
Damar langsung terdiam. Dia tidak lagi melanjutkan percakapan. Tangannya masih terus mengusap lembut wajah putranya.
Tak lama munculah Kayra, Kaysa, Pak Sopir dan Mbok Nem dari balik pintu. Mereka berniat bergabung di ruang tamu. Damar segera bangkit dan duduk di samping ibunya.
Bu Siska segera mengusap air matanya.
"Ra, apa benar suamimu pergi dan nggak pulang-pulang?" tanya Bu Siska menatap Kayra sendu.
"Mas David bukan pergi, Bu. Tapi, dia lembur kerja malam itu. Kami sempat berkomunikasi lewat video call sebelum sebuah tragedi menimpanya." Kayra menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Astaga, memangnya tragedi apa yang menimpanya?" tanya Bu Siska kaget.
"Aku nggak tahu jelas, Bu. Tapi, orang-orang menemukan motornya dan jasad orang lain di sungai," jelas Kayra menitikkan air mata.
"Astaga, malang sekali nasib David. Apa pihak kepolisian tidak menyimpulkan apapun soal kejadian yang menimpa suamimu itu?" selidiki Bu Siska penasaran.
"Kesimpulan sementara sih, katanya Mas David jadi korban pembunuhan. Tapi, sampai saat ini jasadnya belum juga ketemu. Kalau menurut pirasatku sih, Mas David itu masih hidup," jelas Kayra menitikkan air mata.
"Semoga saja pirasatmu benar. Ibu akan terus mendoakan keselamatan David." Bu Siska menitikkan air mata kembali.
"Iya, Mbok juga akan terus mendoakan keselamatan Den David," sahut Mbok Nem ikut menitikkan air mata.
"Aku juga," sahut Pak Sopir sedih.
"Aamiin, terima kasih semuanya. Semoga saja doa kita diijabah yang maha kuasa." Kayra mencoba tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Apa kejadiannya di jembatan sungai X?" tanya Damar penasaran sekali.
Kayra mengangguk.
"Em, apa polisi sudah menelusuri semua jalur sungainya?" tanya Damar lagi.
"Aku tidak tahu. Polisi belum memberi kabar lagi," jelas Kayra sedih.
Damar langsung menghela napas kasar.
"Kenapa kasus kriminal yang dialami David dan Kayla sulit sekali dipecahkan? Apa mungkin dalangnya orang yang sama?" gumam Damar bertanya-tanya.
__ADS_1
Semuanya langsung mengerutkan kening.
"Maksud kamu apa, Mar?" tanya Bu Siska merasa aneh.
"Tidak ada, aku hanya salah bicara saja. Ya sudah. Sekarang gantian biar aku yang memangku Davin. Kan, Ibu sudah lama mangkunya," rengek Damar segera meraih tubuh putranya.
"Huh, kamu ini kalau bicara suka bikin orang kepikiran saja," omel Bu Siska membiarkan Damar meraih tubuh Davin dari pangkuannya.
"Namanya juga lidah tak bertulang, Bu." Damar mengecupi seluruh area wajah putranya dengan gemas.
***
Di tempat lain, terlihat seorang gadis cantik terus tersenyum menatap pria yang masih saja memejamkan matanya. Sudah beberapa hari ini dia terus setia menanti pria itu sadar dari komanya. Jujur dia begitu terpikat melihat ketampanan pria tersebut.
"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin bercakap dan mengenalmu lebih dalam. Sungguh, aku sangat berharap kalau kamu itu seorang pria single yang tidak memiliki pasangan," ucap gadis itu penuh harap. Tangannya membelai lembut wajah pria itu. Terdapat beberapa luka memar di area wajah dan kepalanya.
Di saat bersamaan refleks jemari tangan pria itu bergerak-gerak pelan. Matanya pun ikut pelan-pelan terbuka. Bola matanya bergerak-gerak meneliti dan berusaha mengenali ruangan yang dia tempati.
"A-aku a-da di mana ini? Ah!" Tangannya memegangi kepala yang terasa berdenyut hebat.
"Eh, akhirnya kamu sadarkan diri juga." Wajah gadis itu berbinar-binar.
"Papah, cepatlah kemari! Pangeranku sudah terbangun!" teriak gadis itu sangat senang.
