Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Menyusul


__ADS_3

Dia melangkah menghampiri Kayra dan David. Dari gambaran wajahnya menyiratkan rasa kecewa yang mendalam. Hal itu membuat kecemasan di hati Kayra kian menggebu-gebu.


"Bagaimana kondisi Ibu sekarang?" tanya Kayra dag-dig-dug.


"Maaf, nyawa ibu anda tidak bisa kami selamatkan." Dokternya menghela napas kasar.


"Astaga!" Kayra menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tanpa disadari setetes air luruh dari matanya. Walaupun ibunya Nayla bukan ibu kandungnya. Namun, kepergiannya juga membuatnya sangat shock dan kehilangan. Dia teringat saat-saat almarhum sang ayah pergi meninggalkannya.


Sedangkan David langsung menundukkan kepala. Jujur dia ikut sedih kehilangan ibunya Nayla yang memang sangat baik dengan dia dan istrinya.


"Semoga saja amal kebaikan Ibu dibalas dengan surga," batin David tersenyum sedih.


"Ya sudah. Saya mohon undur diri dulu. Saya harap kalian ikhlas atas kepergiannya. Doakan saja yang terbaik untuk beliau agar tenang di alam sana," ucap dokternya.


"Iya, Dok." Kayra dan David menatap dokternya sambil tersenyum sedih.


Dokternya segera melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Mas, sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa kita langsung memberitahu Nayla soal kabar Ibu ini? Pasti dia akan sangat terpukul karena harus kehilangan bayi dan ibunya" tanya Kayra merasa sesak di dadanya. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai musibah seperti ini menimpanya.


"Tidak perlu. Nanti, kita minta bantuan saja sama salah seorang suster di sini untuk menyampaikan kabar ini padanya," jelas David menolak saran Kayra.


"Kenapa tidak langsung kita saja yang memberitahunya? Ini pasti sangat berat sekali untuk Nayla" tanya Kayra merasa ada yang aneh dengan sikap sang suami.


"Jika kita yang memberitahunya pasti dia akan meminta kita untuk tetap tinggal bersama dia dengan alasan ini itu. Sungguh aku tidak menginginkan hal itu terjadi," jelas David menyentuh bahu Kayra.


"Baiklah, jika begitu ceritanya. Aku setuju dengan saran dari Mas. Lalu, bagaimana dengan nasib jenazah Ibu dan bayinya Nayla? Apa kita saja yang mengurusnya sampai prosesi pemakaman selesai?" tanya Kayra penasaran.


"Iya, kita yang akan mengurusnya. Bisa dipastikan bahwa Nayla tak akan bisa karena kondisinya jelas belum pulih," jelas David setuju.


"Ya sudah. Mas, sekarang hubungi orang rumah biar mempersiapkan diri menyambut kepulangan jenazah Ibu dan bayinya Nayla," saran Kayra tidak sabar lagi.


"Oke. Oh ya, sebaiknya nanti kamu pulang saja ke kontrakan. Tidak baik kalau Kaysa dan Davin yang masih balita ini ikut menyaksikan prosesi pemakaman jenazah. Mas, cemas dengan mental anak kita." David mengusap pucuk kepala putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya, aku setuju. Oh ya, nanti kami naik taksi apa Mas yang antar?" tanya Kayra memastikan.


"Tentu Mas yang akan mengantarkan kalian ke kontrakan. Keselamatan kalian lebih utama dari segalanya." David tersenyum gemas mencubit hidung Kayra pelan.


"Aku mencintaimu, Mas!" Kayra meraih tangan David lalu mengecupnya. Dia merasa sangat bersyukur memiliki suami yang penuh perhatian seperti ini.


"Aku pun sangat mencintaimu." David ingin sekali mengecup bibir sang istri. Namun, dia tahan karena merasa sungkan jika sampai orang lain melihatnya. Sebagai gantinya dia gantian mengecup tangan sang istri lembut.


Hati Kayra benar-benar menghangat merasakan sikap sang suami.


"Ya sudah, Mas mau ke dalam sebentar ingin meminta susternya mengurus jenazah Ibu dan bayinya Nayla sekalian. Jadi, nanti ketika dibawa pulang sudah dalam keadaan bersih. Dengan begitu, prosesi pemakaman tidak akan memakan waktu lama," pamit David tersenyum manis. Dia menjauhkan tangannya dari Kayra.


"Iya suamiku." Kayra tersenyum hangat.


David bergegas masuk ke dalam ruangan sambil mengutak-atik ponselnya. Pasti dia sekalian ingin mengabari orang di rumah Nayla soal ibu.


