
"Aku nggak jadi mengantuk kalau melihat wajah suamiku kusut kayak gini," jelas Kayra terkekeh gemas. Tangannya mengusap lembut wajah David.
"Tapi, sekarang aku yang mengantuk." David hendak bangkit. Wajahnya masih cemberut mengingat pil keluarga berencana yang hilang itu.
Namun, Kayra menahan dan langsung menimpa tubuhnya.
Otomatis David melotot karena terkejut mengetahui aksi Kayra.
"Yakin sudah mengantuk nih," goda Kayra mengedipkan matanya genit. Telunjuknya digerakkan di dada David. Tentu saja David langsung ser-seran. Tubuhnya merinding seperti tersengat listrik.
"Kalau gini sih, nggak jadi mengantuk. Ayo bangun! Kita cari pilnya sekarang," ajak David tersenyum semangat.
Kayra langsung menggeleng cepat. Dia malah membenamkan wajahnya ke dada David.
David semakin ser-seran tubuhnya.
"Hey, ayolah! Aku semakin tak tahan jika kamu menggodaku seperti ini!" David mengusap lembut punggung Kayra.
Kayra tersenyum geli. Bukannya bangkit dia malah menggambar dada suaminya.
"Ah, ayolah! Jangan seperti ini dulu! Apa kamu tak takut jika kita kebablasan nantinya," nasihati David memejamkan matanya.
"Aku nggak takut sama sekali," jawab Kayra santai. Dia masih saja menggambar dada David.
"Ah, jangan becanda, Sayang!" David yang semakin tak kuasa langsung membalikkan tubuhnya. Kini posisi mereka berganti. Kayra yang berada di bawah David.
Kayra langsung tersenyum geli. Dia paham kalau suaminya ini sudah sangat tak tahan.
"Kok, malah tersenyum, sih? Apa kamu sengaja ingin menggodaku?" David memainkan matanya sambil tersenyum gemas.
Kayra langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Ya sudah. Ayo kita cari pilnya! Kalau sudah ketemu baru kita lanjutkan!" David mengecup bibir Kayra sekilas, lalu hendak bangkit.
Lagi-lagi Kayra menahannya.
"Astaga, kamu ini memang sengaja menggoda Mas? Baiklah, mari kita mulai sekarang tanpa pil itu," ancam David menakuti Kayra. Dia sengaja memajukan wajahnya.
Bukannya takut, Kayra malah meladeninya dengan senang hati. Tangannya menarik kepala David dan membuat penyatuan di sana. Otomatis David melebarkan matanya bingung.
Dia hendak melepaskan penyatuan tersebut. Namun, Kayra menahannya. Terpaksa dia ikut meladeninya karena Kayra yang menginginkannya sendiri.
Merasa cukup dengan pemanasan tersebut. David sedikit ragu melanjutkan ke intinya karena tiba-tiba otaknya mengingat pil keluarga berencana itu lagi.
__ADS_1
"Kok, malah berhenti?" goda Kayra yang paham.
"Em, aku ragu." Terlihat jelas kecemasan di wajah David. Dia tak ingin menambah beban Kayra dengan membuatnya positif garis dua lagi.
Kayra langsung terkekeh geli.
"Hey, kenapa kamu malah tertawa sih? Aku jadi heran sama sikap kamu ini? Apa jangan-jangan ada udang di balik batu ini?" David tersenyum menyelidik.
Kayra hanya terkekeh saja.
Hal itu sudah cukup memberi penjelasan David.
"Ooo, mulai berani sekarang, ya?" tanya David sangat gemas.
Kayra malah semakin terkekeh. Bahkan, perutnya mulai sakit.
David yang sangat gemas langsung menghentikan kekehan Kayra dengan cara membungkam mulutnya dengan bibir. Dia kembali ********** lembut untuk melanjutkan penuntasan hasrat yang tertunda gara-gara kasus penipuan pil keluarga berencana. Tangannya juga mulai meraja lela menyentuhi apa yang dia suka.
Kayra semakin terbuai dengan aksi suaminya. Matanya terpejam menikmati sengatan-sengatan yang membuat tubuhnya bergetar nikmat. Dia terus menahan suara indahnya agar tidak lolos begitu saja. Sungguh dia sangat malu jika David sampai mendengarnya.
"Jangan ditahan! Loloskan saja! Itu membuatku semakin bergairah, Sayang!" titah David tersenyum genit.
Kayra langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan karena sangat malu.
