
"Kalau menurutku sih, kita temani beliau sampai kondisi Nayla membaik. Hitung-hitung, kita balas budi sama ibunya Nayla. Habis itu kita mohon pamit kembali ke rumah kita," jawab Kayra tersenyum.
David merasa kurang setuju dengan usulan Kayra tersebut. Dia paham dengan karakter ibunya Nayla. Semakin lama mereka bersama. Maka, ibunya Nayla tidak akan rela melepaskan mereka begitu saja jika tahu anaknya itu bersikap baik terhadap mereka kembali.
Padahal itu hanya trik Nayla saja saat di depan ibunya dan David. Jika mereka berdua tidak ada, maka dia akan kembali berulah lagi seperti hari ini pada Kayra.
"Em, sebaiknya, kita jangan lama-lama di rumah sakitnya. Kamu kan tahu kalau di rumah sakit itu banyak berbagai macam virus penyakit. Kalau kita sih mungkin kebal, akan tetapi tidak dengan dua bocil itu. Mereka sangat rentan terserang penyakit karena kekebalan tubuh mereka masih lemah," tolak David.
"Em, kalau begitu, bagaimana kalau Mas saja yang menemani ibunya Nayla menjaga Nayla di rumah sakit?" saran Kayra tersenyum.
"Nggak mau," tolak David memasang wajah jutek.
"His, kok gitu, Mas? Memang, Mas nggak kasihan sama ibunya Nayla sendirian menjaga Nayla di rumah sakit?" tegur Kayra gemas dengan sikap suaminya.
"His, kau ini sulit sekali diberitahu. Mas, ini sudah lama mengenal mereka berdua. Jadi, Mas paham bagaimana karakter mereka masing-masing. Bahkan, Kayla pun tahu benar bagaimana karakter mereka. Asal kamu tahu, semakin lama Mas bersama mereka, akan semakin sulit Mas keluar dari sarang mereka. Pasti ibunya Nayla akan semakin ketergantungan sama Mas. Jadi, di saat anaknya membuat ulah seperti ini. Kita manfaatkan untuk keluar dari sarang mereka. Mas, yakin kalau ibunya Nayla pasti akan sangat mengerti dan menyesali perbuatan anaknya itu sudah sangat keterlaluan," jelas David panjang lebar agar istrinya mau mengerti.
"Oh begitu. Maaf, aku kan baru kenal mereka jadi aku nggak tahu apa-apa? Ya sudah. Aku menurut saja sama, Mas." Kayra tersenyum hangat.
"Good, itu baru istri yang pintar," puji David mengacungkan dua jempolnya lagi untuk Kayra sambil tersenyum.
"Ah, Mas, ini berlebihan sekali." Kayra tersipu malu.
"Itu tidak berlebihan, Sayang. Oh ya, bagaimana kalau kita jual saja rumah kita itu? Lalu, kita pindah ke rumah lain?" tanya David cemas.
"Loh, kok dijual, Mas? Memangnya, kenapa dengan rumah kita yang lama?" tanya Kayra bingung.
"Mas, takut kalau Nayla akan kembali berulah seperti dahulu jika tahu tempat tinggal kita. Soalnya, dulu Kayla sempat dilabrak sama dia. Untung saja Kayla itu pemberani. Jadi, Nayla kalah tanding sama kakakmu itu," sambung David cemas.
"Astaga, sampai segitunya sikap Nayla sama aku." Kayra langsung cemas.
__ADS_1
"Iya, dia memang seperti itu kalau sedang berambisi. Jadi, lebih baik kita mencegahnya sebelum kejadian. Mas, takut kalau kejadian ini semakin membuatnya murka sama kamu," jelas David cemas sekali.
"Baik, aku menurut saja sama Mas. Tapi, apakah mudah menjual rumah kita itu? Lalu, selama belum terjual, apa kita akan tetap tinggal di sana?" tanya Kayra gelisah. Dia ngeri membayangkan jika kecemasan David benar-benar menimpa dia dan anaknya.
"Em, selama belum laku terjual ... kita akan mengontrak dulu. Nggak apa-apakan?" tanya David tersenyum.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Yang terpenting kita dan anak-anak aman itu lebih pentingĀ dari segalanya," jelas Kayra tersenyum hangat.
"Sippp!" David tersenyum senang.
Kini Davin sudah tertidur lelap, Kayra segera bangkit dari posisinya. Dia berniat membantu sang suami beberes pakaian mereka.
