Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Terkejut


__ADS_3

Dia menghentikan laju motornya sejenak karena melihat ada keramaian tepat di atas jembatan.


"Astaga, apakah baru saja terjadi kecelakaan?" gumam David segera turun dari kendaraannya. Dia menghampiri kerumunan tersebut.


Begitu sampai di dekat lokasi, dia terkejut saat melihat tubuh korbannya terluka parah. Korbannya terkapar di atas aspal dalam kondisi pingsan. Di kepalanya mengeluarkan banyak darah.


"Hey, kenapa kalian hanya diam saja memandanginya? Seharusnya kalian segera membawa dia ke rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawanya," tegur David langsung turun tangan. Dia berjongkok hendak melihat korbannya dari dekat.


Namun tiba-tiba terdengar suara pukulan yang sangat keras menghantam.


Buggg!


"Ah!" teriak David kesakitan. Tangannya memegangi bagian lehernya yang keram dan nyeri. Dia menatap ke arah orang-orang yang berada di sekelilingnya sejenak sebelum menutup matanya. Terlihat orang-orang tersebut sedang menertawakan dia.


"Hahaha! Ternyata mengalahkan orang berotot itu memang tak boleh pakai tenaga jika ingin cepat menang!" ucap mereka bersama-sama diselingi tawa yang menggelegar.


Ya itulah yang sempat David dengar dan akhirnya dia benar-benar pingsan.


"Ayo cepat kita buang ke sungai sebelum ada kendaraan dari arah sana datang! Kita harus cepat menghilangkan jejak perbuatan kita ini! Kita buat seolah-olah dia mati karena kecelakaan lalu lintas. Kamu cepat kendarai mobilnya!" perintah ketua gengnya.


"Siap, Bos!" Mereka semua bergerak cepat menjalankan perintah dari ketua gengnya.


***


Di rumah Kayra bukannya tenang menunggu kedatangan sang suami. Dia malah begitu gelisah dan cemat. Jantungnya berdebar-debar panas. Sampai-sampai bulu kuduknya ikut berdiri.


"Oh Tuhan, sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Kenapa aku merasa begitu takut dan semakin gelisah menunggu kepulangan suamiku." Tangan Kayra terus memegangi dadanya.


"Semoga saja tidak terjadi hal buruk padanya. Sungguh aku sangat menginginkan dia segera sampai di rumah dalam keadaan baik-baik saja," gumam Kayra melangkah mondar-mandir seperti setrika di depan pintu ruang tamu yang masih tertutup rapat. Dia sengaja tak langsung membukanya sebelum sang suami tampak di depan mata. Hal itu dia lakukan karena takut.


Huwa!


Di saat bersamaan terdengar suara tangis putra dan putrinya sangat histeris. Tentu saja Kayra langsung berlari kembali ke dalam kamar.


"Astaga, kenapa mereka berdua tiba-tiba menangis histeris sih?" gumam Kayra semakin tak karuan hatinya.

__ADS_1


Di dalam kamar terlihat Kaysa sudah terduduk di atas kasur sambil menangis histeris memanggil-manggil ayahnya.


"Ayah! Huwa!" Sedangkan, Davin terus menangis histeris dengan mata terbuka lebar menatap ke arah langit-langit kamar.


Jujur Kayra sangat kebingungan harus menghampiri siapa dulu karena kedua-duanya sama-sama sedang tidak baik. Kakinya kaku menentukan arah jalan yang tepat.


"Sebaiknya, aku gendong Davin dulu dan segera menghampiri Kaysa." Kayra segera berjalan cepat menghampiri putranya, lalu segera menggendongnya. Kemudian dia berjalan cepat mendekati putrinya juga.


Tangannya menarik tubuh Kaysa agar mendekap ke tubuhnya juga. Lalu, tangan satunya membuka beberapa kancing bajunya untuk memberi asi Davin. Dia berharap Davin akan berhenti menangis dengan cara memberinya asi. Namun, usahanya itu tidak berhasil. Davin menolak pemberian asi itu. Dia terus menangis histeris.


"Astaga, sebenarnya ada apa ini? Kaysa, kamu kenapa Nak kok menangis? Apa Kaysa mimpi buruk?" tanya Kayra memastikan penyebab anaknya menangis histeris.


"Ayah ... Unda ... Ayah!" jawab Kaysa sesenggukan.


