Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Susu Ibu Menyusui


__ADS_3

"Mbok Nem tolong Pak Sopir keluarin barang-barang di dalam mobil," perintah Damar tersenyum.


"Siap, Den." Mbok Nem segera menyusul Pak Sopir yang sudah lebih dulu mengeluarkan barang-barang bawaan Damar.


Sedangkan Bu Siska segera menghampiri Kayra.


"Hey, bagaimana kabarmu, Nak?" Bu Siska tersenyum sambil memeluk Kayra sejenak. Sungguh hatinya senang bisa kembali bertemu dengan Kayra dan anak-anaknya.


"Baik, Tante." Kayra tersenyum hangat.


"Kemarikan Davinnya. Oma, mau gendong cucu oma," pinta Bu Siska tersenyum gemas.


"Baik, Tante." Kayra memberikan tubuh mungil berbalut kain bedong itu pada Bu Siska.


Di saat bersamaan Pak Sopir yang sedang membawa kardus berukuran cukup besar menghampiri Kayra.


"Maaf Non, ini mau ditaruh di mana?" tanya Pak Sopir sedikit meringis karena kardusnya lumayan berat.


Kayra langsung mengalihkan pandangannya mengarah ke Pak Sopir. Keningnya mengerut saat melihat gambar di kardus tersebut.


"Susu ibu menyusui," gumam Kayra terkejut.


Damar yang baru menghampiri langsung menyahutinya.


"Iya benar sekali. Kan, Davin tidak minum susu formula. Jadi, kamu saja yang meminumnya agar asi yang kamu hasilkan lebih berkualitas untuk tumbuh kembang Davin." Nada bicara Damar lagi-lagi berubah jutek saat berbicara dengan Kayra. Dia pun tidak menatap wajah Kayra.


"Tapi, kenapa belinya banyak sekali? Ini kesannya berlebihan," jelas Kayra merasa tidak enak hati.


"Apanya yang berlebihan? Bagiku kesehatan dan tumbuh kembang yang baik untuk anakku itu lebih penting. Aku yakin sekali kalau kamu pasti tak akan mamp__"Perkataan Damar langsung diserobot ibunya.


"Mar!" Bu Siska melotot.


Damar langsung bungkam dan memasang ekspresi cemberut.


Sedangkan, Kayra langsung menghela napas panjang untuk menetralisir suasana hatinya. Dia seakan terbiasa dengan perkataan Damar yang buruk itu.

__ADS_1


"Ayo kita masuk saja ke dalam, Ra. Jangan pernah menggubris perkataan pria munafik. Dia sekarang bisa berkata seperti itu. Dan besoknya dia sudah berkata lain lagi," ajak Bu Siska tersenyum manis sama Kayra.


Damar langsung melotot dikatai ibunya pria munafik. Dia belum menyadarinya sama sekali sampai detik ini.


"Iya, Bu." Kayra tersenyum geli. Hatinya cukup senang mendengar Damar disindir ibunya sendiri.


"Ayo Pak ikut kami ke dalam," ajak Bu Siska tersenyum menatap ke arah Pak Sopir.


"Siap, Bu." Pak Sopir mengangguk patuh.


Mereka bertiga segera melangkah menuju dalam rumah. Sedangkan, Damar mengikuti mereka dengan tatapan kesal. Langkahnya sengaja dibuat pelan karena tak ingin terkesan buru-buru.


"Papah, napa mutanya tayak gitu? Papah, jelek banet talo tayak gitu?" ceplos Kaysa terkekeh geli.


"Hem, anak gadis papah ini berani ya ngatain papahnya jelek." Damar langsung mengecup gemas pipi Kaysa.


"Emang benel loh, Papah itu talo cembelut jelek banet. Talo Papah telsenyum gini tampan banet tayak opa tolea," jelas Kaysa terkekeh geli.


"Astaga, kamu ini kecil-kecil ngerti aja kalau opa korea itu tampan-tampan. Hayo siapa yang ngajarin kamu?" tanya Damar sangat gemas. Dia mencium pipi Kaysa bertubi-tubi.


"Hem, bundamu itu toh?" tanya Damar jutek lagi.


Kaysa langsung tertegun dengan sikap Damar itu.


"Napa sih, Papah ini tayak dak suta ama Bunda?" tanya Kaysa cemberut.


Damar terdiam sesaat. Dia bingung harus menjawab apa.


