
"Jangan terus memendam seperti itu jika memang tak suka pada anak dan istriku?" David tersenyum sinis.
Nayla terperangah menatap David. Dia heran dengan David yang selalu paham dengan dirinya sampai detik ini.
"Tanpa menunggu kamu berhasil mengusir mereka dengan cara licikmu itu, aku akan membawa mereka pergi lebih dahulu dari sini. Karena tujuan hidupku hanya satu yaitu fokus pada anak dan istriku saja. Jika mereka tersakiti itu sama saja kamu menyakitiku. Dan tentu saja hal itu membuat aku semakin benci dan tidak menyukai kamu." Nayla melebarkan matanya.
"Ingat Nayla, aku bertahan di sini bukan karena gila harta atau karena kamu. Aku berada di sini bersusah payah mengelola perusahaan ayahmu itu hanya karena kasihan pada ibumu saja tidak lebih. Gara-gara ulah kamu ini ... mulai detik ini aku tidak akan peduli lagi pada hal yang berhubungan dengan kalian." David tersenyum mengejek. Lalu, hendak melangkah menghampiri Kayra.
"Tunggu!" teriak Nayla menahan amarah. Dia berpura-pura sedih dan langsung berakting menangis.
David menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi? Kamu mau berpura-pura sok sedih agar aku kasihan gitu sama kamu?" tanya David tersenyum mengejek.
"Terserah kamu mau menilai aku seperti apa? Akan tetapi, apa kamu sama sekali tidak ada hati nurani sama dia yang ada di dalam rahimku! Kamu terus-terusan mencampakan dia, dan aku tak bisa berbuat apa-apa? Andai saja, kamu bisa adil padaku ... tentu aku akan baik pada anak dan istrimu," ucap Nayla tersedu-sedu.
"Astaga aku malah lupa!" David menepuk jidatnya karena baru mengingat tujuan dia pulang ke rumah.
Kayra dan Pak Satpam tertegun dengan aksi David tersebut.
"Eh, kamu yakin kalau yang ada di dalam rahimmu itu adalah anakku?" tanya David tersenyum mengejek.
"Tentu aku sangat yakin. Apa kamu lupa dengan kejadian malam itu?" tanya Nayla tersedu-sedu.
"Oh iya, aku lupa. Ups, lebih tepatnya aku sengaja melupakan adegan jebakan yang kamu ciptakan itu padaku," jelas David tersenyum mengejek.
"Ma-maksud kamu apa berkata seperti itu?" tanya Nayla melebarkan matanya. Dia sangat gugup dan gelisah karena David sudah tahu kebenarannya.
"Heh, teruslah berpura-pura jadi orang bodoh Nayla? Karena aku tahu kalau kamu memang orang bodoh yang sok pintar ingin mengadali aku untuk menutupi aibmu itu." David menatap sinis Nayla.
"Itu nggak benar, Mas! Ini memang anak kamu!" Nayla melangkah mendekati David.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku tunjukkan bukti akuratnya!" David tersenyum sengit.
Tangannya segera meraih ponsel di saku jasnya. Dengan cepat dia menunjukkan beberapa foto Nayla tengah bercinta di atas ranjang bergonta-ganti pasangan.
Dia sengaja hanya diam saja tidak membahas masalah itu di depan orang tua Nayla.
Dia tak tega melihat ibunya Nayla terluka hatinya ketika mengetahui betapa bejatnya kelakuan sang anak. Padahal kenyataannya, ibunya Nayla sudah tahu perihal itu. Hanya David saja yang tidak mengetahuinya.
Mata Nayla melebar sempurna. Namun, dia tetap tak ingin menyerah. Dia segera meraih tangan David. Dia masih ingin membela diri.
"Jangan sentuh aku, Nayla!" bentak David menepis kasar tangan Nayla. Hal itu membuat tubuh Nayla tersungkur ke belakang.
Brukkkk!
"Ahhhh!" Nayla langsung meringis dan memegangi perutnya yang keram.
Kayra dan Pak Satpam melebarkan matanya. Mereka berjalan cepat menghampiri Nayla karena merasa cemas. Berbeda dengan David yang terlihat biasa saja.
