
"Hisk, Mas ini ada-ada saja. Cup!" Kayra langsung mengecup kening suaminya sekilas.
"Kok, cuma itu saja," protes David lesu.
"Ini-ini-ini, belum!" tunjuk David pada kedua belah pipi dan bibirnya.
"Ih, apaan sih, Mas! Cup! Cup! Cup!" Kayra langsung mengecupi bagian-bagian yang diminta suaminya sambil tersenyum malu.
"Uh, kalau begini rasanya Mas jadi pingin ngasur saja," goda David tersenyum genit.
"Hisk, jangan mulai-mulai deh! Ini sudah siang loh," omel Kayra tersenyum gemas.
"Hey, bukan Mas loh yang mulai-mulai. Kan, kamu yang mulai-mulai membuat jiwa kelelakian Mas bangkit," goda David tersenyum genit. Dia menyentil hidung Kayra gemas.
"Mas, sudah siang loh," peringati Kayra lagi sambil tersenyum geli.
"Iya Sayang, Mas sudah tahu itu. Kalau ini masih malam nggak mungkin Mas siap-siap berangkat bekerja. Pastilah Mas sudah siap-siap bertempur di kasur sama kamu kayak semalam," bisik David tersenyum genit.
"Mas!" teriak Kayra cukup keras menegur suaminya yang semakin jahil.
"Iya-iya." David menjauhi telinga Kayra.
"Sekarang buat jagoan ayah ini jangan sering-sering rewel, ya? Kasihan sama bundanya yang harus repot mendiamkan jagoan ayah ini." David mengecup pipi gembul Davin sambil tersenyum gemas.
"Ya sudah. Mas, berangkat dulu! Ingat pintunya langsung dikunci! Jangan dibuka kalau ada orang yang tidak dikenal bertamu ke rumah. Kita kan masih baru di sini. Jadi, belum terlalu paham sama orang yang memang baik atau malah berniat jahat sama kita," pesan David tersenyum hangat.
"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati di jalan! Jangan ngebut-ngebut bawa motornya!" pesan Kayra gantian.
__ADS_1
"Tentu istriku tercinta. Bye!" David melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat.
"Bye!" balas istri dan putrinya tersenyum.
David melangkah mendekati motornya dan langsung nangkring di atas motor. Dia segera menyalakan mesin motornya. Lalu, pelan-pelan melajukan motornya. Kaysa dan Kayra terus menatap motor yang dikendarai David sampai benar-benar tak kelihatan lagi dari pandangan mereka.
"Yuk, kita masuk ke dalam," ajak Kayra tersenyum. Tangannya menggandeng tangan mungil Kaysa.
"Yuk," sahut Kaysa menurut.
Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah. Tak lupa menutup dan mengunci pintunya sesuai pesan David tadi.
Kini laju motor David sudah sampai di dekat lampu merah. Dia berhenti sejenak untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Tanpa diduga-duga, ada sepasang mata di dalam mobil dari arah yang sama terus mengintai dia. Posisi mobil itu terletak di belakang mobil lain, sehingga David tidak menyadari kehadirannya.
"Huh, akhirnya, kita bisa bertemu juga, Baby? Sepertinya, Tuhan sedang mendukungku. Sebaiknya, aku buntuti saja kamu. Kalau sudah tahu pasti tempat tinggalmu kan gampang merancang rencananya," gumam Nayla tersenyum licik.
Cukup jauh, Nayla membuntuti laju motor David. Akhirnya, David memasang lampu sen ke arah kanan jalan karena dia akan menggok ke depan bengkel bertuliskan nama Samsul itu.
"Astaga, berani sekali mereka membohongi aku selama ini. Mereka bilang kalau David sudah tidak bekerja lagi di sini," umpat Nayla geram.
Beberapa hari yang lalu, dia menyempatkan diri untuk mampir ke bengkel Pak Samsul untuk mengganti oli mobilnya sambil bertanya-tanya soal David. Mereka yang bekerja di sana membohonginya dengan berkata bahwa David sudah tidak pernah bekerja lagi di sana semenjak memutuskan berhenti.