"Napa diem?" tanya Kaysa cemberut.


"Eh, bukannya Papah tidak suka sama Bunda. Papah cuma kurang suka aja sama bundamu yang suka nonton opa korea," kilah Damar tersenyum.


"Oh ditu. Anti atu nomong deh ama Unda bial dak nonton opa tolea lagi," balas Kaysa tersenyum.


"Eh, jangan! Nanti, bundamu malah marah. Sudah biarin saja," larang Damar cemas. Dia tak ingin Kayra salah sangka nantinya. Padahal dia hanya ingin membohongi Kaysa saja.

__ADS_1


"Papah, tenang aja. Unda, dak atan malah tok. Unda, itu baik olangnya," jelas Kaysa tersenyum santai.


"Oh." Damar tersenyum kecut.


Begitu sampai di dalam, dia segera menurunkan tubuh Kaysa ke lantai. Kaysa langsung berjalan cepat mengikuti bundanya yang masuk ke dalam diikuti Pak Sopir dan Mbok Nem.


Damar beralih mendekati Bu Siska karena ingin menengok Davin. Baru sebentar saja berpisah dengan putranya dia sudah merasa rindu berat.


"Sini Davin sekarang gantian ikut, Papah." Tangan Damar hendak meraih tubuh putranya.


Plakk!


"Auww! Kok, malah dipukul sih, Bu?" ringis Damar kesakitan karena tangannya dipukul Bu Siska.


"Enak saja kamu mau gendong Davin sekarang. Ibukan belum puas menggendongnya. Tak ingat apa bagaimana rindunya Ibu sama cucuku ini," omel Bu Siska cemberut.


"Iya aku tahu. Tapi, aku ingin menggendongnya juga, Bu. Ayolah berikan Davin padaku dulu," rengek Damar memelas.


"Huh, ternyata kamu benar-benar termakan sama ucapanmu sendiri," sindir Bu Siska lirih sambil tersenyum mengejek.


"Maksud, Ibu apa sih? Ayolah berikan Davin dulu sama aku," rengek Damar memelas.


"No. Apa kamu tak ingat bagaimana dulu kamu menolak keras kehadirannya. Andai saja Davin sudah besar, pasti sudah Ibu kompori dia biar nggak mau sama kamu," lirih Bu Siska mengerutkan bibirnya.


"Ya kan, dulu Damar sedang emosi-emosinya, Bu. Damar juga belum pernah melihat wajahnya. Damar pikir dia bakalan mirip sama David atau Kayra. Ternyata, dugaanku salah besar. Maafkan, Papah ya, Sayang." Damar membelai wajah putranya dengan lembut. Tergambar jelas gurat kekecewaan di wajahnya.


"Huh, bukannya dulu Ibu sudah pernah bilang sama kamu kalau Davin begitu mirip dengan kamu? Kamu saja yang keterlaluan? Andai saja kamu tak egois dan keras kepala ... pasti Ayah masih ada sampai detik ini. Dia pasti sangat senang bisa menggendong cucu yang dia idam-idamkan ini," ucap Bu Siska sangat sedih. Dia mengecup kening Davin sambil menitikkan air mata.


"Maaf, Damar minta maaf, Bu? Sungguh Damar sangat menyesalinya." Damar meruntuhkan tubuhnya ke lantai.


"Kamu yakin menyesal?" Damar mengangguk sedih.


"Baguslah, kalau kamu menyesalinya. Ibu harap kejadian seperti itu jangan pernah terulangi lagi. Mulai detik ini, rubahlah sikap burukmu itu pada Kayra. Jangan sampai kamu menyesal lagi karena sudah melampiaskan amarahmu pada orang yang tidak tepat," nasihati Bu Siska menatap sendu Damar.


"Maksud Ibu ... Kayra itu tidak bersalah sama sekali gitu? Heh!" Damar tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ya, Ibu yakin sekali dengan itu. Malah menurut Ibu ... dia juga korban di sini. Yang salah itu sebenarnya istrimu karena tidak mau jujur dengan kekurangannya. Dia memanfaatkan keterpurukan adiknya untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki bersama kamu. Kalau Kayra yang bersalah, pastilah David tidak akan sudi memaafkan Kayra. David, tahu bahwa istrinya itu terpaksa karena dia pun tak mampu saat itu," jelas Bu Siska dengan deraian air mata.


__ADS_2