
"Hey, apa yang kamu lakukan di sini? Ke mana Mbak Suni?" tanya David menghampiri sang istri. Dadanya sedikit bergemuruh melihat istrinya bersusah payah menerima pesanan makanan dari kurir.
"Em, Mbak Suni lagi sibuk! Jadi, aku yang ambilin makanannya," jelas Kayra mencoba tetap tersenyum. Walaupun sebenarnya luka operasi di perutnya terasa nyeri. Tubuhnya basah kuyub oleh buliran-buliran keringatnya.
"Astaga, sesibuk apapun dia tetap wajib melayani kamu! Apalagi kamu belum benar-benar pulih," jelas David menahan emosi. Dia tidak mengerti jalan pikiran sang istri.
"Maaf," ucap Kayra menunduk sedih.
Melihat istrinya jadi sedih, hati David langsung merasa tak tega.
"Sudah, jangan sedih begini!" David meraih wajah sang istri. Lalu, mengusapnya lembut.
"Maafin, Mas, ya? Mas, bukan ingin menyakitimu. Mas, hanya kesal melihat kamu mengerjakan ini semua sendiri." David mengecup pucuk kepala Kayra.
"Iya Mas, aku mengerti kok." Kayra kembali mencoba tersenyum.
"Oh ya, kamu kenapa nggak bilang sama Mas kalau ingin makan pizza? Mas, kan bisa belikan tanpa kamu bersusah payah seperti ini?" tanya David tersenyum.
"Em, sebenarnya bukan aku yang ingin makan ini, tapi Nayla." Kayra tersenyum.
"What? Nayla yang ingin makan ini kenapa kamu yang bersusah payah mengerjakannya?" tanya David kembali memanas hatinya.
"Em, dia sedang hamil besar. Jadi, pasti capek kalau jalan kemari sendirian. Makanya, minta bantuan sama aku," jelas Kayra tersenyum.
"Oh begitu, lalu bagaimana dengan kondisi kamu yang sedang tidak sehat ini? Apalagi kamu harus bersusah payah sambil menggendong Davin segala. Apa dia peduli dengan kamu? Tidakkan! Baiklah, biar aku yang menangani dia agar bisa berpikir jernih otaknya itu," ucap David dengan napas kembang kempis. Matanya merah menyala-nyala.
Kayra terdiam meresapi kata-kata sang suami.
"Eh, Pak Satpam, cepatlah kemari!" panggil David kesal.
Pak Satpam yang masih berdiri di dekat pintu gerbang langsung mendekat.
"I-iya ada apa, Pak?" tanya Pak Satpam sedikit cemas. Dia takut kalau perbuatan Nayla akan berimbas pada dirinya juga.
"Cepat, kamu berikan makanan ini sama bosmu. Ingat jangan bilang kalau aku ada di sini?" David meraih kotak pizza di tangan Kayra, lalu menyerahkannya pada Pak Satpam.
__ADS_1
"Ta-tapi, Pak? Aku tidak berani membohongi Non Nayla," jelas Pak Satpam cemas.
"Oh, jadi, Pak Satpam berani menentang aku?" tanya David menatap tajam Pak Satpam.
"Ti-tidak juga, Pak." Pak Satpam menunduk takut.
"Ya sudah. Cepat sana kerjakan apa yang aku perintahkan," titah David penuh penekanan.
"Ba-baik, Pak." Pak Satpam segera menerima kotak pizzanya dengan wajah cemas dan takut.
Pak Satpam melangkah ke dalam pekarangan rumah dengan perasaan was-was. Dia yakin sekali kalau Nayla pasti akan memarahinya karena kesal. Soalnya, dia tahu benar kalau majikannya sejak tadi dengan sengaja menyiksa Kayra. Namun, dia tak bisa berkutik karena takut dipecat.
"Sini, biar Davin aku saja yang gendong! Kamu pasti sudah sangat lelah. Tubuhmu sampai basah kuyub gitu oleh keringat!" David pelan-pelan meraih tubuh Davin.
"I-iya, Mas." Ekspresi cemas tergambar jelas di wajah Kayra. Dia yakin kalau David pasti akan memarahi Nayla habis-habisan karena sudah bertindak sesuka hati padanya.
David bergegas membuntuti Pak Satpam yang terlihat ragu sekali mengantarkan makanan itu ke Nayla.