"Maksudnya, Kaysa mimpiin Ayah?" tanya Kayra lagi semakin cemas dan takut terjadi sesuatu sama suaminya. Tubuhnya semakin terasa bergetar dan panas.


"Iya, Kaysa akut! Ayah, berdarah!" jelas Kaysa sesenggukan.


Deg!


Dada Kayra semakin nyeri dan perih. Tubuh lemas dan semakin bergetar. Rasa panas di tubuhnya semakin meningkat.


Tak berselang lama pintu rumahnya diketut seseorang. Namun, dari nada suaranya jelas bukan suara suaminya. Lagi pula terdengar lebih dari satu suara yang berbeda.


"Sayang, ayo kita ke depan dulu! Itu ada yang datang," ajak Kayra membelai rambut panjang putrinya.


Kaysa mengangguk patuh. Sambil terisak-isak dia ikut bangkit bersama bundanya. Sambil bergandengan tangan mereka melangkah bersamaan ke ruang tamu.


"Kayra, kalian kenapa?" teriak seseorang wanita sambil mengetuk pintu rumah Kayra.


Karena paham dengan suaranya, Kayra langsung membuka pintunya. Terlihatlah beberapa tetangga dekat mengunjungi rumahnya. Para tetangga langsung memasang wajah cemas melihat kondisi keluarga David yang memilukan.


"Astaga, kalian kenapa kok kompak menangis begini? Di mana David?" tanya salah seorang tetangga laki-laki.


"Mas David belum pulang. Mungkin, sekarang dia masih ada di perjalanan," jelas Kayra dengan suara serak.

__ADS_1


"Oh, lalu, ini kenapa kok pada menangis malam-malam? Apa terjadi sesuatu di rumah kalian?" tanyanya lagi penasaran.


"Sebenarnya, tadi hanya anak-anak saja yang menangis histeris. Namun, karena aku merasa cemas dan takut. Jadi, aku ikut menangis juga," jelas Kayra masih dengan suara serak.


Para tetangga langsung manggut-manggut seolah mengerti apa yang sedang dirasakan Kayra.


"Kok, aku jadi ikut cemas ya? Semoga saja tidak terjadi sesuatu sama ayahnya anak-anak," ceplos seorang nenek-nenek mulai menerka-nerka apa yang terjadi pada keluarga Kayra.


Para tetangga termasuk Kayra langsung melihat ke arah nenek-nenek itu. Hati Kayra jadi semakin dipenuhi rasa cemas dan takut mendengarnya.


"Maksud, Nenek apa berkata seperti itu? Jangan suka menakut-nakuti gitu, Nek! Kasihan Kayra sama anak-anaknya jadi semakin kepikiran," tegur anaknya sendiri tidak suka dengan sikap ibunya yang paranoid.


"Maaf, aku berkata seperti itu karena pengalamanku dulu. Apa kamu tidak ingat sama tragedi yang menimpa Bapak dulu? Bukankah kamu juga ikut merasakannya?" sudutkan Nenek kesal.


"Iya, aku ingat, Bu. Namun, maksudku jangan terlalu begitu. Bisa jadi apa yang kita alami dulu berbeda dengan apa yang terjadi pada keluarga Kayra. Mari kita doakan saja yang baik-baik," nasihati anaknya nenek mencoba membuat ibunya mengerti.


Nenek itu terdiam. Dia tidak berkomentar lagi.


Sedangkan para tetangga malah jadi ikut cemas dan takut setelah menyimak perdebatan antara ibu dan anak itu.


"Em, apa suamimu sudah pulang dari tadi, Ra?" tanya ibu-ibu gelisah.


"Sudah lumayan lama, sih." Kayra mengusap pucuk kepala Kaysa.


"Jarak dari bengkel kemari jauh tidak?" tanyanya lagi.


"Tidak terlalu sih." Kayra menundukan kepala.


"Oh, dia bekerja di bengkel Pak Samsul ya?" sahut salah seorang tetangga yang langsung paham.


"Iya benar." Kayra masih tertunduk.


"Em, untuk memastikan keadaan David baik-baik aja ... bagaimana kalau kita jemput saja dia? Kasihan ini anak-anaknya menangis terus," sarannya iba.


"Siap, aku setuju! Mari kita pulang dulu ambil kendaraan masing-masing," ajaknya semangat.

__ADS_1


"Yuk!" sahut para laki-laki kompak. Mereka segera meninggalkan rumah Kayra.


Sedangkan, para wanita masih di rumah Kayra untuk menemaninya.


__ADS_2