
Kayra semakin terkejut mendengar kata ayah yang keluar dari mulut Damar. Keningnya mengerut dan matanya melebar sempurna. Namun, dia tak berbicara sepatah kata pun.
"Loh, tok, Om suluh adik pandil ayah sih? Tan itu adik atu, Om?" sewot Kaysa merasa aneh.
Damar seketika menghentikan aksinya. Dia bingung harus menjawab apa. Untungnya Kayra langsung menjawabnya agar Kaysa tidak banyak tanya lagi.
"Sayang, itu tandanya Om Damar sudah menganggap adik Davin seperti anaknya sendiri." Kayra mengusap pucuk kepala Kaysa sambil tersenyum hangat.
"Nah, iya benar sekali itu. Berhubung Om juga sayang sama Kaysa. Om ingin mulai hari ini Kaysa jangan panggil Om lagi ya. Tapi, Kaysa panggil ayah juga," sambung Damar menatap Kaysa. Bibirnya tersenyum manis.
"Dak au, ah." Kaysa menggeleng cepat. "Ayah atu cuma atuk ... Ayah David aja," tolak Kaysa tersenyum.
"Lah, kok, gitu sih? Memangnya, apa bedanya Om sama Ayah David?" tanya Damar cemberut.
"Beda dong. Ayah David tan, emang ayah atu. Talo Om tan, papah atu, hehe." Kaysa dengan wajah malu-malu segera bersembunyi di balik tubuh Kayra.
Kayra langsung melotot mendengar penjelasan putrinya yang suka ngawur itu.
"Astaga, kamu itu memang cerdas sekali Kaysa." Damar yang gemas sekali segera melangkah maju mendekati Kaysa.
Tentu saja Kayra langsung meringis karena merasa risih dan sungkan terlalu berdekatan dengan Damar.
Damar langsung berjongkok di dekat Kaysa.
"Baiklah, kalau Kaysa panggil Om, Papah. Berarti, Adik Davin panggil Papah juga dong?" Kaysa mengangguk patuh.
"Ya sudah. Sekarang Kaysa cium Papah dong sebelum berangkat ke kantor lagi," perintah Damar tersenyum gemas.
Cuppp!
Kaysa segera mencium pipi kiri Damar.
"Uh, anak cerdas. Nanti, Kaysa mau dibeliin apa kalau Papah kemari?" tanya Damar tersenyum.
"Em, atu pinin ayun-ayunan, Papah." Kaysa tersipu malu.
Kayra melotot lagi mendengar keinginan Kaysa yang aneh-aneh itu.
"Oke, nanti Papah suruh orang kemari membuatkan Kaysa ayun-ayunan." Damar tersenyum gemas. Lalu, berusaha bangkit dari jongkoknya.
"Eh, nggak usah, Tuan. Permintaan Kaysa jangan dituruti! Dia memang suka asal kalau bicara," cegah Kayra merasa tidak enak hati.
"Hem, aku nggak butuh penjelasan dari kamu. Jadi, sebaiknya, kamu jangan ikut campur," balas Damar lirih di dekat telinga Kayra.
__ADS_1
Deg! Ser!
Bulu kuduk Kayra langsung berdiri karena merinding. Hembusan napas Damar menerpa kulitnya. Kayra diam terpaku dan memejamkan matanya untuk menetralisir suasana hatinya yang campur aduk.
"Oh ya, nanti aku kemari lagi sama ibuku. Ini tolong kamu jaga Davin." Kayra mengangguk saja.
Damar segera menyerahkan Davin pada Kayra.
"Em, susunya Davin mereknya apa? Nanti, aku sekalian belikan?" tanya Damar datar.
"Davin, tidak minum susu formula. Dia hanya minum asi esklusif dari aku saja," jelas Kayra jujur.
"Oh." Damar segera beralih ke Kaysa lagi.
"Papah, berangkat sekarang ya? Nanti, Papah langsung pesankan ayun-ayunannya untuk Kaysa." Damar mengusap lembut pucuk kepala Kaysa.
"Telima tasih, Papah." Kaysa tersenyum senang. Akhirnya, dia punya ayunan juga. Beberapa hari ikut Kayra jualan keliling, matanya tak sengaja menangkap ayunan di depan salah satu pembeli.
"Sama-sama." Damar tersenyum gemas. Lalu, segera kembali ke mobilnya.
Kayra langsung menghela napas kasar.
"Baru kali ini aku bertemu sama orang berkepribadian ganda." Kayra menggelengkan kepala.
"Iya, Unda." Kaysa mengangguk. Rona wajahnya ceria sekali.