"Sini biar aku yang lanjutkan. Sebaiknya, Mas urus tempat tinggal untuk kita saja," pinta Kayra tersenyum.
"Siap, istriku!" David mengecup pipi Kayra gemas. Lalu, segera mengerjakan apa yang diperintahkan istrinya yaitu mencari tempat tinggal sementara untuk mereka.
Sedangkan Kayra hanya tersenyum saja menerima perlakuan sang suami. Kemudian, mulai melanjutkan kerjaan sang suami tadi yaitu memasukkan pakaian mereka ke dalam tas koper.
Kini Kayra dan David sudah sampai di rumah kontrakan baru. Mereka sengaja mengutamakan urusan mereka terlebih dahulu sebelum berkunjung ke rumah sakit. Dengan begitu, mereka tak harus repot-repot membawa dua koper ke sana kemari.
David sengaja menyewa mobil pribadi milik mantan karyawannya di perusahaan Nayla untuk dia pakai mengantar mereka mencari kontrakan yang pas. Dia tidak mungkin menggunakan fasilitas keluarga Nayla lagi. Setelah memutuskan untuk berhenti berurusan dengan mereka.
"Bagaimana kontrakan ini kesempitan nggak?" tanya David memastikan kenyamanan sang istri sebelum memutuskan jadi atau tidaknya dia menyewa rumah berukuran minimalis itu.
"Nggak Mas, ini sangat pas kalau menurutku. Soalnya, jika terlalu besar akan repot dan lelah membersihkannya," jelas Kayra terkekeh geli.
"Ah, kamu ini bisa saja." David mencubit hidung Kayra gemas.
"Iya aku serius. Selain itu, anak kita kan sudah dua. Aku takut nggak bisa mantau Kaysa jika sedang bergerak aktif," jelas Kayra menatap serius sang suami.
__ADS_1
"Oke, aku paham istriku." David tersenyum hangat. Lalu, beralih menatap ke pemilik rumah.
"Kami jadi mengontrak rumah ini. Oh ya ini uang sewanya selama sebulan dahulu." David menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah pada pemiliknya sambil tersenyum.
"Iya, terima kasih banyak. Semoga kalian betah tinggal di sini, ya? Buat mbaknya jangan sungkan-sungkan main ke rumah? Orang sini paling suka kalau tetangganya bersosialisasi dengan baik," jelas ibu-ibu pemilik rumah tersenyum. Dia bernama Narsih.
"Aamiin. Iya, nanti aku akan sering-sering main ke rumah Ibu," sahut Kayra tersenyum ramah.
"Nah, itu baru bagus. Ya sudah. Ini kuncinya. Ibu tak pamit pulang dulu. Itu ada kurir langganan datang mengantarkan pesanan baju para tetangga." Bu Narsih memberikan kunci rumah pada David sambil tersenyum.
"Iya, silahkan, Bu." David menerima kunci rumahnya sambil tersenyum ramah.
Bu Narsih segera pulang ke rumahnya.
David buru-buru membuka kunci rumah untuk memasukkan barang bawaan mereka sebelum memutuskan ke rumah sakit.
"Sebaiknya, kamu ajak anak-anak ke mobil saja. Mas, saja yang masukkin barangnya ke dalam," perintah David menatap Kayra.
"Baik, Mas." Kayra mengangguk patuh.
"Ayo Sayang, kita ke mobil duluan!" Kayra menggandeng tangan Kaysa.
"Iya, Unda." Kaysa mematuhi ajakan bundanya sambil tersenyum senang.
Sedangkan, Davin masih tertidur pulas di gendongan Kayra. Kayra dan Kaysa segera melangkah ke mobil. Setelah sampai, Kayra segera membuka pintu mobil bagian depan.
"Ayo Kaysa masuk duluan! Hati-hati!" perintah Kayra tersenyum.
Kaysa mengangguk patuh. Dengan bantuan Kayra dia perlahan-lahan naik ke dalam mobil. Lalu, disusul Kayra juga.
__ADS_1
Tak lama kemudian, disusul David ikut naik ke dalam mobil karena sudah selesai memasukkan barang bawaan mereka ke dalam rumah.
"Ini kita mau langsung ke rumah sakit? Apa mau belanja kebutuhan dahulu?" tanya David sambil menyalakan mesin mobil.