
"Em, sebenarnya, beliau juga sudah tiada," jelas susternya dengan bibir bergetar.
"What, suster jangan mengada-ngada? Pasti itu tidak benar? Tidak mungkin ibuku ikut pergi meninggalkan aku?" tolak Nayla memegangi dadanya yang sesak dan perih. Matanya semakin berlinang.
"Saya tidak bohong, Bu. Memang beliau sudah tiada. Beliau terkena serangan jantung saat mengetahui bahwa rahim Ibu harus diangkat karena sudah rusak parah," jelas susternya sedih.
"What, kenyataan buruk apa lagi itu? Kenapa bisa rahimku rusak? Padahal aku hanya terjatuh saja. Sedangkan, dia yang tertabrak mobil sekeras itu malah tidak apa-apa? Maksud dari semua itu apa coba Tuhan? Tolong jelaskan padaku?" teriak Nayla histeris. Tangannya meremas rambut sekuat tenaga. Dia begitu defresi dan kalut merasakan penderitaan yang dialaminya.
"Sabar, Bu. Ini semua sudah kehendak yang maha kuasa. Terkadang memang seperti itulah yang terjadi. Setragis apapun sebuah kecelakaan, jika Tuhan masih melindungi ... pastilah orang tersebut akan tetap selamat dan pulih kembali. Sedangkan, dia yang hanya mengalami luka ringan malah bisa terenggut nyawanya jika Tuhan sudah berkehendak. Kita sebagai manusia memang tidak pernah tahu rencana Tuhan," nasihati susternya menitikkan air mata.
Mendengar nasihat dari suster bukannya membuat Nayla merasa tenang. Yang ada malah membuat Nayla semakin pusing. Hal itu membuat hatinya menjadi panas dan dikuasai amarah yang besar.
"Lebih baik, Anda keluar saja dari ruangan saya! Saya tidak butuh nasihat dari Anda yang malah semakin membebani jiwa saya!" bentak Nayla menatap sengit susternya.
Tentu saja aksi Nayla itu langsung menakuti susternya.
"Ma-maaf, Bu! Bukan itu maksud saya! Saya hanya__" penjelasan susternya langsung dipotong Nayla.
"Keluar!" teriak Nayla histeris.
"Ba-baik, Bu!" Susternya langsung langkah seribu dari ruangan Nayla.
Setelah kepergian susternya, Nayla langsung mengutuk orang-orang yang sudah terlibat dalam kejadian na'asnya.
"Awas kalian! Akan aku balas semua perbuatan kalian ini padaku! Huwaaa!" teriak Nayla histeris.
***
Di rumah sakit lain, seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi mendampingi sang suami yang kondisinya sedang kritis di atas ranjang rumah sakit. Ternyata di balik ketabahan sang suami terhadap masalah besar yang baru-baru ini menimpa keluarga besar mereka. Tersimpan beban pikiran yang teramat dalam di relung hati sang suami.
Dia jatuh sakit karena tak kuasa lagi menampung semua beban itu. Penyakit hipertensi yang diderita sejak beberapa tahun belakangan ikut andil menggerogoti tubuhnya yang renta itu.
"Ayah, bangun dong! Jangan terus-terusan tidur begini. Sudah dua hari Ayah tidak bertegur sapa sama Ibu. Apa Ayah tidak kasihan sama Ibu yang sangat kesepian ini?" Ibunya Damar tersedu-sedu.
__ADS_1
Tangannya menggenggam erat jemari sang suami. Dia terus berusaha membangunkan sang suami. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Sang suami masih saja nyenyak dalam tidur panjangnya.
Di saat bersamaan pintu ruangan dibuka seseorang. Ibunya Damar segera menengok ke arah pintu. Bibirnya sedikit melengkung ke atas saat mengetahui siapa yang datang.
"Ibu!" Damar berjalan cepat mendekati ibunya. Dia segera bersimpuh di pangkuan sang ibu. Air mata mengalir begitu deras dari matanya. Rasa penyesalan menggerogoti jiwanya.
"Syukurlah, kamu mau pulang, Nak!" Tangan ibunya Damar mengusap lembut punggung anaknya sambil terisak-isak. Ada rasa senang dan bahagia bisa melihat anaknya kembali.
"Tentu Damar akan pulang, Bu. Maafin Damar yang sudah egois ini? Gara-gara Damar, kondisi Ayah jadi drop begini?" ucap Damar tersedu-sedu.