"Maafkan Bunda, ya? Karena belum bisa menyenangkan kamu, Sayang." Batin Kayra tersenyum sedih. Dia mengekori langkah putrinya yang masih saja kegirangan.
***
Baru saja Kayra menidurkan Davin, suara ketukan pintu rumah sudah terdengar. Pelan-pelan dia bangkit dari kasur karena ingin mengecek siapa yang berkunjung.
"Semoga saja itu, Mas David." Kayra tersenyum penuh harap. Dia selalu berasumsi bahwa setiap orang yang berkunjung ke rumahnya adalah David, suaminya. Walaupun kenyataannya itu hanya sebuah harapan saja. Sampai detik ini sang suami belum juga pulang ke rumah.
Sedangkan, Kaysa selalu sibuk dengan maha karyanya. Dia duduk manis di dekat kasur.
"Sayang, jagain Adik Davin dulu, ya? Bunda, mau ke depan sebentar melihat siapa yang bertamu?" ucap Kayra tersenyum gemas melihat apa yang dikerjakan putrinya.
Kaysa langsung mengangguk.
Bergegas Kayra meninggalkan anak-anaknya. Setibanya di depan pintu, dia mengintip dahulu sebelum membukanya. Hatinya kembali kecewa saat mengetahui bukan David yang datang. Melainkan, seorang sales pria.
"Pasti ini orang suruhannya Mas Damar," gumam Kayra segera membuka pintunya. Tampaklah pria berpakaian seragam tersenyum ramah.
__ADS_1
"Maaf, ini benarkan rumahnya Ibu Kayra?" sapa pria itu ramah.
"Iya benar sekali," balas Kayra tersenyum.
"Oh ya, kedatangan kami kemari ingin mengantarkan pesanan ananda Kaysa. Tadi, Pak Damar yang memesannya," sambung pria itu ramah.
"Oh," sahut Kayra tetap tersenyum.
"Ini ayunannya mau dipasang di mana, Bu?" tanya pria itu ramah.
"Em, sebentar, ya?" Kayra langsung celingukan memandangi setiap sudut depan rumahnya. Dia bingung mau meletakkan ayunan itu di mana.
Melihat Kayra yang kebingungan, pria itu langsung memberikan solusi.
"Maaf Bu, bagaimana kalau ayunannya dipasang di dekat taman bunga itu saja?" saran pria itu menunjuk ke arah taman bunga depan dinding kamarnya.
"Em ...." Kayra berpikir sejenak.
"Baiklah, pasang di sana saja," ucap Kayra tersenyum setuju.
"Siap, Bu." Pria itu segera melangkah kembali ke mobil menyusul temannya.
***
Sorenya tepat pukul enam belas, Damar benar-benar kembali bersama ibu dan Mbok Nem juga. Kedatangan mereka disambut riang Kaysa yang masih asik bermain ayunan ditemani Kayra dan Davin.
"Hore, Papah sudah datang!" teriak Kaysa bergegas turun dari ayunan dan berlari cepat menghampiri Damar.
"Eh, jangan lari gitu nanti terjatuh, Sayang!" peringati Kayra tersenyum getir. Lagi-lagi dia menghela napas menyambut kedatangan pria berkepribadian ganda itu. Dia seolah tahu kalau nanti pasti akan ada kata-kata pedas atau sindiran yang keluar dari mulut Damar untuknya.
Kaysa tidak menggubris, dia masih saja berlari dan langsung memeluk Damar dengan suka ria.
"Papah, telima tasih, ayunannya? Atu sayang sama, Papah." Kaysa tersenyum gembira.
"Syukurlah, Papah juga sayang sama Kaysa." Damar menyentuh pipi cabi Kaysa sambil tersenyum hangat. Diperlakukan seperti ini membuat hatinya terasa damai dan nyaman.
Melihat hal itu Bu Siska dan Mbok Nem langsung tersenyum haru.
"Oh ya, Adik Davin tadi nakal nggak?" sambung Damar tersenyum.
"Endak dong. Adik Davin tan masih bayi, jadi endak bisa natal. Dia cuma bisa nangis, hehe." Kaysa tersenyum geli.
"Em, kamu ini memang putri papah yang cerdas dan menggemaskan sekali." Damar segera menggendongnya. Lalu, mengecup pipi Kaysa gemas.
__ADS_1
Melihat keakraban Kaysa dengan Damar membuat hati Kayra merasa sedikit senang. Walaupun Damar suka ketus sama dia, tapi dengan anak-anaknya, Damar begitu menyayangi mereka.