"Huh, ternyata David memang sengaja ingin menghilangkan jejak dariku. Lihat saja kau David ... aku akan membuat hidup istri dan anak-anakmu semakin menderita saat kau tiada nanti," gumam Nayla tersenyum licik. Dia mempercepat laju mobilnya agar David tak melihatnya. Dia sengaja menyalip mobil yang ada di depannya. Lalu, bergegas pergi dari lokasi.
***
Di kediaman Damar, Ibu sedang duduk sambil melamun di kursi meja makan. Dia menunggu Damar keluar dari kamarnya. Dia terus teringat dengan sosok cucunya yang menghilang entah ke mana. Terakhir dia bertemu dengannya sebelum Kayra diperbolehkan pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Karena pusing memikirkan kepergian Damar, dia sampai lupa meminta alamat atau nomor telepon Kayra atau David. Jadi, dia benar-benar kehilangan jejak mereka.
Belum lagi celaan para tetangga saat bertemu dengannya di acara arisan mingguan. Mereka mempertanyakan soal keberadaan cucunya itu. Selama Kayla dimakamkan, mereka tak pernah tampak cucunya sama sekali sampai detik ini. Tentu saja hal itu menambah beban di pikirannya.
"Ehem, Ibu lagi melamuni apa sih? Kok, serius amat?" sapa Damar yang barusan hadir. Dia sudah rapi dan wangi. Rona wajahnya sudah bercahaya tidak seperti saat baru bangun tidur tadi.
"Eh, kamu sudah hadir, Nak? Ayo buruan dimakan sarapannya," titah Ibu tersenyum manis.
"Siap, Bu!" Damar mulai memasukan beberapa jenis makanan ke piringnya.
"Ngomong-ngomong, Ibu ini lagi ngelamuni apa? Jangan bilang masih ngelamunin almarhum Ayah? Ingat Bu, daripada dilamuni ... lebih baik didoakan saja biar arwah Ayah tenang di alam sana," ucap Damar menatap ibunya sambil tersenyum.
"Nggak kok ... Ibu nggak lagi melamuni almarhum Ayah. Ibu sedang berpikir saja," bohong ibunya Damar tersenyum tipis.
"Memangnya lagi mikirin apa toh? Kok, sampai serius banget?" tanya Damar tersenyum gemas.
"Tentu saja Ibu lagi mikirin masa depan anak ibu yang menduda ini," bohong ibunya Damar terkekeh.
"Hisk, apaan sih Ibu ini? Kuburan istriku saja belum mengering sudah mikirin masa depanku," sewot Damar tersenyum gemas.
"Ya nggak masalah dong! Kan, kalau kamu cepat menikah lagi ... Ibu segera ada yang menemani di rumah. Kalau kamu menunggu kuburan istrimu sampai benar-benar mengering yang ada Ibu kesepian mulu nih," ledek ibunya Damar terkekeh geli.
"Hisk, Ibu ini jangan begitu dong! Kan, ada Mbok Nem di rumah yang menemani Ibu kalau aku kerja. Apa nanti kata orang kalau belum-belum aku sudah menikah lagi? Mau ditaruh di mana citra anakmu ini?" jelas Damar mencoba membuat ibunya mengerti keadaan.
"Hem, baiklah, Ibu mengerti sekarang. Cuma para tetangga pada nanyain kok bayi yang katanya anaknya Kayla sama kamu nggak pernah diajak ke rumah ini. Masa dilepaskan begitu saja pada kembarannya? Kata mereka apa kamu dan Ibu tak ingin melihat perkembangannya," ucap ibunya Damar lesu.
"Hem, kenapa Ibu tak bilang pada mereka kalau bayi itu ikut menyusul ibunya meninggal. Dengan begitu pasti mereka tidak akan cerewet lagi bertanya hal-hal yang tidak penting itu," jelas Damar langsung kesal. Dia tak suka jika ibunya membahas soal anak itu lagi sama dia.
__ADS_1
"Astaga Damar! Tolong dijaga Nak, kalau berbicara! Ingat ucapan adalah doa! Kamu bisa bicara seperti itu karena belum melihatnya sama sekali. Ibu yakin jika kamu sekali saja melihatnya ... hatimu akan luluh dan bahkan rapuh jika mengingat kata-kata pedasmu ini," balas ibunya Damar menangis tersedu-sedu. Dadanya sesak. Hatinya terasa nyeri dan perih merasakan ucapan anaknya yang selalu saja tidak baik pada darah dagingnya sendiri.