"Sudahlah, jangan bahas masalah itu lagi. Lebih baik, kita perbanyak doa agar Ayah bisa segera bangun dan pulih lagi seperti sedia kala," balas ibunya Damar tersedu-sedu. Dia sudah malas membebani pikirannya dengan hal-hal yang lalu.
"Baik, Bu." Damar mengeratkan pelukannya di perut sang ibu.
"Ayo lepaskan pelukanmu! Lebih baik, kamu ajak bicara Ayah saja biar dia segera bangun! Pasti dia senang kalau tahu kamu sudah pulang lagi ke Indonesia," pinta ibunya Damar tersenyum tipis.
"Baik, Bu." Damar segera melepaskan pelukannya itu. Lalu, bangkit dan berganti memeluk tubuh ayahnya.
"Ayah, maafin anakmu yang bodoh ini? Aku akui memang aku ini terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan kalian. Kemarahan dan kebencian di hati ini tak mampu dikalahkan oleh apapun. Termasuk nasihat dari kalian. Aku berjanji akan mendewasakan pemikiranku agar bisa mengatasi semua masalah dengan kepala dingin," ucap Damar tersedu-sedu.
Di saat bersamaan mata Ayah mulai terbuka. Ibu dan Damar belum ada yang tahu. Ibu terlalu fokus memandangi aksi Damar yang mengharukan itu. Bibir Ayah melengkung tipis melihat Damar masih memeluknya sambil menangis. Tangannya bergerak ke atas hendak mengusap pundak Damar.
"Ayah!" teriak Ibu sangat senang melihat tangan Ayah bergerak.
Damar langsung bangkit saat mendengar suara teriakan Ibu.
"A-ayah kenapa, Bu?" tanya Damar cemas. Dia menoleh ke belakang menengok ibunya yang sedang tersenyum haru. Matanya menatap ke arah Ayah.
Melihat hal itu Damar ikut menoleh ke arah wajah Ayah. Bibirnya melengkung melihat sang Ayah sudah membuka matanya.
"Syukurlah, Ayah sudah siuman?" Damar memeluk ayahnya kembali karena terlalu gembira.
Dengih!
__ADS_1
Tiba-tiba napas Ayah ngap-ngapan. Dadanya juga terangkat ke atas.
Melihat hal itu, Ibu langsung berteriak panik. Perasaan takut seketika menyirnakan senyumannya yang sempat bahagia melihat suaminya sudah siuman.
"Ayah!" Ibu segera berlari ke arah pintu untuk meminta bantuan.
Sedangkan Damar segera bangkit dari posisinya ikut panik karena merasakan pergerakan tubuh ayah yang tidak stabil.
"A-ayah kenapa? Maafkan Damar? Damar tidak sengaja memeluk Ayah seerat itu." Damar terlihat kebingungan sekali. Dia bergerak ke sana kemari.
"Da-damar!" panggil Ayah masih dengan napas ngap-ngapan. Tangannya mencengkeram dada kuat.
"I-iya, Yah! Damar di sini!" Damar mendekat.
"Ayah harus kuat ya! Sebentar lagi dokter akan datang kemari!" Damar memegang tangan Ayah yang satunya. Lalu, mengecupinya. Air matanya kembali mengalir. Dia sangat takut dan prihatin merasakan kesakitan yang ayahnya rasakan.
"Pa-panggil, I-bu! A-yah ti-dak bu-tuh dok-ter," ucap Ayah terbata-bata. Pembulu darahnya semakin menyempit. Hal itu membuat dia semakin kesulitan bernapas.
"Baik!" Damar semakin teriris hatinya.
Ayah berusaha untuk tersenyum. Dia senang dengan kembalinya sikap Damar yang patuh.
"Bu, cepat kemari!" teriak Damar panik menatap ibunya yang masih di depan pintu berteriak juga memanggil-manggil dokter.
Awalnya, Ibu tak mendengar.
"Bu!" Namun, ketika Damar mengulanginya lagi dengan menambah volume suaranya.
Ibu segera menghentikan teriakannya.
"Kenapa, Nak?" tanya Ibu menengok ke arah Damar dan Ayah.
"Cepat kemari, Ayah ingin berbicara!" beritahu Damar panik. Tangannya masih menggenggam erat jemari tangan Ayah. Ketakutan semakin membubuhi hatinya.
__ADS_1
"Ba-baik!" Ibu segera kembali menghampiri ranjang Ayah.