Begitu melihat Pak Satpam sudah sampai di depan Nayla. David sengaja berhenti sedikit menjauh dari lokasi Nayla duduk santai sambil menikmati segelas jus mangga buatan Kayra tadi. Dia ingin mendengar ucapan Nayla ketika tahu bukan Kayra yang mengantarkan pizzanya.
Nayla yang masih asik dengan jusnya langsung menengok ke arah Pak Satpam.
Keningnya mengerut.
"Loh, kok malah Pak Satpam yang antar pizzanya kemari? Itu Kayra ke mana? Aku kan memyuruh dia bukan Pak Satpam? Berani sekali dia mengalihkan tugas yang aku perintahkan sama Pak Satpam," omel Nayla kesal.
Mendengar perkataan Nayla, bara api di hati David semakin berkobar-kobar.
Belum sempat Pak Satpam menjawabnya, David sudah terlebih dahulu menyahutinya sambil melangkah mendekati mereka.
"Wah-wah, hebat sekali kamu, ya? Mentang-mentang istriku sedang tidak baik-baik saja ... kamu bisa menindasnya!" Suara David terdengar menyeramkan sekali.
Mendengar suara David, mata Nayla langsung melebar sempurna. Jantungnya berdetak cepat. Perasaan cemas dan takut merasuki jiwanya.
"Matilah aku," batin Nayla tak berani menatap ke arah David.
__ADS_1
Karena sangat emosi tanpa diduga-duga tangan David bergerak sendiri melayang ke wajah Nayla.
Plakkk!
Nayla langsung memejamkan matanya menahan perih dan panas di pipinya. Dadanya bergemuruh karena merasa tak terima dengan perlakuan David. Namun, dia tak berani membalas atau sekadar membela diri di depan David.
Pak Satpam dan Kayra langsung melebarkan matanya tidak percaya bahwa David sampai melakukan hal itu pada Nayla.
David hendak mengulanginya lagi karena belum puas mengingat tindakan buruk Nayla pada sang istri sudah sangat keterlaluan. Namun, Pak Satpam segera menahan tangannya.
"Sudah, Pak! Jangan ulangi lagi!" David memberontak.
"Lepaskan!" titah David menahan emosinya karena dihalangi
Kayra langsung mencegahnya.
"Berhenti! Sudah Mas, jangan lakukan itu lagi pada Nayla! Mas, tidak boleh bertindak kasar pada wanita! Kasihan dia!" teriak Kayra merasa sedih. Bahkan, dia yang menangis. Dia teringat akan perbuatan kasar David padanya dahulu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau David sampai bertindak kasar juga pada Nayla demi membelanya.
"Astaga, kamu masih bisa kasihan sama wanita macam dia yang tidak punya hati nurani ini?" David menatap Kayra tidak percaya.
"Iya, karena aku tahu bagaimana sakitnya itu, Mas! Jadi, jangan ulangi lagi, aku mohon!" Kayra terisak-isak.
David memejamkan matanya karena merasa sesak di dadanya. Dia juga teringat kembali bagaimana kasarnya dia dahulu pada Kayra.
"Baik, aku tidak akan memukul dia lagi." David membuka matanya menatap Kayra sedih. Namun, bibirnya tersenyum tipis.
Pak Satpam langsung melepaskan tangan David.
Kayra membalas senyuman itu.
Sementara Nayla masih menunduk sambil mengumpati aksi David yang berani menyakiti dia demi membela Kayra di dalam hatinya.
"Lihat saja Vid, akan aku balas perbuatan kamu ini. Jangan sangka aku akan ikhlas dan diam saja kamu perlakukan seperti ini. Apalagi sekarang kamu sampai berani memukulku hanya demi istri buruk rupamu itu." Tangan Nayla terkepal kuat.
David kembali menatap Nayla untuk menasihati dia saja sesuai permintaan sang istri. Namun, tidak sengaja dia melihat reaksi kepalan tangan Nayla itu. Otak David langsung berjalan menebak isi hati Nayla yang ternyata dipenuhi dendam dan kebencian.
__ADS_1
"Ternyata dia bukannya mengerti ditegur seperti ini. Dari cara dia itu, bisa dipastikan kalau dia malah akan semakin menyakiti Kayra. Lebih baik, aku ajak Kayra dan anak-anak pergi dari sini saja agar mereka aman," batin David was-was.