk.
"Baiklah," ucap Lira lesu.
Sayangnya usaha David gagal karena tidak memiliki cukup banyak tenaga untuk menopang tubuhnya.
"Settt, ah!" ringis David kecewa.
"Kenapa tubuhku tak bertenaga sama sekali?" tanya David kesal.
"Wajar saja kalau tubuhmu masih lemah. Hal itu merupakan efek samping dari koma," jelas Pak Anwar tersenyum.
"Hah, koma? Berapa lama aku mengalami koma?" David melebarkan matanya terkejut. Dia pikir kejadian itu semalam. Dan paginya dia sudah sadarkan diri.
"Berarti keluarga kecilku sudah lama aku tinggal sendirian?" sambung David semakin cemas dan kecewa.
"Iya benar sekali karena kamu koma sekitar delapan hari," jelas Pak Anwar tersenyum.
"Ah, lalu, kalian adakah yang mengabari mereka soal kondisiku ini?" tanya David dengan tatapan sedih.
Mereka serempak menggeleng.
"Astaga, kenapa kalian tidak melakukannya?" tanya David sangat kecewa.
__ADS_1
"Maaf, karena kami tidak menemukan identitas apa-apa di tubuhmu saat itu," jelas Pak Anwar menunduk. Dia merasa tidak enak hati pada David karena obsesi putrinya. Padahal bisa saja dia melaporkan kasus David ini ke pihak berwajib.
"Kenapa kalian tidak melaporkan ke pihak berwajib agar menyelidiki identitasku? Pasti keluargaku sangat sedih karena aku tak ada kabar selama itu," ucap David semakin kecewa. Tanpa disadari buliran air merembes dari matanya. Dia tidak bisa membayangkan betapa sedih dan kehilangannya sang istri.
Lira langsung memejamkan matanya. Ini semua memang dia yang sengaja melakukannya karena terobsesi dengan apa yang dimiliki David. Sedangkan, yang lain bungkam.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian sengaja ingin menyembunyikan aku di sini?" tanya David semakin berlinangan air mata. Dadanya sesak mengingat anak dan istrinya di rumah.
"Bu__." Lira segera memotong penjelasan papahnya karena tahu kalau papahnya ingin menutupi aibnya.
"Sudah, biarkan aku saja, Pah." Lira menitikkan air mata.
"Tapi, Nak?" Pak Anwar cemas dengan perasaan anaknya.
"Tidak apa. Sebaiknya, kita jujur saja pada David." Lira tersenyum tipis diiringi air mata.
"Kamu yakin?" tanya Pak Anwar sangat cemas.
Lira mengangguk.
"Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini? Kenapa selalu saja kebahagiaan keluarga kecilku yang jadi korban?" imbuh David sangat pilu. Air matanya semakin deras hingga bantal yang dia kenakan basah kuyub.
Melihat itu Lira ikut merasa sedih. Bahkan, hatinya terasa perih merasakan penderitaan orang yang sangat dikaguminya.
"Maaf ... maafkan aku? Ini semua salahku karena terlalu berharap lebih sama kamu," jelas Lira tersedu-sedu.
"Ma-maksud kamu apa?" David menatap Lira penuh tanya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan ucapan Lira. Apa lagi ekspresi Lira menyiratkan rasa kecewa yang teramat dalam.
"Jujur, sejak pertama kali melihatmu ... aku langsung jatuh hati. Aku sempat berpikir ingin memilikimu karena kukira kamu masih single. Maka dari itu, aku meminta papahku untuk tidak melaporkan kamu ke pihak berwajib dulu sebelum kamu sadarkan diri. Aku tak ingin mereka memberitahu keluargamu dan mengambil kamu dari sisiku," jelas Lira tersedu-sedu.
Deggg!
Jantung David berhenti berdetak sejenak. Dia memejamkan matanya sesaat. Dia tidak menyangka akan ada sosok wanita lain yang ingin menyakiti hati istrinya lagi.