"Astaga, apa yang sudah Mas lakukan ini bisa membahayakan bayinya?" omel Kayra berusaha menolong Nayla.
"Mas, kok malah pergi sih? Coba deh Mas lihat kondisi Nayla dulu! Dia mengeluarkan darah banyak!" beritahu Kayra semakin khawatir.
David tidak menggubrisnya sama sekali. Dia malah mempercepat langkahnya. Di depan teras dia berpas-pasan dengan Mbak Suni yang menatapnya cemas.
"Aduh, pasti Non Nayla kena damprat habis-habisan nih karena kelakuannya diketahui Den David," batin Mbak Suni ketar-ketir.
David langsung masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan ekspresi yang timbul di wajah Mbak Suni. Sungguh dia sudah muak dengan orang-orang yang ada di rumah Nayla setelah tahu istrinya disakiti seperti ini.
Sementara Kayra masih sibuk dan bingung harus berbuat apa untuk menolong Nayla.
"Aduh Pak, sebaiknya cepat hubungi ambulan saja sebelum terlambat. Ini darahnya Nayla semakin banyak keluarnya," titah Kayra was-was.
__ADS_1
"Baik, Non!" Pak Satpam segera berlari ke pos jaga untuk menghubungi pihak rumah sakit.
Mbak Sani yang baru melihat kondisi Nayla langsung berlari menghampiri Kayra dan Nayla.
"Eh, ini kenapa sama Non Nayla kok bisa seperti ini?" tanya Mbak Suni segera ikut turun tangan.
"Ceritanya panjang, Mbak! Oh ya, alangkah sebaiknya Mbak hubungi Ibu saja sekarang! Biar aku saja yang menjaga Nayla sampai bala bantuan datang," balas Kayra panik.
"Baik!" Mbak Suni segera berlari kembali ke dalam rumah menuruti perintah Kayra.
Baru saja Mbak Suni kembali ke lokasi Kayra dan Nayla. Mobil ibunya Nayla telah tiba. Pintu mobil langsung dibuka ibunya Nayla, lalu dia segera keluar. Dia berjalan cepat mendahului Pak Sopir yang bertugas menggendong Kaysa.
Matanya melebar sempurna saat melihat kondisi anaknya yang bersimbah darah.
"Astaga, kenapa bisa seperti ini? Apa kalian sudah menghubungi pihak rumah sakit? Lalu, itu di depan ada mobilnya David? Apa Nayla dan David bertengkar?" tanya ibunya Nayla terkejut, cemas dan takut.
"Ceritanya panjang, Bu. Kalau soal menghubungi pihak rumah sakit sudah kok. Tinggal menunggu saja," jelas Pak Satpam cemas.
Sedangkan, Kayra hanya diam saja karena takut.
"Jadi, benar kalau Nayla dan David bertengkar?" perjelas ibunya Nayla.
"Iya benar," sahut Kayra merasa takut.
"Astaga, memangnya mereka bertengkar karena apalagi sih? Bukannya, kita sudah sepakat untuk berdamai dan bersatu?" tanya ibunya Nayla menghela napas panjang.
Kayra, Pak Satpam, dan Mbak Suni hanya diam saja. Mereka tak berani menceritakan keburukan Nayla pada ibunya. Sementara, Nayla terus-terusan mengaduh kesakitan saja. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang dipertanyakan ibunya.
"Loh, kok, pada diam saja? Ayo cepat jelaskan biar Ibu nggak menduga-duga dan salah menuduh," pinta ibunya Nayla kesal.
Tangannya terus mengusap kucuran keringat di kening Nayla.
__ADS_1
Mereka masih diam saja karena ketakutan. Kayra takut mengingat ketidaksengajaan David menangkis tangan Nayla tadi. Sedangkan, Mbak Suni tidak berani ikut-ikutan karena dia memang tahu penyebab kemarahan David. Sementara, Pak Satpam tak berani membeberkan keburukan Nayla pada ibunya.
"Kalau kalian tak mau menjelaskan duduk permasalahannya, biar aku saja yang menjelaskannya," sahut David yang baru hadir lagi. Dia hendak mengantarkan Davin ke Kayra karena menangis ketika dia sedang sibuk memasukkan baju milik mereka ke dalam koper.