"Kamu ini pakai acara malu-malu segala? Ayo jangan begitu! Mari kita habiskan malam ini dengan peluh-peluh cinta kita," ucap David tersenyum gemas.
David mulai menyempurnakan kegiatan mereka dengan membuang pakaian mereka jauh-jauh.
Malam ini benar-benar membuat tubuh mereka dihujani keringat. Tentu saja hal itu membuat David semakin bersemangat menjalani hari-harinya bersama istri dan anak-anaknya.
***
Tepat pukul setengah tujuh pagi, David dan Kayra belum juga membuka mata. Pasti mereka sangat kelelahan gara-gara adegan semalam.
Sedangkan, Davin sudah membuka matanya. Dia tampak tenang tidak menangis. Hanya terdengar suara celotehannya saja.
Tidur Kaysa terganggu karena mendengar suara celotehan sang adik. Dia membuka matanya. Lalu, duduk di atas kasur mengamati ayah dan ibunya yang masih tertidur pulas di bawah selimut yang sama. Semalam David malah ikut tertidur di kasur khusus Davin dan Kayra.
Mengetahui hal itu Kaysa langsung turun tangan. Dia merangkak mendekati ayahnya. Karena sangat kesal dia langsung memukul wajah ayahnya dengan tangan mungilnya.
Plak!
"Auwww!" David langsung meringis kesakitan. Tangannya mengusap lembut bagian yang dipukul Kaysa. Karena masih sangat mengantuk dia malas membuka matanya.
__ADS_1
"Ayah, akal bobok sini!" omel Kaysa marah karena tahu bahwa dia tidur sendirian semalam.
Deg!
Jantung David berhenti sejenak karena baru sadar kalau dia semalam ikut tidur di kasur Kayra dan Davin. Dia langsung membuka matanya. Tampaklah putrinya memasang wajah kesal. Dia buru-buru hendak bangkit namun tidak jadi karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Dia belum mengenakan apapun di tubuhnya sehabis pergulatan panas semalam. Kini dia sangat bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin dia keluar dari dalam selimut lalu memunguti pakaiannya di lantai yang berserakan.
"Aduh, matilah aku kalau sudah begini," batin David sangat bingung. Tangannya segera menggoyang-goyangkan tangan Kayra yang melingkar di perutnya.
"Apaan sih, Mas? Aku masih ngantuk banget nih? Memangnya Mas sudah nggak ngantuk apa? Kok, sudah bangun?" tanya Kayra masih memejamkan mata. Dia malas membuka matanya.
"Bukan begitu, ini Kaysa sudah bangun duluan," jelas David gelisah.
"Apa?" Kayra langsung terperanjak kaget.
Matanya terbuka selebar-lebarnya mencari keberadaan anaknya, Kaysa. Setelah melihatnya, dia ikut gelisah.
"Sekarang bagaimana ini? Kita kan belum pakai apa-apa?" tanya David lirih agar putrinya tidak paham.
"Semalam pakaiannya Mas lempar ke mana? Kok, di kasur nggak ada sehelai pun?" tanya Kayra panik. Tangannya mulai meneliti keberadaan pakaian mereka di dalam selimut.
"Pakaiannya Mas lempar asal. Pasti sekarang di lantai semua," jelas David meringis.
"Astaga, Mas ini benar-benar ceroboh. Lalu, bagaimana dengan nasib kita sekarang?" gerutu Kayra kesal.
Melihat perdebatan sengit kedua orangtuanya, jiwa penasaran Kaysa langsung timbul.
"Unda ama Ayah napa belantem?" tanya Kaysa cemberut.
"Tidak, Sayang! Bunda sama Ayah nggak berantem kok. Kami hanya sedang becanda saja," jelas David tersenyum meringis.
"Iyakan, Bun?" David menatap Kayra geli.
"Iya, Sayang. Oh ya, Bunda boleh minta tolong ng__" ucapan Kayra langsung dihentikan David.
"Hey, jangan macam-macam?" lirih David cemas.
"Macam-macam apa sih, Mas?" omel Kayra jadi kesal.
"Itu kamu mau minta tolong ambilkan baju kita, kan?" lirih David cemas.
"Ya enggaklah! Aku mau minta tolong Kaysa mengecek tukang sayur langgananku sudah datang apa belum? Dengan begitu kita aman," jelas Kayra lirih.
__ADS_1
"Owalah," ucap David cengar-cengir.
"Unda, sama Ayah ini napa sih? Aneh banet?" tanya Kaysa semakin penasaran dengan perilaku kedua orangtuanya.