"Maaf ... maafkan aku." Tatapan Lira penuh penyesalan.
__ADS_1
David membuka matanya dan menghela napas kasar. Dia menatap Lira bingung.
"Kamu maukan memaafkan aku?" David masih terdiam.
"Aku janji tidak akan mengganggu kebahagiaan keluargamu lagi." Lira tersedu-sedu.
Pak Anwar merangkul pinggang putrinya. Dia sangat sedih melihat keterpurukan Lira.
Melihat ketulusan Lira saat berjanji membuat hati David luluh.
"Baiklah, aku maafkan kamu karena sudah berani berjanji. Namun, bisakah kamu mengembalikan aku ke anak dan istriku sekarang juga? Sungguh aku sangat mengkhawatirkan keadaan mereka," tegas David menatap Lira.
Lira mengangguk patuh.
David langsung tersenyum senang.
Namun, berbeda dengan Pak Anwar. Dia malah melarang David pulang sekarang dengan sebuah alasan yang logis.
"Maaf, bukannya aku berniat jahat pada kamu dan keluargamu?" Senyum David memudar. Dia beralih menatap Pak Anwar.
"Kalau bisa kamu harus menahan diri menemui anak dan istrimu dulu ... sampai kondisimu benar-benar pulih. Malah kalau bisa selesaikan dulu kasusmu ini agar si penjahat itu tidak bisa mengulanginya lagi. Aku yakin kalau wanita itu sudah mengira kamu mati. Jadi, jika dia tahu kamu masih hidup. Pasti dia tidak akan tinggal diam dan mengulangi kejahatannya lagi pada kalian di saat kondisi kamu masih lemah begini," sambung Pak Anwar.
David terdiam sejenak memikirkan ucapan Pak Anwar. Menurutnya ucapan Pak Anwar masuk akal. Apa lagi dia paham karakter Nayla itu seperti apa. Namun, di sisi lain perasaan cemas menghinggapi jiwanya mengingat anak dan istrinya tinggal mandiri tanpa keluarga lain yang mengelilingi.
"Baik, aku setuju dengan usulan Bapak. Tapi, bagaimana dengan keselamatan anak dan istriku? Wanita itu sangat membenci istriku. Aku takut kalau dia menyakiti istriku juga?" tanya David dilema.
"Tapi, kalau menurut ilmu yang aku pelajari dari beberapa kasus pembunuhan ... sepertinya wanita itu tidak akan menyakiti istrimu. Resiko itu terlalu besar untuk dihadapinya setelah mencoba melakukan pembunuhan terhadap kamu. Pastilah saat ini polisi sedang tersebar di mana-mana melakukan pencarian terdakwa untuk memecahkan kasusmu ini. Jadi, tidak gampang dia keluar kandang buat menyaki keluargamu," jelas Pak Anwar.
"Iya sih. Lalu, apakah kalian punya rencana untuk membantu aku menangkap tersangkanya? Sepertinya, akan sangat mustahil jika tiba-tiba aku melayangkan tuduhan pada Nayla atas kasus yang menimpaku ini tanpa bukti?" tanya David cemas.
"Iya benar sekali itu. Tidak mungkin kita tiba-tiba melayangkan tuduhan tanpa bukti yang akurat. Kalau soal rencana sih, tentu saja kita harus meminta bantuan pada yang ahli dalam bidang itu," jawab Pak Anwar tersenyum.
"Berarti, aku harus menyewa detektif dong." Nada bicara David langsung lesu karena Ketidakadaan biaya.
"Yah, benar sekali. Asalkan kita memiliki identitas diri tersangka secara lengkap. Maka dia akan menelusurinya secara detail riwayat hidupnya untuk menggali informasi yang akurat tentang tuduhan kita tersebut," jelas Pak Anwar tersenyum.
__ADS_1
"Em, tapi ...." David ragu sekali mengutarakan ketidakadaan biaya untuk membayar sewa detektifnya.