Suara teriakannya itu membuat dua orang yang sedang sibuk mengobrol di ruang keluarga segera berlarian menghampirinya. Pria paruh baya dan seorang pembantu rumah mereka tersenyum senang ketika melihat pria itu benar-benar sudah sadarkan diri.
"Akhirnya, kamu sadar juga, Nak?" Pria paruh baya itu mendekati ranjang.
Pria itu langsung menengok ke arah orang yang menyapanya karena rasa pusingnya sedikit berkurang. Jadi, dia bisa berkonsentrasi.
"Ka-kalian siapa?" lirih Pria itu semakin bingung karena dia tidak mengenali tiga orang tersebut.
"Perkenalkan, aku Lira." Gadis itu lebih duluan mengemukanan identitas dirinya.
"Kalau beliau ini adalah papahku. Namanya Anwar." Lira menyentuh pundak ayahnya sambil tersenyum bahagia.
Pak Anwar pun mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Dan, yang itu pembantu kami. Namanya Bi Marni." Tunjuk Lira sangat antusias.
Bi Marni pun ikut mengembangkan senyumannya.
Pria itu tersenyum tipis membalasnya.
"Kenapa aku bisa bersama kalian? Padahal aku sama sekali tidak mengenali kalian? Setttt!" tanyanya bingung diakhiri sebuah ringisan karena kepalanya kembali berdenyut.
"Em, malam itu di saat aku sama Papah pulang dari mengunjungi sebuah desa terpencil. Tanpa diduga-duga sopir kami yang hendak mengambil air untuk mengisi karburator mobil melihat tubuh kamu mengambang dan tersangkut akar pohon yang besar di pinggiran sungai. Pak Sopir segera meminta tolong. Kami pun segera menghampirinya. Papah dan Pak Sopir segera mengangkat tubuh kamu. Lalu, melakukan pengecekan terhadap kamu. Ternyata kamu masih hidup. Kami segera membawa tubuh kamu pulang ke rumah. Kebetulan peralatan medis di rumah kami memadai untuk merawat dan mengobati kamu," jelas Lira tersenyum senang.
"Oh, terima kasih banyak." Pria itu kembali mengulas senyumnya.
"Sama-sama. Oh ya, kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanya Lira tidak sabar ingin tahu identitas pria tampan di depannya.
"Aku David," jawabnya lirih.
"Oh, David. Em, ngomong-ngomong kenapa bisa kamu mengambang di sungai? Apa kamu mengalami kecelakaan atau apa?" tanya Lira penasaran.
David terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpanya.
Mereka tampak menunggu jawaban dari David.
"Seingatku, malam itu aku pulang dari lembur kerja. Terus pas di sebuah jembatan aku melihat keramaian. Terpaksa aku menghentikan laju motorku untuk mengeceknya. Setelah aku menelusurinya, ternyata ada orang yang mengalami kecelakaan. Aku pun berniat ingin membantunya. Namun, tiba-tiba ada yang memukulku dari belakang. Setelah itu aku tak ingat lagi," jelas David dengan mata terpejam.
"Astaga, jangan-jangan itu cuma motif mereka saja untuk mencelakaimu? Oh ya, maaf, apakah kamu memiliki musuh atau saingan bisnis?" tanya Lira semakin penasaran.
"Musuh?" ucap David lalu terdiam kembali
berusaha mengingat orang-orang yang mungkin pernah berselisih dengannya.
Deg!
David langsung teringat pada satu nama orang yang sedang berselisih dengannya yaitu Nayla. Dia teringat dengan musibah besar yang menimpa Nayla akibat amarahnya waktu itu.
"Pasti semua ini didalangi oleh Nayla. Soalnya, hanya dia yang menaruh dendam padaku dan keluarga kecilku," ucap David langsung gelisah. Perasaan cemas langsung merasuki jiwanya.
"Jadi, kamu sudah berkeluarga toh?" Lira menyempatkan diri bertanya soal status David. Sungguh dia sangat kecewa sekali. Namun, sebisa mungkin dia tak menampakan ekspresi tersebut di depan David.
__ADS_1
David mengangguk.
"A-aku harus segera pulang ke rumah! Pasti anak dan istriku ikut dalam bahaya." David segera berusaha bangkit.