"Yuk, kita duduk di sana saja. Kaki Bunda capek dari tadi bolak-balik jalan," ajak Kayra menggandeng tangan Kaysa.


"Iya, Unda." Kaysa mengangguk.


Kini Nayla sudah dipindahkan ke dalam ruangan rawat inap. Dia yang baru sadar segera melihat sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan ibunya. Dia sama sekali belum tahu bahwa anak dan ibunya sudah pergi menghadap yang maha kuasa.


"Kok, sepi sekali? Kenapa Ibu tidak menemani aku di sini? Apa Ibu sudah tidak peduli denganku lagi? Entah kenapa dia malah lebih peduli terhadap wanita sialan itu? Ah!" ucap Nayla berakhir memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri akibat defresi. Dia langsung emosi jika mengingat kebaikan ibunya terhadap Kayra.


Tiba-tiba dia teringat dengan kehamilannya itu. Tangannya segera menyentuh bagian perutnya.


"Hah, kenapa sudah kempes? Apa aku benar-benar sudah melahirkan?" gumam Nayla bingung.


Di saat bersamaan datanglah seorang suster wanita hendak mengecek kondisi terbaru Nayla. Hal itu membuat pandangan Nayla langsung beralih melihatnya.


"Syukurlah, Ibu Nayla sudah siuman," sapa susternya tersenyum ramah. Dia mendekati ranjang Nayla.


Bukannya membalas sapaan dari sang suster, Nayla malah langsung to the point bertanya soal kehamilannya.

__ADS_1


"Ini kenapa kok perut saya sudah kempes? Apa saya sudah melahirkan?" tanya Nayla sangat penasaran. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar begitu saja.


"Iya benar sekali. Ibu, memang sudah melahirkan," jelas susternya masih tersenyum. Dia tak langsung menjelaskan soal kabar buruk bayinya.


"Jenis kelamin anak saya benar laki-lakikan? Kulitnya putih bersihkan? Wajahnya pasti sangat tampan sekali?" tanya Nayla tersenyum semangat. Jujur dia begitu senang mengetahui bahwa bayinya sudah lahir ke dunia.


"Iya benar sekali apa yang Ibu katakan itu. Bayi ibu berjenis kelamin laki-laki. Dia putih bersih dan sangat tampan," jelas susternya tersenyum sedih. Dia semakin tak tega ingin mengutarakan kabar duka itu pada Nayla.


"Wah, rasanya aku tidak sabar ingin melihatnya?" Nayla tersenyum bahagia. Namun, seketika senyumannya luntur saat melihat raut wajah sang suster yang berubah sedih.


"Hey, kenapa Suster malah sedih begitu? Apa terjadi sesuatu pada anakku?" tanya Nayla bergetar hatinya. Rasa cemas langsung merasuk ke jiwanya.


"Em, sebenarnya, anak ibu sudah tiada." Susternya tampak ragu sekali menyampaikan kabar duka tersebut. Dia menatap Nayla dengan perasaan bersalah.


"Hah, apa maksud Suster?" Nayla melebarkan matanya terkejut. Dadanya


terasa sesak dan nyeri.


"Tidak mungkin bayi tampanku telah tiada? Kenapa kalian tidak menyelamatkan nyawanya?" sambung Nayla menitikkan air mata. Dia kecewa berat mengetahuinya.


"Maaf Bu, kami tadi sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan bayi ibu. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tepat setelah dia berhasil dikeluarkan dari dalam rahim Ibu ... dia langsung menghembuskan napas terakhirnya," jelas susternya sangat sedih.


"Huwa!" Nayla berteriak histeris. Dia benar-benar terpukul.


"Kenapa harus aku yang selalu kehilangan? Ini semua gara-gara kamu, David? Aku sangat membenci kalian berdua!" teriak Nayla tersedu-sedu.


"Sabar, Bu! Ibu tidak boleh berkata seperti itu! Ini semua sudah takdir dari yang maha kuasa," nasihati susternya ikut menitikkan air mata karena ikut larut dalam kesedihan Nayla.


Nayla tidak meresponnya sama sekali. Dia masih tersedu-sedu menangisi nasibnya yang begitu buruk. Tiba-tiba dia teringat pada ibunya yang sejak tadi tak tampak batang hidungnya.


"Oh ya, apa ibu saya sedang mengurus pemakaman bayi saya sehingga tak ada di sini?" tanya Nayla memastikan.


Susternya menggelengkan kepala cepat.

__ADS_1


"Lalu, dia di mana sekarang? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Nayla sangat cemas. Dia teringat kondisi ibunya yang mengidap penyakit serangan jantung.


__ADS_2