Jodoh Tak Lari Ke Mana

Jodoh Tak Lari Ke Mana
Ayah


__ADS_3

"Oh, semoga saja rejeki kalian berdua lancar, aamiin." Semua pembeli ikut mengaminkan doa salah satu dari mereka untuk Kayra dan suaminya.


"Iya, aamiin. Terima kasih atas doanya." Kayra tersenyum lalu meneteskan air mata kesedihannya.


"Sama-sama. Kami bangga sekali dengan kalian berdua. Masih muda pada kompak mengais rejeki. Tidak seperti aku yang kerjanya cuma minta saja sama suami, hehe." Ibu itu tersenyum malu.


"Hehe, iya benar sekali itu. Apalagi posisi kamu sekarang masih merawat dua balita. Ini benar-benar hebat," sahut para pembeli tersenyum bangga.


"Ah, ibu-ibu bisa saja memujiku berlebihan begitu. Sebenarnya kalau bukan karena merasa kekurangan uang. Mungkin, aku juga tidak akan berbuat nekat begini, hehe." Akhirnya Kayra terkekeh untuk menghibur hatinya yang sangat sedih.


"Sabar, jerih payahmu ini pasti akan membuahkan hasil yang tak terhingga jika kamu ikhlas menjalaninya. Tuhan itu paling suka melihat hamba-Nya yang gigih dan tidak bermalas-malasan," sahut pembeli yang lain tersenyum hangat.


"Aamiin," sahut semuanya kompak.


"Ya sudah, kami pamit pulang dulu. Besok jangan lupa bawa gorengan tahunya dibanyakin. Jujur tahu isi buatanmu ini gurih dan enak," pesan salah satu pembeli.


"Iya, besok aku tambahin lagi tahunya." Kayra tersenyum senang.


Kini para pembeli sudah pergi meninggalkan Kayra.


Kayra segera bangkit sambil menenteng kotak jualannya.


"Alhamdulillah. Akhirnya, habis jualanku hari ini," ucap Kayra tersenyum senang.


Dia memperhatikan Damar dan anak-anaknya sejenak. Terlihat Damar begitu gemas mengecupi pipi gembul putranya. Sedangkan, Kaysa malah sibuk menikmati es cream. Entah kapan Damar membelikan es tersebut Kayra tidak tahu sama sekali karena terlalu fokus menjuali para pembeli.


Dia menghela napas sejenak. Ada keraguan di hatinya mendekati mantan kakak iparnya itu. Dia cemas akan bully-an Damar mengenai hidupnya yang terus-terusan miris. Namun, mengingat anak-anaknya dia terpaksa mengabaikan perasaan cemas tersebut. Pelan-pelan dia melangkah menghampiri mereka.


"Hey, kamu dapat es cream darimana, Sayang?" tanya Kayra basa-basi untuk meringankan rasa cemas di hatinya. Dia mendekati Kaysa.


Damar langsung menghentikan kecupannya. Dia melirik sekilas ke arah Kayra lalu kembali fokus menatap wajah Davin.


"Ini dali, Om Damal, Bun." Kaysa tersenyum senang.


"Oh." Kayra tersenyum.


"Oh ya, Kaysa sudah bilang terima kasih belum sama Om Damar?" tanya Kayra tersenyum. Tangannya mengusap lembut sisa es cream yang menempel di hidung Kaysa.


Damar langsung menghela napas kasar. Dia mencoba menetralisir suasana hatinya yang mulai kesal. Pertanyaan Kayra pada anaknya begitu lebai menurutnya.

__ADS_1


"Sudah, dong." Kaysa tersenyum senang.


"Anak pintar." Kayra tersenyum. Ujung ibu jarinya kembali mengelap sisa es cream di sudut bibir Kaysa.


"Kamu sudah selesaikan? Mari aku antar kalian pulang," tawar Damar tanpa menatap Kayra.


"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih banyak atas tawarannya," tolak Kayra menatap Damar. Dia pikir Damar memperhatikannya ternyata tidak.


"Tidak ada penolakan! Ayo kita ke mobil!" Damar segera bangkit. Tanpa mengembalikan Davin ke Kayra dia melangkah duluan.


Kayra langsung menghela napas kasar melihat sikap Damar.


"Ayo kita ikut Om pulang," ajak Kayra menatap Kaysa.


"Iya, Unda." Kaysa mengangguk lalu bergegas turun dari kursi.


Mereka berdua segera melangkah mengekori Damar. Begitu sampai di dekat mobil. Damar segera memberikan Davin pada Kayra. Kemudian, tangannya membuka pintu mobil bagian belakang.


"Cepat masuk!" perintah Damar dengan nada jutek tanpa menatap Kayra sama sekali.


Kayra mengangguk.


"Iya, Unda." Kaysa mengangguk lalu segera naik ke dalam mobil dibantu Damar.


Kini giliran Kayra yang hendak masuk ke dalam. Damar langsung berucap kembali memeringatinya.


"Hati-hati nanti kepala Davin kena pentok mobil," peringati Damar jutek.


Kayra mengangguk lalu pelan-pelan masuk ke dalam. Setelah Kayra duduk nyaman, barulah Damar menutup pintunya. Kemudian, dia berlari mengitari depan mobil dan masuk ke dalam mobil di bagian kemudi. Tanpa ada percakapan lagi, dia segera melajukan mobilnya ke arah berlawanan dengan arah rumah Kayra yang baru. Dia pikir Kayra masih tinggal di rumah lama.


"Maaf, sebenarnya Tuan salah arah. Aku sudah tidak tinggal di rumah lama," peringati Kayra sebelum laju mobil Damar semakin jauh.


"Astaga, lalu kalian tinggal di mana sekarang? Oh ya, kenapa David pergi meninggalkan kalian? Apa dia sudah muak hidup bersama wanita penuh tipu muslihat seperti kamu?" tanya Damar tersenyum mengejek.


Deggg!


Hati Kayra langsung terasa nyeri. Ternyata apa yang dia cemaskan akhirnya terjadi juga. Sebisa mungkin dia menahan air yang hendak lolos dari matanya.


"Maaf, tolong dijaga ucapannya. Ada Kaysa di sini. Tidak sepantasnya Kaysa mendengar semua ucapan Tuan," tegas Kayra tetap dengan nada sopan.

__ADS_1


"Ups, maaf aku lupa. Tapi, apa yang aku katakan itu memang benar bukan?" tanya Damar tersenyum mengejek.


Kayra bisa melihatnya dari pantulan gambar wajah Damar di kaca spion depan mobil.


"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang lebih baik Tuan putar balik jika memang ingin mengantar kami pulang. Rumah baru kami masuk ke jalan X sebelum lampu merah tadi," jelas Kayra masih dengan nada sopan. Seolah dia tak sedang kesal atau memendam amarah.


"Oh baiklah. Oh ya, untuk penjelasannya aku rasa tidak perlu ... karena jelas itu bukan urusanku," sahut Damar tersenyum mengejek.


Kayra kembali menghela napas kasar. Dia tak mengerti dengan jalannya pikiran Damar.


Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menitan. Kini mobil Damar sudah sampai di jalan menuju rumah Kayra. Begitu Kayra melihat rumahnya akan dilewati mobil Damar. Dia segera memberi aba-aba Damar agar tidak kelewatan.


"Maaf, yang hijau itu rumah kami," beritahu Kayra terus menatap ke arah rumahnya.


"Oke." Damar mengangguk.


Dia segera menepikan mobilnya tepat di pinggiran jalan depan rumah Kayra. Kayra segera membuka pintu mobilnya. Begitu pula dengan Damar. Mereka semuanya turun dari mobil.


"Terima kasih sudah bersedia mengantarkan kami," ucap Kayra sebelum melangkah.


"Tunggu sebentar," ucap Damar mempercepat langkahnya mendekati Kayra.


Kayra menghela napas lagi. Dia memejamkan matanya sejenak. Entah apa lagi yang akan diutarakan Damar untuk menyakiti hatinya.


"Kemarikan Davin," sambung Damar setelah sampai didekat Kayra.


Deggg!


Jantung Kayra otomatis berhenti berdetak sesaat. Matanya menatap nyalang Damar.


"Hey, kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku bukan ingin membawa pergi Davin. Aku hanya ingin menggendongnya sejenak," jelas Damar jutek.


"Oh, maaf." Kayra menghela napas lega. Ternyata dugaannya meleset.


Damar segera meraih pelan-pelan tubuh Davin dari gendongan Kayra. Dengan perasaan senang dan gemas, Damar kembali mengecupi seluruh area wajah Davin.


Kayra hanya tersenyum getir melihat aksi Damar. Dia tidak menyangka kalau Damar akan melakukan hal itu pada anak yang sempat Damar tolak kehadirannya.


"Em, Ayah pergi kerja dulu, ya? Nanti, Ayah kembali lagi kemari," ucap Damar tersenyum gemas.

__ADS_1


__ADS_2